header-wrapper { background:#ffffff URL(/images/banner.png); height:240px; width:600px; margin:0 auto 0px; border:0px solid $bordercolor; }

Dakwah Online Fenomena Beragama 4.0

Source: facebook A. Karomi Oleh  Achmad Murtafi Haris* Belakangan banyak dibahas tentang geliat dakwah online. Pertanyaan muncul ...

Source: facebook A. Karomi
Oleh 
Achmad Murtafi Haris*

Belakangan banyak dibahas tentang geliat dakwah online. Pertanyaan muncul tentang efektifitas dakwah model tersebut dan sejauh mana ia berbuah sesuai yang diharapkan dari proses dakwah virtual itu. Pembahasan tentang hal ini bisa menggunakan beberapa  pendekatan. 

Ia bisa didekati secara ilmu komunikasi dan membahasnya secara runut dari aspek komunikator (da’i/ustaz), komunikan (mad’u/audience/jamaah yang diceramahi), pesan (materi dakwah online), media (online), dan respons (pengaruh). Bisa juga didekati secara sosiologis dengan menggunakan teori Strukturalisme Transendental seperti yang dilakukan  Kunto Wijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid (2001). 

Penulis memandang bahwa fenomena Dakwah Online saat ini adalah aksentuasi dari obyek telaah kritis Kunto Wijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid. Dibandingkan tahun 2001 saat tulisan itu muncul, apa yang terjadi kini jauh lebih nyata. Kunto menyebut Muslim Tanpa Masjid (MTM) menunjuk pada kelompok mahasiswa demontrans yang menentang keberlanjutan BJ. Habibibe sebagai presiden RI pada sidang MPR, Oktober 1999. 

Mereka disebut demikian karena aksi demo mereka tidak start dari  masjid seperti lawan mereka, pendukung Habibie yang berangkat dari Masjid Sunda Kelapa. Meski tidak start dari masjid, sebagian dari mereka tergolong taat beragama terbukti mereka  mengadakan shalat jamaah di lahan parkir Universitas   Katolik Indonesia (UNIKA) Atmajaya. 

Kunto ingin menunjukkan bahwa umat Islam tidak hanya mereka yang dekat dengan simbol-simbol Islam seperti masjid, pesantren atau partai Islam, tapi juga mereka yang tidak beridentitas Islam dari kalangan Nasionalis pengikut Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan Patai Komunis Indonesia (PKI) yang juga muslim.  

Munculnya aktifis Islam kampus di era delapan puluhan, terutama di kampus ternama, juga menunjukan lepasnya mereka dari kordinat dakwah masjid. Oleh mereka yang berpatron kyai dan pesantren, aktifis Islam kampus sering disebut dengan Santri Anyaran atau santri baru yang gairah keislamannya baru muncul setelah berada di kampus. 

Sebelumnya, mereka biasa saja atau bahkan tidak tergolong santri, muslim yang taat agama. Materi pengajian yang mereka gunakan bukanlah materi seperti yang ada di masjid masyarakat, tapi dari sumber kelompok Islam transnasional seperti Ikhwanul Muslimin Mesir atau Hizbut Tahrir Libanon. 

Fakta ini setidaknya Menunjukkan, bahwa faham Islam yang dianut oleh MTM Kampus tidaklah sama persis dengan apa yang dianut oleh masyarakat muslim Indonesia pada umumnya. Suatu hal yang tidak positif bagi dakwah Islam manakala terbukti memperlemah kohesifitas umat Islam khususnya dalam berbangsa dan bernegara.

Kini, di era Alaf Tiga atau era ekonomi 4.0, Muslim Tanpa Masjid (MTM) bermetamorfosa dalam wujud maya. Tidak seperti pengajian kampus yang ekslusif yang berkumpul secara fisik, kini pengajian itu bermutasi menjadi grup dalam bentuk akun Instagram atau twitter  dengan followernya, akun Youtube dengan subscribernya, akun Facebook dengan friendnya dan akun grup Whatsapp dengan anggotanya. 

