Santri dan Tantangan Dakwah di Era Industri 4.0


Oleh: Achmad Fahmil Ulum*

Saat ini, Teknologi informasi menjadi hal yang cukup digandrungi di kalangan masyarakat. Mengingat keumuman di berbagai kalangan masyarakat yang rata-rata tidak jauh dari gadget , khususnya di kalangan anak muda yang lebih dikenal dengan sebutan “Generasi Millenial”.

Hasil Studi Penelitian dari wearesocial. tahun 2018 menunjukkan bahwa total pertumbuhan pengguna internet mencapai 143,26 juta jiwa. Tentu angka yang menggambarkan kondisi masyarakat saat ini yang sangat mengandalkan dunia maya. Bahkan studi dari wearesocial.com pada tahun 2018 dalam laporannya mengatakan bahwa orang indonesia rata-rata cenderung menggunakan internet selama 8 jam 51 menit. Artinya banyak video menarik di youtube sehngga menarik minat masyarakat untuk menggunakannya. Karena dengan internet, kita bisa melihat segala informasi yang ada didunia saat ini.

Kita sedang memasuki era baru, era dimana orang lebih dekat dengan dunia maya dibanding dengan dunia nyata. Pergeseran era lama yang mengawali era baru yang lebih kita kenal sebagai Era Industri 4.0. Era transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi informasi dengan industri konvensional. Itulah kenapa internet sangat besar sekali efeknya di masyarakat. Mau tidak mau, kita sudah menjadi bagian dari era Industri 4.0 ini.

Salah satu agenda strategis yakni pemanfaatan teknologi digital yang begitu masif untuk memacu produktivitas. Salah satunya adalah produktivitas akan hal konten-konten bernafaskan religi atau agama. Informasi keagamaan baru-baru ini menjadi salah satu konten media sosial yang banyak dicari oleh masyarakat digital ditengah meningkatnya semangat keislaman di Indonesia. Bahkan di kalangan pendakwah, berdakwah lewat media sosial saat ini tengah menjadi salah satu metode paling ampuh.

Pada tahun 2018, data menunjukkan--menurut studi wearesocial.com-- bahwa salah satu platform media sosial di urutan pertama yang diakses masyarakat  adalah youtube.com. Salah satunya, Konten-konten video bertemakan dakwah Islam senantiasa menghiasi dunia maya setiap hari.

Di Indonesia sendiri, salah satu Pusat Kajian dan Literasi Keislaman adalah Pondok Pesantren. Pondok Pesantren sebagai ruh / pionir posisi peletak dasar pendidikan Islam di Indonesia. Pondok Pesantren sebagai penyebar ajaran kedamaian Islam yang damai dan sejuk di bumi Indonesia, harusnya juga terus mengikuti perkembangan zaman dalam koridor tatanan yang tepat.

Pada titik ini peran pesantren diharapkan hadir menjadi poros penengah di tengah masyarakat. Pesantren dituntut untuk mengikuti trend zaman terutama di bidang teknologi. Sehingga salah satu jalan perjuangan pesantren yaitu metode "dakwah" bisa diaplikasikan melalui media digital. Terlebih dengan mengangkat khazanah Keislaman khas Indonesia yang kental akan budaya dari Sabang hingga Merauke, tentu pesantren secara tidak langsung ikut berperan mencetak generasi muda yang memiliki sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan tasamuh (toleran) dalam beragama. Ketiganya  ini merupakan prinsip jalan tengah yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai ummatan wasathan  dan bentuk ummat yang juga digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai  khaira ummah (masyarakat yang baik).

Dari sini, secara tidak langsung mendukung konsep “Moderasi dalam Beragama” di Indonesia. Gagasan ini adalah sebuah tawaran kepada masyarakat awam khususnya mereka yang ingin sekali memahami Islam di Indonesia. Karena beberapa tahun terakhir, kondisi religiusitas kita menunjukkan bahwa keagamaan di Indonesia tidak bisa lepas dari isu yang mengatasnamakan “Identitas”. Apalagi Isu-isu Radikalisasi sangat dekat sekali dengan Islam dengan mangatasnamakan “Gerakan Pemurnian Islam”.

Menurut Jon W. Anderson, dakwah lewat media juga menjadi ajang pembentukan dan perebutan ruang publik berbagai kelompok Islam dalam menjalankan agenda masing-masing (Jon W. Anderson: 2003). Kasus Bom baru-baru ini di Surabaya harusnya perlu menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Mereka hadir seolah-olah menjadi yang paling benar dalam menafsirkan Islam. Padahal pemahaman Islam tidak hanya berkutat pada Al-Qur’an dan Sunnah secara harfiah, tapi perlu difahami lebih dalam sehingga ada metode turunan Al-Qur’an dan Sunnah yang memang harus dipelajari agar tidak terjebak dalam dimensi peng”kotak”an diri yang akhirnya timbul merasa paling benar sendiri.

Masyarakat perlu memahami prinsip dalam Islam yang lebih mengedepankan Wasathiyah penuh dengan toleransi, tidak terjebak ekstremitas, mengambil jalan tengah, moderasi, dan cenderung menyelesaikan masalah dengan musyawarah. Inilah sejatinya salah satu poin penting yang mendasari kenapa dakwah wasathiyah urgen untuk digalakkan khususnya di dunia maya.

Ketika pendidikan agama di pondok pesantren menjadi hal yang penting di dunia saat ini, maka mengikuti trend teknologi informasi juga menjadi tidak kalah pentingnya untuk menjawab tantangan zaman. Pada akhirnya, di era Industri 4.0 ini kita mau ambil bagian atau hanya sebagai penonton saja dalam mendukung semangat dakwah wasathiyah di Indonesia ?
______________


*Email(fahmilachmad@gmail.com)
Mahasiswa Prodi Dirasah Islamiyah: Studi Islam dan Kepemudaan Kemenpora
Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, MATAN Sidoarjo.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Santri dan Tantangan Dakwah di Era Industri 4.0"

Post a Comment

close