Ketika Santri Memaknai Cinta Tanah Air


Oleh: Ummu Malihatur Roihana*

“Ya lal wathan 3x…hubbul wathan minal iman…wa la takun minal hirman …inhadlu ahlal wathan..”

Agaknya, begitulah cuplikan lirik Mars Ya Lal wathan gubahan seorang tokoh sentral NU yang tak lain juga seorang pejuang kemerdekaan RI. KH. Wahab Chasbulloh, begitulah nama penciptanya. Lagu tersebut cukup jelas menggambarkan betapa besar semangat juang kaum santri dalam membela dan mempertahankan negara kesatuan republik indonesia (NKRI).

Dalam sejarahnya, indonesia sebelum tahun 1945 telah mengalami masa-masa penjajahan yang akhirnya dapat berdiri sebagai negara yang merdeka atas perjuangan panjang para rakyatnya. Tak lepas dari itu, kaum santri memegang peran penting sebagai pejuang dan perebut kemerdekaan indonesia.

Kita lihat saja, pada saat indonesia digempur oleh serangan pasukan Inggris yang dipimpin oleh AWS. Mallaby melalui NICA (Netherland Indies Civil Administrastion) pada tanggal 25 Oktober 1945  dan pendudukan wilayah Surabaya oleh pemerintahan Inggris di bawah komando BC. Hawtorn bersama AFNEI (Alliec Forces Netherland East Indies) pada tangggal 27 Oktober 1945 kaum santri yang tergabung dalam laskar Hizbullah bersama para pejuang Surabaya bersatu dan menyerang pasukan penjajah  Inggris yang akhirnya pertempuran hebat yang terjadi di Kalisosok tak dapat dielakkan.

Dalam peristiwa tersebut terlihat betapa besar semangat juang kaum santri demi memepertahankan kemerdekaan yang hampir direbut kembali setelah proklamasi.

Terkait dengan historis kemerdekaan Indonesia tersebut, sebagai seorang santri perlulah kita menggaungkan semangat hubbul wathan (cinta tanah air), karena hubbul wathan itu minal iman (bagian dari iman). Hubbul wathan yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Hubbul wathan dengan cara yang damai. Hubbul wathan dengan cara yang membanggakan. Bukannya hubbul wathan dengan cara  yang ngawur, yang anarkis dan membahayakan.

Menyitir maqalah (perkataan) Abuya Muhammad bin Alawiy Al- Maliki Al-hasaniy Rahimahullah “nafsy wa nafasy wa nafisy kulluha lil-‘ilmi wa khidmatu ahlihi” yang berarti (jiwa, raga dan hartaku seluruhnya, aku persembahkan untuk ilmu dan berkhidmah kepada ahli ilmu, red) maka sebagai santri (yang mana definisi santri menurut Abuya adalah “at-thalibu man yata’allam wa yakhdum yaitu santri adalah seseorang yang belajar dan berkhidmah) dapat kita salurkan semangat hubbul wathan kita melalui jalan ta’lim wa ta’allum (belajar dan mengajar) yang disertai dengan semangat khidmah.

Lantas bagaimanakah bentuk khidmah seorang santri yang tergolong "membela NKRI?". Dalam hal ini, kita kembalikan lagi makna khidmah secara lughohnya. Khidmah merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa arab yang berarti melayani; bakti. Orang yang berkhidmah disebut dengan al-khadim.

Berangkat dari makna tekstual khidmah tersebut, dapat kita kembangkan  makna khidmah sesuai dengan konteks perkataannya. Sebagai contohnya, implementasi makna khidmah oleh seorang santri yaitu  senang melayani (ngawulo; jawa) dan membantu sesuatu apapun untuk almamater sebagai tempatnya menuntut ilmu dan masyayikh sebagai tempatnya mengambil ilmu.

Implementasi  makna khidmah dari yang paling ringan seperti menjaga akhlaq sebagai seorang santri baik dalam  hal aqwal, af’al, ide pemikiran maupun penampilan. Tak luput juga seorang santri harus senantiasa meningkatkan semangat ta’lim dan ta’allum supaya dapat berkembang, bahkan sampai membanggakan nama almamater dan turut mengharumakan nama bangsa. Itulah wujud khidmah yang terkecil yang perlu untuk dilestarikan sebagai bagian dari rasa cinta terhadap NKRI. Demikianlah yang selalu diajarkan oleh masyayikh kami.

Walhasil, melalui peringatan hari santri 22 oktober 2018 marilah semangat untuk menjadi seorang santri sejati hendaknya selalu kita pupuk dan kembangkan. Marilah kita perbarui ahwal kita yang masih kurang sesuai, kita gaungkan semangat khidmah untuk ilmu dan NKRI sebagaimana semboyan kita “siapa kita?. NU. NKRI...HARGA MATI”

________________

*Santri ponpes Al-Hikmah yang juga memperdalami IAT (Ilmu Al-Quran dan Tafsir) di STAI-Badrus Sholeh Purwoasri Kediri. Tulisan ini didedikasikan untuk menyambut Hari Santri 22 Oktober 2018.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Santri Memaknai Cinta Tanah Air"

Post a Comment

close