Tantangan Pemuda dalam Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0


Oleh: Achmad Fahmil Ulum*


Era modern saat ini, perkembangan manusia telah mengalami perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi. Mulai dari proses produksi massal secara mekanis dengan ditemukan mesin uap dan mesin tenun pada akhir abad ke-18. Pada abad ke-19 mulai dikenal listrik sebagai sumber energi. Abad ke – 20, ditandai proses produksi menggunakan IT yang serba otomatis. Hingga kita memasuki revolusi baru era revolusi Industri 4.0 pada awal abad ke – 21.

Pemuda harus siap mengontribusikan diri dan kemampuannya untuk bangsa dan negara. Karena pemuda adalah salah satu harapan bangsa. Di tangan merekalah terletak baik dan buruknya suatu bangsa. Ketika generasi pemuda itu baik, maka baiklah bangsa itu. Sebaliknya, bila pemudanya buruk (berakhlak buruk), maka bangsa itu tinggal menunggu datangnya suatu kerusakan. Hal ini sesuai "pesan sakti" yang dilontarkan oleh salah satu founding father Indonesia kepada pemuda, yakni Ir.Soekarno  mengatakan, “Berilah aku sepuluh orang pemuda, maka akan aku guncangkan dunia."

Menilik pesan diatas, Ir. Soekarno mengakui bahwa eksistensi dan keaktifan pemuda dalam suatu negeri sangatlah menentukan masa depan negeri tersebut. Pemuda dalam posisinya diakui sebagai aset bangsa yang paling berharga dan bernilai, sudah barang tentu harus mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah dan masyarakat.

Terlebih menghadapi era Bonus Demografi yang diperkirakan akan dialami negara Indonesia pada 2020–2035. Dimana proporsi jumlah pemuda lebih tinggi dibanding jumlah anak dan lansia. Secara matematis, bisa menjadi double-edged sword, (bagai pedang bermata ganda). Dimana di satu sisi merupakan kekuatan besar, tapi di sisi lain juga dapat menjadi bencana.

Pemuda diharapkan menjadi arus perubahan menuju arah yang lebih baik untuk bangsa dan negara ini. Merujuk Bappenas pada data proyeksi pertumbuhan penduduk 2010 – 2035, Jumlah pemuda di tahun 2019 diperkirakan mencapai sektar 67 juta jiwa pada usia 15 – 29 tahun (sesuai definisi UU No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan).

Dalam konteks “pemuda sebagai harapan bangsa”, sisi kuantitas pemuda yang besar ini nanti harapannya bisa dibarengi dengan sisi peningkatan kualitas pemuda. Artinya, dengan melimpahnya jumlah pemuda kita saat ini yang begitu besar tidak akan bernilai apa-apa jika kualitas pemuda yang mandiri, kreatif, berkarya, mandiri, profesional, serta berakhlak tinggi.

Sehingga pemuda-pemuda yang diharapkan bangsa--bila disederhanakan--adalah, pertama: kehadirannya tidak menimbulkan suatu problem baru. Kedua: hadirnya pemuda ini bisa menjadi salah satu solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat.

Selain itu, era industri 4.0 menuntut kita agar semakin mawas diri dalam menghadapi perubahan –perubahan yang ada, baik itu perubahan dalam konteks teknologi atau juga sosial.  Tantangan terbesar bagi pemuda saat ini adalah bagaimana pemuda memanfaatkan semua resources yang ada untuk meningkatkan jati diri, kualitas diri, kompetensi diri, kreatifitas, dan inovasi dan kemandiriannya agar bisa lebih strange dalam menghadapi perubahan dan perkembangan zaman yang semakin hari semakin menuju persaingan yang sangat ketat. Sehingga tidak hanya bekerja saja tapi perlunya bekerja cerdas khususnya dalam memanfaatkan teknologi.

Karena dalam perkembangan teknologi digital mengisyaratkan adanya suatu kompetisi antara kecepatan dan kelambatan. Siapapun yang bergerak lebih cepat, akan tegak sebagai pemenang. Sehinga orang tidak hanya sekedar bekerja. Namun harus lebih bekerja keras. Pemuda dinilai memiliki kapasitas sebagai roda penggerak utama pembangunan masyarakat. Sebab pemuda dapat diandalkan sebagai roda penggerak yang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan baru masyarakat era digital dengan kreativitas dan inovasinya.

Tidak bisa kita pungkiri akibat peran teknologi semakin lama semakin besar dalam peran sosial. Salah satu contoh yang paling konkret adalah timbulnya pengangguran terbuka akibat perampingan sumber daya manusia dalam dunia kerja. Ini adalah satu efek negatif yang tentu akan kita rasakan meskipun tidak dalam waktu dekat ini. Tapi dalam jangka panjang para generasi pemuda dituntut harus responsif dan inovatif.

Terakhir, setelah peningkatan kualitas pemuda dalam sisi pengembangan sumber dayanya juga harus dibarengi dengan tingkat moralitas yang baik. Para pemuda harus bisa membedakan manak yang haq dan mana yang bathil sehingga memiliki jiwa moralitas yang tinggi utamanya dalam bersikap di masyarakat. Harapan besarnya, para generasi pemuda ini tidak cenderung menyukai dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) apabila membaur utamanya dengan masyarakat. Sebagai pemuda, harus menunjukkan pengabdian yang baik terhadap bangsa dan negara dibarengkan dengan moralitas yang tinggi.

Konteks “moralitas yang tinggi” ini pada intinya adalah berbiara mengenai akhlak. Akhlak adalah suatu ukuran harga diri seseorang dalam hidupnya.  Karena dengan akhlak yang baik akan menunjukkan kepribadian yang baik dan kepribadian yang baik implikasinya pada kemuliaan hidup. Harta yang banyak tidak menjadi jaminan mulia tidaknya seseorang, begitu juga dengan jabatan. Karena harta, jabatan yang dianggap kedudukan hanya sebuah fitnah.

Muara kemuliaan itu sesungguhnya karena akhlak yang baik. Siapapun seseorang dan dari manapun asalnya yang paling mulia adalah yang paling baik akhlaknya. Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmidzi).

Dalam hal pemuda yang berakhlak baik tentu tidak jauh dari asas dasar ideologis negara kita yakni pancasila. Salah satu poin yang mendalam dalam asas pancasila yakni mengutamakan rasa persatuan, kebersamaan dan keadilan sosial. Karena tidak bisa kita pungkiri ada akibat negatif dari penggunaan teknologi oleh pemuda. Sehingga bagaimana kita menerapkan asas – asas persatuan, kebersamaan, dan keadilan sosial kedalam karakter pemuda sekarang.

Salah satunya dengan diberikan stimulus – stimulus program pada generasi pemuda zaman saat ini. Misalnya, mengadakan program pemuda percontohan atau kegiatan bela negara dengan kawasan / daerah yang dianggap wawasan nasionalismenya rendah. Semua kegiatan ini bisa diarahkan pada generasi pemuda saat ini. Tentu akan berefek signifikan pada rasa kecintaan pemuda  terhadap bangsa ini.


Sehingga kedepan pemuda Indonesia mampu merespon permasalahan – permasalahan yang ada dalam masyarakat akibat pergeseran era industri 4.0. Tidak hanya berjumlah banyak akan tetapi juga kualitas mereka layak untuk diperhitungkan di kancah Internasional.
_________
*Mahasiswa Program Studi Dirasah Islamiyah : Kepemudaan Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tantangan Pemuda dalam Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0"

Post a Comment

close