Gus Miek dan Bakhilnya Zaman



Oleh: Ahmad Karomi*

Tiba-tiba saya teringat "Amiin, ya Allah.. Duh Gusti kang melasi, panjenengan moho lumo aris lan mitulungi" yang merupakan kutipan syi'iran dalam Dzikrul Ghofilin karya Gus Miek Ploso Mojo Kediri.

Sosok Gus Miek memang penuh daya pikat, seakan menjadi legenda yang tak lekang zaman. Bagaimana tidak! Beliau dikaruniai Allah beberapa keistimewaan yang tersembunyi (mastur). Status sosialnya sebagai putra ulama besar tidak pernah beliau tunjukkan, tujuannya agar lebih mudah bergaul dan mendengarkan suara hati masyarakat tanpa ada jarak. Bahkan tak jarang beliau melewati pintu belakang tatkala ada acara tertentu untuk menghindari kerumunan orang yang berniat menemuinya.

Dentuman musik jazz dalam Nightclub, Diskotik, Pub, Bar seakan menjadi bagian "laku" sosok penggemar rokok Diplomat hitam ini. Hotel Sahid maupun Hotel Elmi adalah dua dari sekian hotel yang pernah disinggahinya. Bahkan tatkala Gus Miek "kapundut", uniknya beberapa tempat hiburan malam, hotel di Surabaya seketika menjadi sunyi. Tempat-tempat itu ikut berduka atas meninggalnya sang Kiai nyentrik.

Kedekatan Gus Miek dengan lapisan masyarakat tidak membuat beliau pilah-pilih. Bagi beliau semua  sama-sama memiliki status "mengharap rahmat Allah".

Dakwah yang dilakoni itu pun penuh resiko, mulai dikucilkan dan disuudzoni oleh kalangan "putih" hingga dicap sebagai "dukun". Gus Miek tak bergeming dengan anggapan-anggapan itu. Sependek ingatan saya, beliau pernah dawuh:"Siapakah yang akan menjemput mereka dari tempat gelap?! Bila ada yang berani terjun langsung menjemput mereka, saya akan berhenti". Imbuh beliau.

Pernyataan Gus Miek ini, saya artikan sebagai bentuk otokritik kepada para ulama agar "aware" peduli terhadap umatnya tanpa pandang bulu serta memperluas radius wilayah dakwahnya, bukan hanya di zona pesantren saja. Bahkan Abah Thoyib Krian pernah mengemukakan: " Syiar agomo iku ojo nang pondok ae tapi yo metu serawungan lan ngajak wong sing peteng dadi insaf" (syiar agama itu jangan hanya di dalam pondok saja tapi juga kontemplasi keluar bergaul dan mengajak mereka yang "gelap" agar insaf). Saya pribadi beranggapan Gus Miek berusaha mengenalkan konsep "amar makruf bilmakruf, wa nahyul munkar bilmakruf" (mengajak kebaikan dengan cara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik pula). Bukan dengan berkhutbah berapi-api menggunakan dalil quran hadis dan meletupkan dalam tempat "gelap" tersebut.

Jadi, sangatlah wajar jikalau ada yang menilai dakwah Gus Miek tergolong "nyeleneh" dengan pendekatan persuasif kultural. Di saat para "gawagis" dikader menjadi penerus estafet kepemimpinan pesantren dengan menggelar pengajian kitab, ternyata ada satu gus dengan laku yang "berbeda".

Terobosan Gus Miek mengajak para "penikmat dunia" tidaklah semudah membalikkan tangan. Rintangan dan tantangan beliau lalui dengan "dodo jembar". Senyum hangat tetap berkembang tanpa lelah. Sungguh berat perjuangan dakwah Gus Miek yang oleh sebagian Kiai khos diterjemahkan dengan "hamlul adza  wal balwa" (menanggung resiko berat dan cobaan).

Perlahan namun pasti, satu persatu dari kalangan PSK, germo, pecandu, artis, seniman, tukang becak, pejabat, akademisi, militer, musisi pun bertaubat dan menjadi pengikut setia Gus Miek. Sebut saja ada Ayu Wedayati, Deddy Dores, dan sederet artis beken menunjukkan rasa hormatnya kepada Gus Miek. Ada yang memanggil beliau dengan sebutan papa, om, dukun, gus, kiai dll. Dan hebatnya, Gus Miek tidak terpengaruh oleh ragam sebutan tersebut. Sebuah sikap mental yang benar-benar berkualitas tinggi.

Napak Tilas Laku Gus Miek

Diakui atau tidak diakui, peran Gus Miek menyebarkan Islam rahmatan lil alamin di kalangan masyarakat bromocorah sangat terasa unsur positifnya. Pasca beliau kapundut, banyak kalangan yang beranggapan sulit mencari penggantinya. Bahkan ada yang mengatakan tokoh sekaliber Gus Miek, Gus Dur hanya muncul satu kali dalam jangka 100 tahun.

Ada sebuah kisah santri yang mencoba napak tilas Gus Miek dengan cara berdakwah dalam dunia remang-remang. Awalnya dia berhasil (hingga diklaim sebagai pengganti Gus Miek) sehingga mampu mengajak para bromocorah untuk taubat, akan tetapi di tengah proses dakwahnya itu, ia tiba-tiba jatuh tergoda oleh kecantikan salah satu jamaahnya, sehingga kebeningan jiwanya terkotori. Bagaimana bisa seperti itu?

Syahdan setelah santri tersebut sukses mengajak aliran "hitam" untuk taubatan nasuha, tak terasa ia tersisipi perasaan "ujub" bangga diri akan keberhasilan dakwahnya. Nah, tatkala pintu "ujub" ini terbuka, masuklah "akhlaq madzmumah" lainnya yang tanpa dia sadari mengganggu kejernihan hatinya.

Berkaca dari kisah santri ini, ternyata "jatah" porsi manusia memiliki daya tampung yang berbeda-beda. Semisal ada yang mampu puasa Daud, ada pula yang tidak kuat berpuasa. Ada juga yang tangguh qiyamullail, eh ada juga yang gemar tidur. Hal ini sangat cocok bila dikaitkan dengan dawuh Kiai Munif Djazuli: "Semua orang memiliki bagiannya masing-masing. Nikmati saja bagianmu".

Gus Miek dengan segala kelebihan dan kekurangannya tetaplah sosok yang patut diteladani dari sisi keikhlasannya. Saya pribadi mendapatkan kesaksian bahwa Gus Miek sering "maringi" (memberi) sesuatu kepada mereka yang membutuhkan. Semisal, ada seorang santri yang tidak memiliki motor, tiba-tiba Gus Miek menghampirinya dan menghadiahi motor. Bahkan pasca "mangkat"nya beliau, khodam ndalem juga dikasih kenang-kenangan di saat Gus Miek masih hidup. Beliau wafat tidak meninggalkan harta dan jabatan akan tetapi hanya berupa "semangat" melestarikan semaan al-Quran yang ditanamkan kepada samiin setia.

Dari sini, jelaslah bahwa kadar "perjuangan dakwah" seseorang yang secara kasat mata sukses, memiliki jutaan jamaah dan pengikutnya banyak, semestinya menaruh itu semua di luar dada (tidak ada rasa kepemilikan duniawi). Supaya kualitas spiritualnya juga meningkat. Bukan malah terhipnotis oleh banyaknya santri dan pengikut. Bagi Gus Miek semua itu adalah fatamorgana yang sejatinya manusia tidak memiliki apa-apa.

Sungguh keikhlasan Gus Miek bukan isapan jempol belaka. Kehadiran beliau dalam majelis semaan dan berlanjut menyapa aktor-aktor "dunia hitam" untuk memperkenalkan bagaimana cara menundukkan kepala dan menekuk kerasnya hati sembari menengadah mengharap pancaran rahmat Allah taala.

Sebagai pamungkas coretan ini, saya kutip salah satu syiiran arab yang berbunyi:

هيهاتَ لا يأتي الزمانُ بمثلهِ # إنَّ الزمانَ بمثلهِ لبخيلُ

Kandungan syiiran ini menegaskan bahwa putaran zaman/masa/waktu telah melahirkan ratusan tokoh beserta pernak-pernik peristiwa. Ada yang baik untuk dipelajari dan ada yang buruk untuk diikuti. Kesemua itu takkan terulang kembali, sebab zaman sangatlah bakhil-pelit untuk hal itu. Dan di dalam zaman terdapat para tokoh, sosio-kultur, geo-politik yang pasti berbeda dengan zaman yang akan datang. Oleh karena itulah Iwan Fals menyebutnya dengan "Anak Zaman" yang hidup dan berjuang di tiap-tiap masanya.

(Coretan untuk menyambut Haul Masyayikh Alfalah Ploso Mojo Kediri tanggal 18-09-2018)
_________________
*PW LTNNU Jatim, santri Alfalah Ploso dan Mahasiswa UINSA, JAS (Jamiyah Arek Suroboyo).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gus Miek dan Bakhilnya Zaman"

Post a Comment

close