Pesan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari Untuk Para Santri (Kiai Stories: 2)

Oleh: Ahmad Karomi*

Ada sebuah kisah tentang tips mendidik santri ala KH. Hasyim Asy'ari agar terlecut untuk belajar dengan tekun. Kisah ini bersumber dari Alm. Abah KH Thobib Hunaini Gebang Putih Surabaya, beliau berkisah dulu ada santri yang pamit akan boyong, lalu Hadrotussyekh bertanya terkait ngaji kitabnya, Kurang lebih narasinya begini,”kowe arep boyong wes nguasai taqrib?” Tanya Mbah Hasyim, santri itu pun menjawab:”dereng”, lalu Mbah Hasyim berkata:”ojo boyong yen durung nguasai taqrib, krono taqrib kuwi dasare fiqih, nek wes nguasai taqrib awakmu oleh boyong tapi cukup dadi mudin kampong (lokal), nek wes nguasai muin awakmu  oleh boyong tapi cukup dadi kyai kampong lan daerah sekitarmu (nasional), nek awakmu wes nguasai wahab, awakmu oleh boyong lan aku ridlo ikhlas awakmu menyang daerah endi wae (internasional)”, akhirnya santri itu pun mengurungkan niatnya untuk tidak buru-buru boyong hingga khatam Fathul Wahab.

Pesan dari kisah ini menunjukkan akan pentingnya tholabul ilmi thuluzzamani (ngaji sing suwe), seperti yang terdapat di dalam syairan Alala, bahwa thuluzzamani merupakan salah satu syarat yang harus dijalani oleh para santri. Semakin lama dia mondok, mengaji maka semakin matanglah keilmuannya. Sebab dari lamanya waktu belajar itulah barometer uji mental dan spiritual seorang santri.

Kitab Taqrib disebut sebagai fiqh dasar, sebab Taqrib karya Abu Syuja’ berisi pelajaran fiqh yang ringkas namun tepat guna bagi keluarga, kerabat serta masyarakat. Kitab Muin disebut sebagai fiqh middle sebab kandungan dalam Fathul Muin karya Syekh Zainuddin Malibariy ini mencakup banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat baik waqi'iyah maupun maudhu'iyyah. Kitab Wahab disebut fiqh kelas high sebab karya Zakariyya Al-Anshari yang terkenal dengan “hadza min ziyadati” ini lebih luas lagi pembahasannya. Tidak mengherankan bilamana sebagian murid-murid Hadratus Syekh Hasyim Asyari mengadopsi sistem pengajaran dari Tebuireng. Misalnya KH. Djazuli Usman menerapkannya di pesantren Al-Falah Ploso.

Kisah percakapan antara santri dengan Hadratus Syekh Hasyim Asyari di atas juga mengisyaratkan pesan bahwa lazimnya seseorang yang menuntut ilmu--di samping berakhlaqul karimah--haruslah melewati jenjang tingkatan dasar, berproses mengarungi waktu serta dimatangkan, kemudian melangkah ke jenjang selanjutnya. Kurang tepatlah bila seorang murid langsung memasuki jenjang Fathul Muin dan Fathul Wahab tanpa memahami fiqih dasar terlebih dahulu. Bisa dikatakan untuk mengetahui Muin dan Wahab kuncinya adalah belajar kitab Taqrib dulu. 

Wallahu a'lam
___________________
*PW LTNNU Jatim, alumni Al-Falah Ploso, mahasiswa UINSA, bapak rumah tangga.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pesan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari Untuk Para Santri (Kiai Stories: 2)"

Post a Comment

close