header-wrapper { background:#ffffff URL(/images/banner.png); height:240px; width:600px; margin:0 auto 0px; border:0px solid $bordercolor; }

Kiai NU dan Rokok

Oleh: Wasid Mansyur* Dalam lintasan sejarah pesantren, khususnya di pulau Madura, mengenal sosok KH. Muntaha Jengkebuen Bangkalan atau...



Oleh: Wasid Mansyur*

Dalam lintasan sejarah pesantren, khususnya di pulau Madura, mengenal sosok KH. Muntaha Jengkebuen Bangkalan atau juga dikenal dengan panggilan Ndoro Thaha adalah sangat penting sebab beliau akan mempertemukan kita dengan cerita  kiai-kiai lainnya, dari para penggerak Aswaja al-Nahdliyah (NU) dalam ruang gerak tradisi pesantren di sekitar Madura dan Nusantara pada umumnya.

Tapi, sayang sekali sosok Ndoro Thaha sangat sulit ditemukan jejaknya secara utuh. Yang ada hanyalah serpihan-serpihan cerita beliau yang ditulis oleh beberapa teman sejaringan Ulama Nusantara. Padahal, ketokohan Ndoro Thaha sulit disangsikan sebab beliau selalu hadir dalam setiap momen pertemuan akbar NU diawal perintisan dan perjuangan di kantor Hoofdbestuur NU Surabaya bersama KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah dan lain-lain.

Ndoro Thaha adalah mewakili poros Karesidenan Madura dalam setiap rapat NU dalam menyikapi problem kebangsaan dan keagamaan; tepatnya kontestasi ideologis dengan Wahabi. Dan tulisan ini, hanya  coretan singkat tentang bukti kealiman beliau dalam lingkaran jejak ulama Nusantara dan bagaimana beliau berdakwah dalam lingkup tradisi lokal.

Kiai NU dan Rokok

Satu hal menarik dari Kiai NU adalah ketegasannya, sekaligus kelenturannya dalam menyikapi tradisi lokal. Begitu juga sosok Kiai Muntaha yang selalu sangat hati-hati dalam memberikan hukum dan dipandang allamah dalam menyikapi hukum tentang kebiasaan masyarakat lokal. Salah satunya pandangan beliau tentang kebiasaan merokok.

Menariknya, ngopi dan merokok adalah beberapa kebiasaan--selain pecel, sambel terong--para Kiai NU seperti KH. Wahab Chasbullah, KH. Mahrus Ali Lirboyo, KH. Ihsan Dahlan Jampes, KH. Ahmad Djazuli, Syekh Yasin Padang, KH. Sahal Mahfudz, Habib Lutfi, dll.

Sebagaimana diceritakan menukil penjelasan KH. Barizi Lanbulan Sampang dalam bukunya Fath al-Ilah al-Mannan: suatu ketika Kiai Muntaha pulang ke Sumenep dan kembali ke Bangkalan dengan naik kereta api, beliau sempat bertemu dengan seorang yang duduk di dalam kereta api, persis di samping beliau.

Ketika itu, terjadilah Dialog Kiai Muntaha dengan laki-laki itu, yang konon adalah Santri Pamekasan, sebagaimana berikut: Kiai Muntaha mengawali dialog;

Kiai Muntaha: Monggo rokok kang Mas? 
Santri: terima kasih pak rokoknya. Saya tidak terbiasa merokok.
Kiai Muntaha: kenapa anda tidak merokok? Apakah karena dokter atau karena hukum syar'i? 
Santri: saya ini orang awam. Tapi jika ingin tahu tentang hukum merokok, aku akan bertanya kepada Kiai Muntaha dari Jengkebuen Bangkalan, sebab beliau dikenal sebagai ulama allamah yang paham betul hukum merokok (dia tidak tahu kalau lawan bicaranya adalah Kiai Muntaha)
Kiai Muntaha: saya adalah Muntaha sebagaimana anda kenal.

Tanpa berpikir panjang (sambil menutupi rasa malu), santri Pamekasan yang duduk berdampingan seraya bersalaman penuh hormat sebagaimana menjadi tradisi santri pesantren dan terdiam membisu.

Lantas Kiai Muntaha berkata: jika orang terbiasa merokok, maka ia tidak akan berhenti dari merokoknya kecuali jika ada salah satu dari tiga hal, yakni mendapat taufiq atau pertolongan dari Allah Swt, disebabkan sakit, dan bersumpah untuk tidak merokok lagi. 

Jadi, dari dialog Kiai Muntaha dengan santri Pamekasan menunjukkan bahwa Kiai Muntaha adalah perokok, sekaligus beliau tetap sadar untuk memberikan tips-tips agar terhindar dari rokok, dengan kesadaran tanpa paksa. Baginya membagi ilmu adalah keniscayaan. Sementara hukum merokok tidak tunggal.

Dialog di atas juga menunjukkan bahwa masyarakat Madura sangat menghormati kiai. Bahkan posisi kiai selàlu dijadikan bimbingan dan rujukan dalam berkehidupan, khususnya dalam urusan agama sebab mereka sangat dekat dengan kultur religius. Jika kemudian ada pergeseran sikap sebagian masyarakat Madura terhadap kiai, maka sangat mungkin adanya faktor eksternal yang merubah mental, bisa jadi karena fanatisme pilihan politik atau karena efek berada di era post truth dengan warna-warni fasilitas medsos.

Akhirnya, perokok adalah manusia sebagaimana yang lain. Dan dari Kiai Muntaha kita diajari untuk peduli pada sesamà, termasuk tetap santai dan penuh tawadhu'. Dengan begitu kita  merasa tidak ada jarak, sekalipun status sosial berbeda sehingga komunikasi dakwah dengan orang lain bisa cair dan penuh berkah. Semoga. Amin
____________
*Wakil Ketua PW LTNNU Jatim.

COMMENTS

Name

Arsip,14,artikel,157,Buku,2,Fiksi,4,kitab,10,lombakisah,11,manuskrip,8,peristiwa,115,prestasi,11,rehat,28,resensi,11,testimoni,33,tokoh,72,
ltr
item
Halaqoh: Kiai NU dan Rokok
Kiai NU dan Rokok
https://4.bp.blogspot.com/-53cu2nVjPys/XKayIFjCXlI/AAAAAAAAQUo/xKt9T8FAzOU9Hmmu7LqdnEUa-UihgUjugCLcBGAs/s640/Kolase%2BFoto_UASjLT.png
https://4.bp.blogspot.com/-53cu2nVjPys/XKayIFjCXlI/AAAAAAAAQUo/xKt9T8FAzOU9Hmmu7LqdnEUa-UihgUjugCLcBGAs/s72-c/Kolase%2BFoto_UASjLT.png
Halaqoh
https://www.halaqoh.net/2019/04/kiai-nu-dan-rokok.html
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/2019/04/kiai-nu-dan-rokok.html
true
2194765370271214888
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy