Mengenal Kiai As'ad dari Karya Tulisnya


Oleh: Ayung Notonegoro*

Nama Kiai Haji Raden As'ad Syamsul Arifin Situbondo bukanlah nama yang asing. Ulama kondang yang akrab disapa Kiai As'ad itu, adalah sosok santri Kiai Kholil Bangkalan yang menjadi mediator pendirian organisasi masyarakat Islam terbesar; Nahdlatul Ulama.

Semasa menjadi santri di Bangkalan, Kiai As'ad mendapat tugas khusus. Ia diperintahkan oleh Kiai Kholil untuk menemui KH. Hasyim Asy'ari di Jombang. Tugas pertama, ia diperintah mengantar tasbih dan lafadz asmaul husna: Ya Jabbar, Ya Qahar. Pada waktu yang lain, ia juga disuruh untuk mengantarkan tongkat dengan surat Thaha ayat 17 - 23. Dari dua isyarat itulah, Kiai Hasyim yakin untuk mendirikan NU setelah sempat bertahun-tahun menunggu isyarah Allah SWT.

Selain dikenal sebagai seorang mediator berdirinya NU, kiprah kiai kelahiran Mekkah, 1897 itu, juga masyhur dengan kontribusi dalam perjuangan yang bersifat militeristik. Pengasuh PP. Salafiyah Syafiiyah Situbondo tersebut, dikenal sebagai komandan Sabilillah wilayah tapal kuda yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi. Perang kemerdekaan, baik melucuti pasukan Jepang maupun melawan NICA, menjadi palagan perjuangannya.

Begitu pula pada era pemberontakan DI/ TII, nama Kiai As'ad tercantum sebagai salah seorang ulama yang masuk barisan KPK (Kiai Pembantu Keamanan). Yaitu, sebuah barisan ulama yang dibentuk oleh Wakil Perdana Menteri RI kala itu, KH. Idham Chalid, untuk menghadapi propaganda Kartosuwiryo cs.

Kiprah militeristik putra KHR. Syamsul Arifin itu, juga semakin terlihat kala menghadapi pemberontakan PKI pada 1965 - 1966. Lagi-lagi ia menjadi "komandan" yang mengepalai pemberantasan kaum bughat tersebut di tapal kuda. Ia tampil sebagai tokoh spritual yang memberikan gemblengan rohani bagi warga Nahdliyin yang hendak menumpas PKI.

Memasuki Orde Baru, peran-peran militeristik mulai ditanggalkan oleh Kiai As'ad. Ia lebih dikenal sebagai sosok guru bangsa dengan kiprah politik tingkat tinggi. Meski tidak memiliki jabatan formal baik di pemerintahan maupun di partai, tapi ia memiliki pengaruh yang besar dalam mewarnai belantika politik. Puncak kiprahnya adalah menjadi salah satu tokoh yang menjadikan NU sebagai organisasi Islam pertama yang menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal.

Sederet kiprah fenomenal dari Kiai As'ad tersebut, menenggelamkan sisi lain dari ayahanda KHR. Fawaid As'ad dan KHR. Cholil As'ad tersebut. Yakni, sisi intelektualitas dan karya-karya tulisnya. Sebagai seorang ulama, ia tak sekadar berkiprah dalam bentuk lelaku saja. Namun juga mengkristalisasi pemikirannya dalam bentuk buah pena.

Ada banyak karya tulis Kiai As'ad, baik yang telah dipublikasikan maupun yang masih berupa manuskrip. Dalam catatan Mohammad Isfironi, Biografi Perjuangan KHR. As'ad Syamsul Arifin 1897 - 1990, ada 11 karyanya yang telah teridentifikasi. Dari karyanya itulah kita mengenal Kiai As'ad sebagai sosok intelektual. Ia berbicara aqidah, sosial hingga sejarah. Ia menulis kitab, risalah hingga puisi.

Karya pertamanya adalah sebuah Syair Madura sebanyak 232 baris. Karya ini ditulis ketika masih menjadi seorang santri. Isinya banyak menggambarkan gejolak kaula muda yang sedang mengalami pubertas. Syair tersebut berisi tentang dinamika pergaulan yang seharusnya ditempuh oleh anak muda. Seperti halnya bagaimana mencari jodoh yang tepat dan sebagainya.

