Dua Makna Dakwah Peradaban Habib Umar Yaman


Oleh: Wasid Mansyur*

Ada pemandangan yang menurut penulis menarik di tengah kondisi bangsa yang masih mudah saling bergesekan, untuk tidak mengatakan konflik, menjelang kontestasi politik 2019 adalah kehadiran Maulana al-Habib Umar ibn Hafidz ke Indonesia dalam rangka dakwah dan silaturrahim antar sesama Muslim.

Menarik, sebab kehadiran kali ini di Indonesia menjadi pemandangan sangat menyejukkan. Bukan sekedar dakwah keagamaan sesama Muslim, tapi dakwah kali ini melampaui hingga menjadi dakwah peradaban lintas iman untuk mencari titik persamaan antar sesama anak manusia di dunia agar terus dalam damai sebagaimana misi Islam Rahmatan Lil 'Alamin.

Karenanya, Habib Umar mampu duduk dengan semangat gerak peradaban damai bersama Romo Franz Magnis Suseno (Katolik), Pdt. DR. Martin Sinaga (Protestan), Bikkhu Dammashubo Mahathera, dan tokoh-tokoh Muslim Indonesia yang sangat akrab dan konsisten dalam gerak dakwah peradaban damai. Sebut saja misalnya; Mbak Yenny Wahid, salah satu Putri KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang digelar di Hotel Aryaduta, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Bila dilitik dari pergerakan Habib Umar selama ini konsistensi beliau dalam dakwah peradaban kemanusiaan penuh damai dan penuh keikhlasan sulit diragukan. Tercatat, beliau adalah 50 urutan teratas dari The Muslim 500: The World's 500 Most Influential Muslims, yang diterbitkan oleh Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University AS dipimpin oleh John Esposito selaku pelaksana sarjana studi Islam. Dan masih banyak kontribusi dan keberhasilannya untuk dakwah peradaban damai di seluruh dunia.

Makna Dialog Peradaban 

Oleh karenanya, ada dua makna penting dari gerak dialog peradaban yang juga dihadiri oleh Al-Habib Umar, salah satu Habib yang dikenal moderat dan toleran. Pertama, Islam harus hadir memberikan sumbangsih lebih besar bagi terciptanya peradaban dunia yang damai dalam keragaman umat.

Sebagai bangsa yang telah diwarisi prinsip-prinsip nilai moderat dan toleran, yang telah dicontohkan oleh para pendakwah Islam tempo dulu (wali sanga) dan para pendiri serta pengasuh pesantren, maka merawat dan menebarkannya adalah keniscayaan untuk keberlangsungan semesta hidup. Untuk itu, marilah kehadiran al-Habib Umar -dengan kharisma dan ketokohannya- dalam konteks ini dijadikan pemantik agar kita tidak mudah terpecah belah antar umat, lebih-lebih pecah belah hanya soal kepentingan sesaat (baca: politik).

Ini tidak akan terwujud, tanpa makna Kedua, yakni perlunya hadirkan Islam dalam ranah praktik dengan akhlak al-karimah dan hindari saling mengkafirkan. Cara ini yang menjadi jalan persatuan akan terwujud.

Makna di atas bisa ditemukan juga, misalnya pernyataan al-Habib Umar yang pernah diulas dalam Multaqa Ulama pada 16 Muharram 1430 H di Puncak Bogor. Beliau mengatakan sebagai berikut:

"Gagasan dan wacana di atas tidaklah akan terwujud tanpa adanya ketulusan dan keikhlasan dari masing-masing Ulama. Dengan demikian, para ulama sangat butuh untuk memiliki perhatian yang besar terhadap masalah penyucian jiwa, baik untuk diri sendiri atau untuk para murid dan pengikutnya".

Paparan di atas semakin menegaskan bahwa menjadi ulama' adalah tugas mulia sebab pewaris Nabi. Karenanya, ulama' tidak cukup mengandalkan kemampuan berdakwah dengan ulasan memukau di hadapan publik, apalagi hanya ingin viral dijagat Medsos. Tapi dibutuhkan pembumian keikhlasan dan akhlak sebagai kenyataan hidup beragama dan berbangsa agar dakwahnya lebih bermanfaat, jauh dari pesan-pesan mudharat penuh kebencian.

Wa akhiran, semoga kita bisa belajar dari  dari gerak peradaban damai dari sosok Maulana al-Habib Umar; soal keterbukaan dialog dengan yang lain. Hanya melalui dialog, kedamaian bisa kita raih dalam bingkai keragaman. Dengan begitu, maka penting bermodal pandangan bahwa "tatakrama seseorang lebih baik dari pada tatakrama belajar (adab al-nafs khairun min adab al-Darsi, mengutip kata hikmah. (*)
......
Sumber Bacaan:
Al-Hamid Jakfar al-Qadri, Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat (Telaah atas Pemikiran al-Habib Umar bin Hafidz...)

Ali Ahmad al-Jurjani, Hikmatu al-Tashri' wa Falsfatuhu, khususnya Juz 2, hal 282.
_______________
*(Dosen Fahum UIN Sunan Ampel Surabaya, Wakil PW LTN NU Jatim)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dua Makna Dakwah Peradaban Habib Umar Yaman"

Post a Comment

close