Belajar "Legowo" dari Gus Dur


Oleh: Imam Mudofar*

Saya adalah orang yang termasuk kecewa ketika ada yang menyebutkan bahwa Prof. Mahfud MD bukan kader NU. Alasan kekecewaan saya jelas, sekurang-kurangnya saya tahu jika Prof. Mahfud memiliki latar belakang NU yang kuat secara kultural. Beliau lahir di Madura yang mayoritas penduduknya adalah warga Nahdliyin.

Sempat ada kebanggaan dalam hati saya ketika dengan begitu "legowo"nya (ikhlas) Prof. Mahfud menerima realita politik hari ini jika namanya bukanlah pilihan Jokowi untuk menjadi Cawapres, melainkan Rois Am PBNU, KH. Ma'ruf Amin. Dengan begitu tegas lewat akun instagramnya beliau mengatakan "Indonesia lebih penting ketimbang hanya sekedar nama Mahfud MD atau Ma'ruf Amin."

Pernyataan yang membuat saya terkagum-kagum waktu itu. Bahkan saya sempat optimis bahwa Prof. Mahfud adalah penerus Gus Dur yang paham benar tentang tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian. Atau jika dalam konteks kondisi Prof. Mahfud, saya mengubahnya "tidak ada jabatan di dunia ini yang harus diperjuangkan mati-matian." Praktis saya langsung salut dan angkat topi seraya membungkukkan kepala dengan serendah-rendahnya sebagai tanda hormat pada beliau.

Namun sayang, rasa optimisme akan sosok Prof. Mahfud sebagai "penerus Gus Dur" itu perlahan pudar pasca saya menyaksikan tayangan ILC semalam. Dengan gamblang Prof. Mahfud menyampaikan cerita ikhwal apa yang beliau alami sampai-sampai beliau gagal menjadi Cawapres pendamping Jokowi.

Sebagai seorang ahli hukum saya yakin apa yang disampaikan oleh Prof. Mahfud MD adalah benar adanya dan berdasarkan fakta yang kuat. Tidak mengada-ngada dan bukan cerita bohong. Bahkan secara gamblang beliau menyatakan kekecewaannya pada Romi, Ketua Umum PPP dan siapa-siapa saja orang yang "menjegalnya" gagal menjadi Cawapres Jokowi. Soal kekecewaan beliau yang disebut bukan kader NU, bisa saya maklumi karena saya pun kecewa dengan pernyataan itu. Namun soal yang lain, nanti dulu.

Pertanyaannya, untuk apa beliau menyampaikan itu semua? Menyampaikan soal kekecewaannya kepada beberapa orang yang dianggap menjegalnya menjadi cawapres? Bahkan menyampaikan soal NU yang seolah-olah mengancam akan meninggalkan Jokowi jika yang dipilih menjadi Cawapresnya bukan kader NU. Kalau toh pun yang disampaikan itu benar, pertanyaannya untuk apa? Apakah dengan membuka segala cerita di ruang terbuka akan menyelesaikan masalah? Semuanya clear? Tidak. Dari sinilah muara optimisme saya jika Prof. Mahfud adalah penerus Gus Dur perlahan pudar.

Saya teringat ketika Gus Dur hadir di acara Kick Andy beberapa tahun sebelum beliau wafat. Kalau tidak salah menjelang Pilpres 2009 (tayangannya masih bisa disaksikan di youtube). Bung Andy F. Noya bertanya pada Gus Dur siapa orang yang paling bertanggungjawab atas dilengserkannya Gus Dur dari kursi Presiden? Dengan tegas Gus Dur menjawab Amin Rais. "Kenapa Gus," tanya Andy. "Ya tanya Amin Rais dong. Jangan tanya saya," jawab Gus Dur simple disambut gelak tawa penonton, termasuk pembawa acara.

Di sinilah letak perbedaan maqom Gus Dur dengan Prof. Mahfud MD. Jawaban Gus Dur (Tanya Amin Rais, jangan tanya saya) mungkin terkesan guyon, tapi sarat makna. Jika Gus Dur mau bisa saja waktu Gus Dur menceritakan apa yang dialaminya dan apa yang diketahuinya dibalik proses dilengserkannya Gus Dur oleh Amin Rais yang dianggap oleh mendiang Gus Dur merupakan tindakan inkonstitusional. Bahkan mungkin bisa saja Gus Dur menguliti Amin Rais di muka publik lewat tayangan itu. Tapi beliau memilih untuk tidak melakukan itu. Bagi Gus Dur, segala tindakan Amin Rais sudah dimaafkan, meski tak pernah bisa dilupakan.

Dari sinilah perbedaan itu tampak. Gus Dur manusia setengah wali yang sudah sampai pada tahapan sufi memang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Dan belajar untuk mencoba bersikap seperti Gus Dur tentu bukan hal yang mudah. Bahkan orang yang pernah belajar langsung dari Gus Dur pun belum tentu mampu melakukan itu. Paling banter baru sampai pada maqom ingin mencoba seperti Gus Dur.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan bernuansa kritik terhadap Prof. Mahfud MD ini perlu saya sampaikan sebagai tanda sayang dan cinta saya pada beliau. Andaikata semalam di ILC beliau sedikit mampu menahan diri berbicara di muka publik, paling tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya secara indah, saya akan sangat salut pada sosok beliau. Untuk soal ke"legowo"an dan menyembunyikan kekecewaan, saya kira kita semua--juga Prof. Mahfud-- perlu belajar banyak dari Sang Guru Bangsa, KH. Abdurrahman Wahid.

Terakhir, setelah menyaksikan tayangan ILC semalam, saya jadi semakin yakin betapa adab, etika dan tatakrama derajatnya jauh lebih tinggi dari pada ilmu. "Al Adabu Fauqol Ilmi." Orang-orang yang sudah mencapai derajat sufi baik dari segi keilmuan atau keimanan tidak akan mau dipertontonkan di acara yang tidak memberikan solusi apa-apa untuk bangsa ini selain perdebatan. Ya. Kecuali mereka yang butuh panggung dan pengakuan.

______________________

*Imam Mudofar, Kader NU Kab. Tasikmalaya, alumni Pondok Pesantren Queen Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar "Legowo" dari Gus Dur "

Post a Comment

close