header-wrapper { background:#ffffff URL(/images/banner.png); height:240px; width:600px; margin:0 auto 0px; border:0px solid $bordercolor; }

Saatnya Menemukan Jati Diri

Oleh: Mustaufikin* Menjadi Manusia Rohani adalah buku yang ditulis oleh kiai muda NU, Ulil Abshar Abdalla yang belakangan rutin mengkaj...


Oleh: Mustaufikin*

Menjadi Manusia Rohani adalah buku yang ditulis oleh kiai muda NU, Ulil Abshar Abdalla yang belakangan rutin mengkaji tasawuf dengan mengadakan pengajian kitab Ihya Ulumuddin melalui media sosial.

Di dalam buku ini Gus Ulil, sapaan akrabnya juga mengulas tema tasawuf yang ada di dalam kitab al-Hikam, karya ulama besar Ibnu Atha’illah dengan menterjemahkan 50 bait dari total 264 bait. Yang perlu dipahami, meskipun isi buku bermuatan tasawuf yang tergolong bacaan berat, tetapi penulis menjelaskannya dengan jelas dan gamblang, mudah dipahami bahkan oleh orang yang belum kenal kajian tasawuf. Hal tersebut karena Gus Ulil menjelaskannya dengan menggunakan bahasa sehari-hari, dan memberikan contoh pada kehidupan sehari-hari.

Gus Ulil menjelaskan setiap mutiara hikmah Ibnu Atha’illah dengan menggunakan dua penafsiran, yaitu penafsiran umum yang bisa dipakai dan dipahami oleh setiap orang, dan penafsiran khusus bagi mereka yang biasa dengan kajian tasawuf. Pembagian ini sangat memudahkan bagi pembaca untuk mencerna setiap penjelasan dari setiap mutiara hikmah Ibnu Atha’illah yang terkenal padat dan sarat akan makna di dalamnya.

Setelah selesai menikmati satu per satu bagian dari buku ini, banyak hal menarik yang didapatkan di dalamnya, salah satunya adalah bisa menjadi otokritik bagi para pembacanya. Buku ini seperti buku tasawuf lainnya, cenderung mengajak orang untuk membaca realitas di dalam diri, kemudian melakukan kritik ke dalam, yang ujungnya bisa mempengaruhi pembaca sehingga bisa melakukan perubahan perilaku, agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Membaca tiap mutiara hikmah Ibnu Atha’illah yang Gus Ulil jelaskan di dalam buku ini seperti sedang membersihkan hati yang kotor penuh noda. Dengan membaca buku ini semua kotoran itu serasa ikut dibersihkan walaupun rasanya sakit, malu dengan diri sendiri dan yang paling penting adalah semangat untuk terus memperbaiki diri.

Ada satu ungkapan yang sangat mengena pada bagian #37 buku ini yaitu:
“kegigihanmu untuk meneliti aib dan kelemahan yang tersembunyi dalam dirimu, jauh lebih baik daripada kegigihanmu untuk mengetahui pengetahuan-pengetahuan rahasia yang tersembunyi dari”.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa kritik ke dalam itu jauh lebih penting, bahkan jika dibandingkan dengan pengetahuan yang tersembunyi. Apalagi kalau hanya dibandingkan dengan kritik ke luar artinya mengkritik orang lain bukan dirinya, seperti yang sekarang ramai di media sosial, banyak orang saling kritik satu sama lain dengan tajam dan penuh semangat, tapi entah apakah kritik itu juga mereka alamatkan ke dalam diri mereka sendiri, padahal itu yang jauh lebih penting.

Pembahasan lain yang menarik adalah bagian #24 yaitu: “jangan tunda pekerjaanmu!” Membaca bagian seperti mendapat kritik tajam, sangat mengena, dan membuat diri harus diam sejenak melihat ke dalam diri sendiri. Karena menunda pekerjaan adalah penyakit akut yang hampir dimiliki setiap orang. Tiap orang yang membaca buku ini  pasti akan tersadar bahwa menunda pekerjaan adalah tanda bahwa jiwa masih kotor, bukan semata faktor kemalasan atau kesibukan. Jika malas mengerjakan suatu pekerjaan dan menundanya, itu berarti ada penyakit yang bersarang di dalam jiwa dan harus segera diobati dengan tidak menunda pekerjaan lagi.

Bagian lain di dalam buku ini yang tak kalah membuat semakin hina adalah bagian #27, “curigailah doamu!”  Bagian ini benar-benar mengajarkan bagaimana memaknai hakikat doa dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan kita sehari-hari. Selama ini mungkin banyak orang termasuk peresensi yang salah dalam memosisikan dan menggunakan doa. Sepertinya doa digunakan sebagai senjata untuk nodong dan memeras Tuhan agar memenuhi apa yang kita inginkan.

Kita berdoa dengan sungguh-sungguh biasanya jika ada hal yang kita inginkan, ada maksud dan tujuan tertentu. jika tidak, biasanya kita malas berdoa. Selain itu dalam hati juga masih ada perasaan untuk memaksa Tuhan  untuk mengabulkan doa, bahkan jika tidak dikabulkan,  terkadang menyalahkan Tuhan, mengatakan bahwa Ia tidak tahu terhadap kondisi kita, tidak mengerti betapa menderitanya kita, bahkan ada yang sampai membei ancaman kepada-Nya. Di bagian ini Gus Ulil memberikan pencerahan, bahwa hakikat doa itu bukan hanya untuk meminta.

Di bagian#6 dijelaskan bahwa doa bukanlah untuk meminta tapi adalah bagian dari ibadah, atau jika ditafsirkan doa adalah hakikat dan bukti bahwa kita adalah hamba, yang fakir, yang lemah, yang tidak berdaya di hadapan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, kita harus berdoa, sebagai bukti penghambaan, bukan sebagai alat untuk memaksa-Nya menuruti keinginan kita. Penjelasan ini adalah kritik tajam yang selama ini menjadikan doa sebagai pedang untuk “mengancam” Tuhan.

Berdoa bukanlah meminta untuk meminta, tapi meminta untuk melaksanakan kewajiban, tanpa pamrih permintaannya harus dikabulkan. Ketika Tuhan mau mendengarkan doa seorang hamba, itu sudah menjadi anugerah besar tanpa harus mengabulkannya. Bahkan keinginan tulus untuk berdoa itu juga anugerah dari Tuhan, karena banyak orang yang hatinya keras, mati, sehingga tidak tergerak untuk berdoa, merintih, dan memohon ampun kepada Tuhan.

Doa merupakan rintihan hamba untuk Tuhannya, tapi keinginan yang terbesit di dalam hati untuk berdoa adalah anugerah dari Tuhan oleh karena itu wajib disyukuri, dengan cara apa? Dengan terus berdoa, walaupun doa itu tidak dikabulkan, karena sesungguhnya doa adalah wujud rasa syukur terhadap anugerah Tuhan. Jadi doa adalah wujud penghambaan, sekaligus wujud rasa syukur sebagai seorang hamba. Teruslah berdoa agar tetap menjadi hamba yang bersyukur. Karena dalam sebuah doa, yang terpenting bukanlah terkabulnya doa tersebut, tapi masih memiliki hati yang sehat, bersih, dan lembut sehingga mudah dan ringan untuk memanjatkan doa, jangan sampai kehilangan gairah untuk berdoa karena hati yang keras bagai batu.

Selain penjelasan tentang hal-hal yang halus dan rahasia dari sebuah doa, yang menarik dari buku ini adalah mengajak untuk selalu berpikir positif dalam keadaan dan situasi apapun. Dalam bagian #45 Gus Ulil memberikan kalimat pembuka, “prasangka yang baik adalah sumber kebahagiaan”. Di bagian ini ada semacam trik bagaimana untuk bisa berprasangka baik atau berpikir positif yang diberikan oleh Ibnu Atha'illah,
“jika engkau tidak mampu berbaik sangka kepada Tuhan karena sifat yang intrinsik ada pada-Nya, maka berbaik sangkalah kepada-Nya karena perlakuan baik-Nya terhadapmu. Bukankah Dia terus-terusan berbuat baik kepadamu? Bukankah Dia memberimu nikmat yang berlimpah?

Gus Ulil membuka pembahasan ini dengan mengatakan sikap yang sehat terhadap hidup adalah berbaik sangka pada kehidupan, kepada orang di sekitar, pada lingkungan terlebih pada sumber kehidupan yaitu Tuhan. Nasihat ini mudah diucapkan tapi sulit diaplikasikan di dunia nyata. Karena pada kenyataannya di dunia banyak masalah, banyak tantangan, banyak kesedihan, atau kekecewaan yang dialami setiap orang, dan itu menjadi sebab munculnya prasangka buruk, baik terhadap pasangan, saudara, teman kerja, atasan, bupati, wali kota, gubernur, presiden, atau sebuah negara baik eksekutif, legislatif, atau yudikatif, serta semua lembaga yang ada di dalamnya.

Hal itu wajar, tapi jangan sampai kita hanyut dalam prasangka buruk yang akan melahirkan sikap hidup yang tidak sehat, karena dari prasangka buruk timbul perasaan curiga yang berlebihan, kemudian tidak percaya, marah dan akhirnya benci. Jika semua terakumulasi akan memunculkan perasaan pesimistis, karena melihat segala sesuatu dengan pandangan negatif. rasa benci yang berlebihan juga mengakibatkan kita buta akan kebaikan seseorang. Lebih dari itu sikap kepadanya akan selalu negatif. Juga kebencian itu seakan melegitimasi untuk menyalahkan orang yang kita benci, mencaci, memfitnah, bahkan berbuat kekerasan terhadapnya. Itu semua lahir dari prasangka buruk, sehingga sikap hidup menjadi negatif, dan tidak sehat. Bayangkan jika sikap negatif ini diarahkan kepada Tuhan karena merasa kecewa terhadap-Nya, ini sangat berbahaya.

Untuk itu sangat penting untuk membangun pandangan hidup yang positif, dimulai dengan berprasangka baik, terhadap siapapun terutama terhadap Tuhan itu sendiri. Dengan demikian kita akan hidup dengan optimis, penuh harapan dan tentunya hidup dengan penuh bahagia. Salah satu caranya adalah dengan menyadari sepenuhnya bahwa sesungguhnya nikmat dan Rahmat Tuhan sangat banyak dan tidak bisa kita hitung jumlahnya, bahwa kita hidup pasti dalam limpahan kasih sayang-Nya. Kita bisa menghirup udara segar, memiliki suami atau istri yang baik, memiliki anak-anak yang shalih shalihah, melilit teman-teman yang baik, memiliki pekerjaan yang baik dan lain sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang patut disyukuri. Bahkan jika diuji dengan sakit, atau keterbatasan ekonomi, atau keluarga yang bermasalah, juga merupakan bentuk kasih sayang agar kita kelak menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Bagiam penutup buku ini juga sangat menarik untuk diresapi dan diaplikasikan di kehidupan ini, yaitu, “Pekerjaan yang lahir dari hati yang zuhud (jauh dari pamrih duniawi) tak akan sedikit nilainya. Sementara pekerjaan yang lahir dari hati yang penuh pamrih duniawi, tidak akan pernah memiliki nilai berarti”.

Bagian ini, ada dua pembelajaran yang penting. Pertama, bagaimana cara menilai sebuah pekerjaan. Sebuah pekerjaan dinilai bukan dari bentuk luarnya, bukan dari segi jenisnya, tingkatan jabatannya, atau tingkat gengsinya, tapi dilihat dari segi bagaimana keadaan hati saat menjalani pekerjaan tersebut. Ibaratnya di sebuah kampus ada berbagai macam pekerjaan di dalamnya, mulai dari rektor, dekan, kaprodi, dosen, pegawai, mulai dari kabag, kasubag, staf, peramu gedung sampai satpam. Secara lahir pasti jabatan rektor adalah jabatan paling tinggi, paling terhormat, dan paling mulia dari seorang satpam. Tapi dari sisi batin, belum tentu demikian. Karena secara batin nilai pekerjaan itu tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan atau kedudukannya, tapi di ukur jadi seberapa bersih keadaan hatinya dari pamrih duniawi. Bisa jadi pekerjaan seorang satpam lebih bernilai karena dalam menjalankan tugasnya tulus, ikhlas hanya tertuju pada Tuhan, tanpa pamrih duniawi seperti materi, kehormatan atau pujian, daripada rektor yang dalam menjalankan tugasnya hanya berorientasi pada materi, jabatan, kehormatan dan pujian dari bawahannya.

Pelajaran kedua adalah, karena nilai pekerjaan itu diukur dari sisi batin seseorang maka sikap dalam bergaul siapa saja dengan pekerjaan apa saja harus sama. Sikap terhadap rektor atau terhadap satpam seharusnya sama, penghormatan sama tidak boleh hormat kepada rektor tapi tidak hormat terhadap satpam. Jadi kita tidak boleh memandang rendah seseorang hanya karena pekerjaannya yang dianggap rendah, misalnya pemulung atau tukang sapu jalanan. Semua orang dengan pekerjaan apapun haruslah kita perlakukan sama, dengan penuh penghormatan dan akhlak yang baik.
Selamat membaca!

*Guru di Madrasah Aliyah Unggulan KH Abd Wahab Hasbulloh (MAUWH), Tambakberas Jombang.


Identitas Buku:
Judul: Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam
Penulis: Ulil Abshar Abdalla
Penerbit: alif.id dan el-Bukhori Institute
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: xxi + 292 halaman
ISBN: 978-602-53634-2-9

COMMENTS

Name

Arsip,14,artikel,154,Buku,2,Fiksi,4,kitab,10,lombakisah,11,manuskrip,8,peristiwa,114,prestasi,11,rehat,27,resensi,11,testimoni,31,tokoh,70,
ltr
item
Halaqoh: Saatnya Menemukan Jati Diri
Saatnya Menemukan Jati Diri
https://4.bp.blogspot.com/-xdcT_0pjNk4/XIMionYsxeI/AAAAAAAATJs/uJi3HVyZt2kxiDq2CYsGnR9OCNjk7iDggCLcBGAs/s640/buku.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-xdcT_0pjNk4/XIMionYsxeI/AAAAAAAATJs/uJi3HVyZt2kxiDq2CYsGnR9OCNjk7iDggCLcBGAs/s72-c/buku.jpg
Halaqoh
https://www.halaqoh.net/2019/03/saatnya-menemukan-jati-diri.html
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/2019/03/saatnya-menemukan-jati-diri.html
true
2194765370271214888
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy