Peran Stuntman dalam Historiografi Islam


Oleh: Ahmad Karomi*

Pemeran pengganti  (Inggris: stuntman) mengutip wikipedia adalah seseorang yang menggantikan aktor/aktris utama dalam suatu adegan (berbahaya maupun tidak berbahaya) seperti melompat dari satu gedung ke gedung yang lain, maupun menggantikan pemeran utama yang berhalangan shooting karena suatu sebab seperti digantikannya Paul Walker di akhir film Fast Furious7 oleh duo saudara kandungnya Cody dan Caleb yang diambil sisi kemiripannya dengan Paul. Bagi saya, menjadi stuntman itu bukanlah perkara mudah.

Membincangkan stuntman memicu pertanyaan, adakah peran stuntman dalam historiografi Islam? Owh, sangat ada. Semisal kisah ulama kenamaan Syekh Nawawi Banten pernah menyuruh khadimnya sebagai stuntman yang menyaru menjadi beliau dan dipakaikan baju seorang Syekh. Sedangkan beliau ganti menyaru sebagai khadim.

Syekh Nawawi Banten dikenal sebagai seorang syaikh (guru besar) di Masjidil Haram Mekah, ketenaran nama Syekh Nawawi sangat terdengar seantero Dunia Islam. Pada tahun1870 ulama yang memiliki karomah jarinya bercahaya itu mendapat undangan ke Universitas Al Azhar, untuk mempresentasikan pikirannya secara langsung.

Ketika menghadiri undangan itu Syekh Nawawi tidak ingin mendapat sambutan yang berlebihan, beliau menyiasatinya dengan cara berperan pengganti alias menyamar sebagai khadim/murid yang berpakaian Jawa, sementara sang khadim/muridnya disuruh berpakaian milik Syaikh Nawawi.

Tak pelak si murid yang memerankan Syekh Nawawi pun mendapatkan penghormatan luar biasa bak ulama jempolan. Sementara itu Syekh Nawawi masih berada di kursi belakang.

Ketika acara dimulai si murid yang berperan sebagai Syekh Nawawi itu berpidato singkat, karena alasan sakit ia minta diwakili oleh santrinya, yang diperankan Syekh Nawawi sendiri.

Dalam ceramahnya Syekh Nawawi yang masih berperan sebagai khadim itu menjelaskan berbagai persoalan keilmuan Islam secara detail, mendalam, dan ditunjang gesture serta bahasa yang mengagumkan. Bahkan mampu menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para mahasiswa dengan sangat akurat.

Tak ayal Syekh Nawawi yang menyaru sebagai khadim itu mendapatkan applaus, bahkan ada yang mengatakan “Masyaallah asistennya saja sangat alim, apalagi Syekh Nawawi sendiri, tentu lebih pandai.”

Kisah Syekh Nawawi dan khadim yang bertukar peran ini bisa juga disebut "saling menjadi stuntman" dalam kondisi tidak gawat/bahaya yang mengancam nyawa. Lantas adakah contoh stuntman yang siap mengorbankan nyawa?!

Menurut saya sih ada, jika menengok sejarah hijrahnya Nabi. Kita pasti ingat kisah Nabi Muhammad tatkala dikepung oleh Kafir Makkah. Konon beliau membacakan surat Yasin, tepatnya ayat "wajaalna min baini aidihim saddan wamin khalfihim saddan faaghsyainahum fahum la yubshirun", lalu kafir quraisy pun tertidur. Ketika kafir quraisy terbangun, secepat kilat mereka menerobos masuk kamar Nabi, namun alangkah kagetnya ketika selimut itu dibuka ternyata Sayidina Ali yang menempati tempat tidur Nabi. Dari kisah Ali yang menempati kamar tidur Nabi ini  saya beranggapan bahwa Sayyidina Ali adalah stuntman Nabi yang siap berkorban jiwa raga menghadapi kafir quraisy.

Ketika Nabi akan pergi ke goa dan melihat rumahnya dikepung oleh orang-orang musyrik, beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidurnya. Lalu Nabi Muhammad meninggalkan Ali bin Abi Thalib di Mekkah dan menyerahkan tugas-tugasnya serta mengamanahkan kepada keponakannya itu.

Kisah tentang Ali menggantikan Nabi Muhammad di tempat tidur dan juga kisah Syekh Nawawi dan khadimnya di atas, menurut hemat saya, adalah penegasan bahwa stuntman dalam historiografi Islam  dimunculkan karena banyak faktor, bisa siasat, politik, hiburan, pendidikan, penyamaran dan juga pencitraan.

Di ranah hiburan, saya teringat sosok Gus Pur (dr. Handoyo) yang mirip alm. Gus Dur. Meskipun tidak 100% sama, namun usaha Gus Pur belajar mencari sisi persamaannya (cara bicara dan gesture tubuhnya) dengan Gus Dur patut diapresiasi. Meskipun belum pernah menjadi stuntman, tapi bila ada film tentang Gus Dur kayaknya dr Handoko cocok.

Sebagai pamungkas coretan, saya berpendapat siapapun yang menjadi stuntman harus memenuhi kriteria "sosok yang digantikan", ia harus profesional, mulai dari gesture tubuhnya, mimik wajahnya, suaranya. Namun yang perlu ditekankan kembali adalah bahwa peran pengganti (stuntman) sejatinya merupakan penyambung/wakil pelaksana amanah sang pemeran utama.

____________________
*PW LTNNU Jatim, alumni Alfalah Ploso, pengurus JAAS, guru madrasah dan pengajar IAT Staiba.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peran Stuntman dalam Historiografi Islam"

Post a Comment

close