Mereka yang tidak bertemu secara fisik itu, meramaikan pelbagai isu di dunia maya dan menjadikan mereka sangat sibuk bahkan melebihi era sebelumnya. Mengapa demikian, karena kesibukan dan ketegangan sejatinya adalah aktivitas mental dan bukan fisik. Fisik boleh berhenti bergerak tapi otak terus berfikir terbawa arus perbincangan seputar isu sosial-politik keagamaan yang muncul pada gadget yang nyaris tidak lepas dari genggaman. Kelompok dakwah medsos ini jarang yang berafiliasi ke masjid. 

Mereka membentuk sel-sel yang kadang tersambung dan kadang tidak dengan yang lainnya. Ada yang aktif dan ada yang lepas, pokoknya bebaslah. Materi  agama yang dikaji juga tidak terstruktur secara ketat, tapi hanya berupa cuplikan-cuplikan yang dianggap memenuhi kebutuhan dan secara langsung menyentuh emosi viewer. 

Dengan model seperti ini adakah target pemahaman keagamaan yang baik yang bisa dicapai. Tentu hanya sebatas cuplikan dan bukan pemahaman yang utuh tentang ajaran Islam. 

Untuk itu, pembelajaran agama secara utuh tetap dibutuhkan melalui pengajian masjid kampung. At least melalui Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ/TPA) atau pendidikan agama di pendidikan formal. Dakwah medsos dengan karakter praktis dan simpel hanya tepat untuk mereka yang sudah punya dasar. Jika tidak, maka orang cenderung seenaknya dalam beragama. Dia belum memiliki struktur untuk diisi dengan materi macam-macam yang berkeliaran di medsos. Tidak mustahil dia akan terbawa oleh kecenderungan yang tidak sesuai dengan natur agama. 

Seperti, agama menekankan pada kepatuhan dan konsistensi bukan pada rasionalitas. Sementara sang penjelajah internet sekedar memilih konten-konten yang sesuai nalar dan emosinya. Jika dia cukup bijak dalam menyikapi aneka konten yang berbeda dan kadang berseberangan, tentu hal itu fine. Jika tidak, maka dia sangat mungkin menjadi pribadi yang labil dalam beragama. Mudah terombang-ambing oleh ajakan kelompok yang tidak membuatnya kaya  secara wawasan dan pergaulan tapi malah miskin dan antisosial. Menjadi pengikut setia kelompok tertentu dan mmemisahkan diri dari masyarakat tanpa menyadari bahwa dia sedang menjadi katak dalam tempurung. 

Untuk itu dakwah online perlu memperhatikan aspek kompetensi sang pembuat konten. Dan lembaga Islam yang mapan yang banyak menghimpun para ahli agama harus menguasai dunia virtual itu atau mereka akan dilibas oleh para kreator konten agama di dunia maya meski dengan kapasitas yang kurang memadai. 

* Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

COMMENTS

Name

Arsip,19,artikel,186,Buku,5,Fiksi,4,kajian perempuan,3,kitab,15,lombakisah,12,manuskrip,9,peristiwa,117,prestasi,11,rehat,36,resensi,13,testimoni,39,tokoh,91,
ltr
item
Halaqoh: Dakwah Online Fenomena Beragama 4.0
Dakwah Online Fenomena Beragama 4.0
https://1.bp.blogspot.com/-AMVv2OtdJgg/Xq3fiTSJZHI/AAAAAAAAEAQ/jtQbonFcVVU6wvks7jRjTmMBF4gm0APOQCLcBGAsYHQ/s400/IMG_20200503_035412.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-AMVv2OtdJgg/Xq3fiTSJZHI/AAAAAAAAEAQ/jtQbonFcVVU6wvks7jRjTmMBF4gm0APOQCLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20200503_035412.jpg
Halaqoh
https://www.halaqoh.net/2020/05/dakwah-online-fenomena-beragama-40.html
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/2020/05/dakwah-online-fenomena-beragama-40.html
true
2194765370271214888
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy