Hikayat Murid Syekh Suhnun dan Sikap Kita dalam Beragama




Oleh : Rijal Mumazziq Z*

Kisah hikmah yang menggelitik ditulis oleh Habib Musthofa bin Husain al-Jufri di buku karya beliau, “Kumpulan Kisah-Kisah Indah dan Lucu: Petikan dari Ta’lim Mahaguru Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani”.

Ceritanya, di zaman dulu, ada seorang ulama madzhab Maliki yang punya sifat wara’ dan zuhud. Bahkan, beliau dikenal sebagai seorang waliyullah dengan keramatnya yang nyata. Nama ulama ini  Syekh Muhammad Suhnun. Kemampuannya komplit. Alim, saleh, dan punya keistimewaan  mengobati orang sakit.
Menurut Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, sang shahibul hikayat, jika Syekh Suhnun hendak mengobati pasiennya, ia cukup menuliskan huruf “Nun” pada sebuah kertas, piring, atau lainnya, kemudian tulisan itu dicelupkan ke dalam air, lantas airnya diminumkan kepada pasien.

Dengan izin Allah, biasanya si pasien sembuh. Syekh Suhnun melakukan hal yang sama terhadap para pasien lain meskipun jenis penyakitnya berbeda-beda. Karena hanya menuliskan huruf “nun”, maka tulisannya itu mudah ditiru oleh siapa saja, termasuk para murid beliau.

Ketika Syekh Suhnun wafat, salah seorang muridnya mencoba mempraktekkan apa yang telah dilakukan oleh gurunya ketika mengobati pasien. Layaknya sang guru, ia menuliskan huruf “nun” di atas kertas, dibasuh air, lalu diminumkan kepada pasien. Ia melakukannya dengan gaya yang sangat meyakinkan.

Namun, apa yang terjadi? Si pasien bukan malah sembuh, tapi sakitnya bertambah parah. Karuan saja, keluarga pasien memarahinya, dan dia menerima kenyataan tersebut.

Pada malam harinya, si murid bermimpi didatangi seorang laki-laki yang tidak jelas wajahnya, namun hanya terdengar suaranya. Laki-laki itu bertanya kepadanya: “Hadzihi Nun, fa aina Suhnun?” (Memang benar ini huruf Nun, tapi mana Suhnun-nya?). Maksudnya, memang benar kamu telah menuliskan huruf Nun, tapi kamu tidak sama dengan Suhnun.

“Nun” hanyalah huruf. Tapi di tangan seorang kekasih-Nya, dia menjadi salah satu sarana penyembuhan. Di sinilah pentingnya kita mengukur kualitas diri kita sebelum meniru jejak para  pembesar zaman. Di tangan ulama yang ahli di bidangnya, al-Qur’an dan hadits diracik sedemikian rupa sehingga benar-benar bisa menjadi pelita zaman dan petunjuk bagi kaum muslimin. “Bahan baku” ini benar-benar menemukan pengolah yang mahir dalam memadupadankan hingga menyajikannya kepada orang awam hingga tercerahkan.

Hanya, di era sekarang, banyak yang tidak tahu diri karena terlampau tinggi menilai kualitas dirinya. Karena sudah merasa bisa membaca al-Qur’an dan Hadits berikut terjemahnya, dia menganggap kemampuannya setara dengan para ulama. Kemudian, dia membaca dua referensi primer ini berdasarkan pemahamannya sendiri, bukan meminjam pemahaman para ulama. Akhirnya, banyak keputusan ngawur dan pemahaman menyesatkan yang disampaikan kepada khalayak.

Dengan gaya meyakinkan, bahkan ada di antara mereka yang merendahkan para raksasa ilmu dengan mengucapkan, “Ulama juga bisa salah”, “Ulama itu tidak maksum, jadi bisa dikritik dan dikoreksi”, “Saya tidak belajar kepada para ulama, melainkan langsung belajar kepada Rasulullah dan para sahabat melalui al-Qur’an dan Assunnah”, “Kita semua memiliki sumber yang sama, yaitu al-Qur’an dan hadits, jadi kita masing-masing bisa langsung merujuk kepada keduanya, tidak usah melalui pemahaman para ulama”, dan berbagai statemen menyesatkan lainnya.

Bagi saya, berbagai kalimat di atas memang indah dan meyakinkan, tapi sekaligus juga menyesatkan. Jika semua orang diperbolehkan menafsirkan dan berkomentar atas al-Qur’an dan Hadits, maka alangkah kacaunya pemahaman keagamaan kita.

Oleh karena itu, para ulama membuat standarisasi keilmuan tersendiri bagi para pengkaji dua referensi primer umat Islam agar tidak menyesatkan. Hasilnya, banyak tafsir al-Qur’an yang disusun dengan menggunakan corak, metodologi, hingga klasifikasi tertentu yang dinilai ketat secara akademis-ilmiah. Di bidang hadits, hasil olahan pemahaman para ulama mengenai sabda Rasulullah juga dikumpulkan dengan baik, misalnya Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari karya Imam Ibnu hajar al-Asqalani, dan al-Minhaj Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.

Sekali lagi, tidak semua yang mahir berbahasa Arab bisa menjelaskan al-Qur’an dan hadits dengan baik dan benar, sebagaimana tidak semua orang yang bisa berbahasa Indonesia bisa menjelaskan dengan baik berbagai Undang-Undang, maupun buku kedokteran berbahasa Indonesia. Demikian pula, tidak semua yang bisa berbahasa Jepang juga bisa dengan leluasa menjelaskan buku panduan perawatan mobil made in Japan. Semua ada ilmunya. Ada strata penguasaan keahliannya.

Sebagaimana kisah yang saya kutip di awal tulisan ini, hari ini banyak yang memiliki pola pikir seperti muridnya Syekh Suhnun. Hanya gara-gara menganggap dirinya bisa menirukan cara beliau mengobati pasien, lantas mempraktekkannya secara langsung. Padahal, kondisi ilmu dan ruang ruhaniahnya berbeda dengan Syekh Suhnun. Dari sini kita belajar, sikap tidak tahu diri akibat terlalu tinggi menilai kualitas dirinya itu berbahaya. Bisa mencelakakan diri dan orang lain.
Wallahu A’lam Bisshawab.
____________________________
*Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah Kencong Jember

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hikayat Murid Syekh Suhnun dan Sikap Kita dalam Beragama"

Post a Comment

close