header-wrapper { background:#ffffff URL(/images/banner.png); height:240px; width:600px; margin:0 auto 0px; border:0px solid $bordercolor; }

Meneladani Keistiqamahan "Mbalah Kitab" Masyayikh Langitan

Oleh: M. Fachry* Pagi menjelang siang. Bakda waktu Dluha. Seperti biasa santri-santri tingkatan taqribiyah  (pasca Aliyah) Langitan ...



Oleh: M. Fachry*

Pagi menjelang siang. Bakda waktu Dluha. Seperti biasa santri-santri tingkatan taqribiyah (pasca Aliyah) Langitan mulai berdatangan mengisi ruang di Musholla Akbar. Mereka ini adalah santri yg meski sudah tamat Aliyah, tapi masih belum mau boyong (pulang permanen).

Mereka rata-rata masih ingin menimba ilmu lanjutan dengan mengaji kitab-kitab babon langsung dari kedua Pengasuh Langitan; Mbah Kiai Achmad Marzuqi dan Romo Kiai Abdullah Faqih. Pagi itu jadwalnya ngaji “Fathul Qorib”, “al-Iqna’”, dan “Sohih Bukhori” kepada Romo Kiai Abdullah Faqih. Pengajian yang beliau istiqomahkan sampai sudah seperti wiridan. Hatam, diulangi lagi. Hatam diulangi lagi. Begitu terus berulang selama bertahun-tahun.

Para santri sudah mulai mengambil posisi favorit masing-masing. Ada yg suka berada persis di hadapan Romo Kiai Abdullah Faqih—bagi santri yg model begini, menatap lekat-lekat raut wajah guru menciptakan kenikmatan tersendiri. Ada yang sukanya ngaji di samping kanan-kiri Romo Kiai.

Mereka ingin bisa melihat gerak beliau saat menerangkan kitab yang dikaji, tapi tidak berani langsung berhadapan. Ini model santri hati-hati. Disamping takut su’ul adab juga memang karena takut ditanyai. Santri lain berada di belakang Romo Kiai atau berada di belakang kawannya yang lain. Membentuk lingkaran. Memutari posisi duduk meja dimana Romo Kiai Faqih biasa "mbalah" (mengkaji) kitab. Karena memang mereka santri-santri senior, maka jangan diharap dari mereka akan timbul keriuhan. Hampir tak ada suara yang mereka buat kecuali sekedar menyapa satu sama lain, atau suara lantai yang beradu dengan bak-mangsi (tempat tinta khas Pesantren kuno yg terbuat dari kuningan dan menggunakan serat pohon pisang kering sebagai media penahan tintanya).

Paling-paling ya sekedar gumaman mereka yang nambal dan suara kelepak kertas-kertas kitab yang dibuka-buka. Selebihnya adalah ketenangan yang membius. Masing-masing tenggelam dalam halaman-halaman kitab yang mereka pangku. Ini pemandangan normal dan rutin.

Saat kami semua sudah bersiap hendak memulai, tinggal menunggu Romo Kiai saja. Dari arah ndalem tiba-tiba keluar Kang Munir, khodam Romo Kiai yang juga pengurus Toko Induk. “Kang,” katanya agak lantang. Mungkin agar kami yang di musholla bisa mendengar semua. “Romo Kiai "gerah" (kromo inggil = “sakit”).” “Hari ini libur,” serunya sambil langsung bergegas masuk ke ndalem lagi. Meninggalkan para santri yg melenguh panjang-pendek.

Terlihat jelas kesan khawatir dari raut wajah-wajah Kang Santri itu. Sebuah ekspresi anak yang risau oleh keadaan ayahnya. Meski terbilang sangat jarang Romo Kiai libur mengajar. Tapi para santri yang di situ juga mafhum. Sebagai tokoh nasional dengan pengaruh yang begitu besar, fisik dan psikis Romo Kiai banyak tersedot aktifitas kemasyarakatan yang tidak ringan.

Yang jadi sumber kerisauan para santri adalah; Romo Kiai sangat mementingkan jadwal mbalah beliau. Kalau tak benar-benar payah, susah sekali beliau bisa memutuskan libur. Kali ini sampai libur ngaji, pasti kondisi beliau sangat payah. Begitu pikir para santri.

Beberapa diantara santri segera beranjak ke kamar sambil memeluk kitab-kitab mereka dan sebagian lagi sambil menenteng sajadah yang dijadikan alas mengaji. Sebagian yang lain memilih untuk tetap bertahan di musholla. Ada yg auto-rebahan, ada yang nggojlok (menggoda) kawan yg lain. Hanya untuk mengisi jeda waktu sebelum kembali ke kamar. Tapi ada pula yg kembali melanjutkan ritual nambal-nya. Nah, yang begini ini tipikal santri penambal abadi. Hehehe

Selang tak berapa lama kemudian, sekonyong-konyong pintu depan ndalem terbuka. Sosok Romo Kiai tiba-tiba sudah berada di ambang pintu. Membawa kitab-kitab tua beliau. Wah, Seisi musholla kontan saja kaget. Santri-santri yang tadi rebahan langsung auto-bangun dan mencari-cari kopiyah yang tadi dilepas sebelum berbaring. Yang nambal juga langsung sigap menutup halaman yang di-tambal-nya. Beberapa kawan santri yang tadinya sudah berniat kembali ke kamar segera balik kanan. Duduk di tempat semula sembari memberi kode kepada kawan yang masih tak berapa jauh dari musholla agar kembali.

Pagi itu kami mengaji seperti biasa ketiga kitab itu. Romo Kiai memberi banyak "murod"(keterangan) tanpa berpikir keras. Ini sangat wajar seperti kebiasaan beliau saat menerangkan persoalan-persoalan hadits dan fiqih. Seberat apapun sesungguhnya topik itu bagi kami.

Seusai mengaji, Romo Kiai memimpin doa. Menutup kitab terakhir yg beliau ajarkan hari itu. Menyapu ruangan dengan pandangan sejuknya dan tak lupa tersungging sekuntum senyuman khas beliau. Sungguh seperti biasanya, berjalan normal dan rutin.

Akan tetapi di mata sebagian santri, ada yang janggal dengan Romo Kiai Abdullah Faqih hari itu. Pertama, beliau tidak membawa tongkat yang biasanya selalu menemani kemanapun beliau pergi. Dan kedua, saat beranjak berdiri dari meja, sebelum beliau masuk ndalem, gerakan beliau terlihat sangat ringan. Tidak seperti biasanya. Ada yg mengingat bahwa hari itu beliau bahkan bangkit berdiri dari duduk tanpa bertumpu pada tangan beliau.

Tapi kejanggalan itu segera berlalu begitu saja dari benak. Ada banyak aktifitas lain yang juga memerlukan perhatian mereka. Belum terlalu lama Romo Kiai pinarak ke ndalem, Kang Munir muncul lagi dari pintu samping. “Kok masih di sini?” Tanyanya heran kepada para santri. “Tadi kan saya sudah bilang, Kang. Yai gerah dan ngaji hari ini libur.” “Wooo..., Kang Munir ngapusi (Kang Munir berbohong),” kata para santri hampir bersamaan. Mecucu. “Ngapusi gimana?” tanya Kang Munir keheranan. Salah satu santri pun menyahuti “Baru saja kami selesai mengaji dg Romo Kiai.” Seketika raut muka Kang Munir berubah. “Sing genah Kang (yang bener Kang)”. Para santri ngeloyor pergi meninggalkan Kang Munir yang garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Lha wong saya dari tadi mijitin beliau kok...,” Kang Munir mengatakan itu setengah bergumam. Kini ganti para santri yang melongo. Mereka saling berpandangan satu sama lain.

Keesokan harinya. Romo Kiai benar-benar sudah sehat kembali. Kami mengaji di jadwal mengaji yang sama seperti hari kemarinnya. Setelah beliau duduk di depan meja. Sebelum berdoa tanda dimulainya mengaji. Beliau dawuh, “kemarin yang ikut ngaji beruntung,” dawuh beliau sambil tersenyum kecil. “Aku kemarin benar-benar payah dan tidak kuat beranjak untuk "mbalah kitab" di sini.” Seisi musholla pun hening. Romo Kiai dawuh “Maka aku minta Munir untuk bilang kepada kalian kalau ngaji libur dulu. Dan aku dipijiti Munir hingga aku ketiduran.” Rona wajah beliau sedikit berubah. Ada emosi yang beliau coba tekan saat hendak meneruskan. “Tapi rupanya Abah tidak berkenan membiarkan kalian libur. Maka Abah menggantikan aku mengajar kalian.

Blarrrr... seperti disambar petir rasanya. Bermacam perasaan berkecamuk di dalam pikiran para santri. Tak sedikit dari mereka yang kemudian tampak menitikkan airmata. Perlu diketahui bahwa Abah yang disebut Kiai Abdullah Faqih, adalah alm. KH. Abd. Hadi Zahid, wafat kira-kira 19 tahun dari ketika peristiwa itu terjadi. Lahumal Fatihah...
___________________
*khadim ndalem yang kini berdakwah di kampung halamannya.

COMMENTS

Name

Arsip,16,artikel,165,Buku,4,Fiksi,4,kitab,11,lombakisah,11,manuskrip,8,peristiwa,115,prestasi,11,rehat,29,resensi,13,testimoni,34,tokoh,78,
ltr
item
Halaqoh: Meneladani Keistiqamahan "Mbalah Kitab" Masyayikh Langitan
Meneladani Keistiqamahan "Mbalah Kitab" Masyayikh Langitan
https://4.bp.blogspot.com/-zyANIJAjj48/XIZXpEVWULI/AAAAAAAAQQk/D7ZPzRhtHJEUHPPbiUhghZO0HCMIf8BuACLcBGAs/s640/Photo%2BCollage_20190311_194008386.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-zyANIJAjj48/XIZXpEVWULI/AAAAAAAAQQk/D7ZPzRhtHJEUHPPbiUhghZO0HCMIf8BuACLcBGAs/s72-c/Photo%2BCollage_20190311_194008386.jpg
Halaqoh
https://www.halaqoh.net/2019/03/meneladani-keistiqamahan-mbalah-kitab.html
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/
https://www.halaqoh.net/2019/03/meneladani-keistiqamahan-mbalah-kitab.html
true
2194765370271214888
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy