Oleh: Ahmad Karomi Istilah pahlawan kerap dijadikan simbol akan kisah heroik seorang tokoh, begitu pula dengan sebutan pecundang, pe...
Oleh: Ahmad Karomi
Istilah pahlawan kerap dijadikan simbol akan kisah heroik seorang tokoh, begitu pula dengan sebutan pecundang, pencuri (koruptor) seringkali disematkan untuk mereka yang berkhianat, menggondol uang, menipu rakyat dengan janji kecap nomer satu.
Memang unik, dua istilah yang menjadi representasi tingkah laku manusia ini seakan-akan tak kunjung usai untuk diperebutkan. Siapa yang pahlawan? Dan siapa pecundang, pencuri?
Konon, Seorang Bung Tomo emoh dimakamkan di TMP. Alasannya simpel. Tidak ingin dikumpulkan dengan koruptor, pecundang, pengkhianat yang berkedok Pahlawan. Beliau ingin dimakamkan bersama rakyat yang selama ini berjuang bersama.
Gelar pahlawan yang berwajah positif selama ini didengungkan sebagai pembela rakyat, mengalami surut makna. Sebab hanya ditampilkan sebagai simbolis saja, supaya ada tokoh hebat di daerahnya. Atau bahkan untuk prestige belaka.
Perebutan gelar pahlawan bagi sekelompok orang sangatlah urgen, ini mengindikasikan bahwa citra positif harus dibangun dan dilestarikan hattal akhir (hingga akhir). Ia menjadi cermin akan daerah dan karakter pribadinya. Semisal, Bung Karno sebagai figur sosok orator ulung, diplomat handal, negarawan sejati. Sehingga siapapun yang mengaitkan nama Bung Karno otomatis keramat gandul, baik keturunannya, tempat kelahirannya, dan tempat dimakamkannya. Meskipun numpang nama hebat saja tanpa meneladani perjuangannya.
Sedangkan pecundang, koruptor yang diasumsikan sebagai sampah masyarakat (selama tidak taubat) merasakan bahwa untuk menjadi sosok pahlawan harus menggunakan cara. Mereka mencoba untuk mendapat tempat dihati masyarakat, dengan macam-macam cara. Bisa dengan yahannu (pura-pura/klise) pencitraan dan lain sebagainya. Targetnya ingin dikenal dan nantinya dikenang sebagai Pahlawan oleh masyarakat.
Sepak terjang seseorang selama hidupnya menjadi potret ketika sudah tiada nanti. Apakah selama hidupnya sikap dan tindakannya memberikan nilai positif, ataukah negatif?, Anfa' (memberikan manfaat) bagi bangsa ataukah tidak?. Sebab acapkali pahlawan sejati enggan untuk disanjung-sanjung bak superhero. Mereka hanya ingin memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi bangsa. Bukan ingin dipuja, disanjung sebagai pahlawan. Bahasa pojok kampungnya "gak pathe'en". Sedangkan yang abal-abal terkesan berambisi ingin disebut pahlawan.
Para pahlawan tanpa tanda jasa yang terdiri dari Guru, Kyai, Santri, Pelajar, Orangtua, Petani, memiliki peran penting meniupkan semangat juang sesuai kapasitasnya masing-masing di wilayahnya masing-masing. Mereka hanya fokus untuk memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Meskipun nama mereka tidak tercantum dalam jajaran superhero.
Banyak pahlawan dari kalangan keluarga kita, leluhur kita yang jelas kontribusinya. Bahkan banyak pula yang memilih membantu dari belakang layar (ngewangi soko mburi). Sumbangsih "mereka yang tersembunyi" (tidak ingin terkenal) namun tetap membantu tegaknya NKRI tak bisa diabaikan begitu saja. Diantaranya, ada yang berjuang melalui pendidikan, militer, pertanian, perekonomian, kelautan, agama dll.
Ada sebuah kisah tutur tentang seorang ahli agama yang lebih akrab disebut Kiai. Beliau merupakan teman karib trio pendiri NU (Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri) ketika nyantri di Bangkalan. Adalah Kiai Pucung Blitar yang ikut menggembleng para pejuang dalam merebut kemerdekaan, hingga anaknya pun ikut terjun ke medan laga pada 10 November 1945. Apakah beliau berkeinginan mendapatkan sebutan Pahlawan? Tentu tidak. Bahkan beliau dengan tegas tidak ingin dicatat namanya sebagai pejuang (namun berkenan membantu di PCNU Blitar), dan tidak berkenan dimasukkan dalam jajaran ulama' al-udzma (Kiai besar) "Aku ojok ditulis ya? Cukup ngewangi soko mburi wae". Kata beliau.
Walhasil, nilai "anfa'" (memberikan manfaat) pengertian filosofinya adalah "apa yang akan kau berikan untuk hidup ini?" Sekaligus menjadi titik tekan bahwa hidup seyogyanya memberikan manfaat, "berguna bagi kehidupan itu sendiri" Hal ini senada dengan adagium Khairunnas anfa'uhum linnas. (Sebaik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi yang lain). Bukan malah meminta, menipu menodong dan merampas.
#Selamat Hari Pahlawan bagi keluarga dan masyarakat.
Ahmad Karomi, PW LTN NU Jatim
COMMENTS