At-Tajlibul Baraqah fi Fadlis Sa'yi wal Harakah adalah judul karyanya yang lain. Kitab yang ditulis pada 1 Jumadil Awal 1375 H/ 15 Desember 1955 itu, berisi kompilasi ayat al-Quran dan Hadits yang menyerukan tentang spirit ekonomi dalam Islam. Di sana ia mengutip dalil tentang awal mula kehidupan, seruan bercocok tanam dan mencari rizki. Kitab ini setebal 31 halaman dengan ukuran 15 x 21,5 cm.

Tulisan lainnya adalah sebuah risalah yang mengupas tentang Shalat Jumat, ziarah kubur dan istighasah. Ada 19 lembar dengan ukuran 16,5 x 21,5 cm. Dengan aksara pegon, karya itu mengutip dari sekitar sebelas kitab muktabarah perihal tiga perkara itu. Lantas, ia menguraikannya dalam bahasa Madura.

Risalah lain Kiai As'ad membahas tentang Isra Mi'raj Nabi Muhammad. Risalah ini ditulis pada 27 Syawal 1391 H/ 17 Desember 1971 dengan ukuran 15 x 21,5 cm. Sebagaimana judulnya, karya ini mengupas hal ikhwal perjalanan Muhammad ke Sidratul Muntaha. Selain itu, karyanya yang berbentuk risalah adalah Risalah Tauhid. Ini merupakan bekal bagi para santri yang telah lulus untuk berdakwah di tengah masyarakat.

Kitab lainnya berjudul Tsalatsul Rasail. Yakni sebuah risalah teologis yang merangkum lima risalah para ulama dunia ke dalam tiga bab pembahasan. Bab pertama tentang asy'ariyah, kedua tentang ahmadiyah dan terakhir tentang ahlussunnah wal jamaah. Risalah yang menjadi referensinya antara lain Kasyfus Syubhah anil Jama'ah Tablighiyah karya Abu Ahmad Abdul Qadir al-Maulawie dan Hidayatul Mahdin karya Syekh Yusuf Akhi asy-Syalabi.

Ada juga karya Kiai As'ad dalam kajian tarekat. Judulnya Hadihi ar-Risalah li Dzikri Bai'ah wa Silsilah al-Qadiriyah wan Naqsabandiyyah. Kitab yang ditulis dalam bahasa Madura aksara pegon itu rampung pada 16 Syaban 1403/ 29 Juli 1983. Isinya tentang silsilah dan amaliah Kiai As'ad dalam menjalankan tarekat Qadirayah dan Naqsabandiyah yang ia dapat dari jalur Syaikh Ahmad Khatib Abdul Ghofar asy-Syambasi dan Kiai Muhammad Ihsan. Masing-masing bersambung hingga ke Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Melengkapi karya di atas, Kiai As'ad juga menyusun kitab al-Aurad al-Yaumiyah. Sebuah kitab berukuran saku yang memuat bacaan dzikir yang diambil dari hadits-hadits Nabi. Dzikir tersebut dibaca setiap hari. Masing-masing hari punya bacaan khusus.

Karya-karya lain Kiai As'ad yang tak biasa adalah Tarikh Perjuangan Islam Indonesia. Karya ini mengupas tentang sejarah Walisongo. Lalu, ada ar-Risalah al-Maimunah fi Ahkamil Intikhabatil Ammah. Kitab ini berupa tanya jawab seputar partai NU dan pemilihan umum. Adapula sebuah karya terjemah. Judulnya Wudluhul Dalail. Ini merupakan terjemah ringkas dari Tanbihul Ghafil wa Irsyadul Mustafidil Aqil karya Sayyid Abdullah bin Sadiq Dahlan. Isinya tentang tarekat Tijaniyah yang sempat menimbulkan kontroversi.

Dari mengetahui karya-karya tersebut, setidaknya kita bisa menempatkan Kiai As'ad pada posisi yang lebih manusiawi. Tidak hanya terpukau dengan sisi-sisi spritualistik dengan serangkaian kisah-kisah karomahnya. Namun, juga menempatkannya sebagai seorang intelektual dan pembelajar. Sebuah posisi dimana bisa diteladani dengan lebih realistis. Yakni, dengan belajar, belajar dan belajar. Wallahu'alam. (*)
_______________________


*Penggiat sejarah pesantren dan NU. Kini aktif sebagai kerani di Komunitas Pegon di Banyuwangi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenal Kiai As'ad dari Karya Tulisnya"

Post a Comment

close