KH. Machrus Ali: Rais Syuriah NU Jatim Pertama dan Terlama


Oleh: Ayung Notonegoro

Nama KH. Machrus Ali bukanlah nama yang asing di kalangan Nahdlatul Ulama, terutama di Jawa Timur. Reputasinya sebagai tokoh yang memiliki peran aktif dalam dinamika sosio-politik kebangsaan, ditambah dengan kebesaran pesantren yang dipimpinnya, menjadi bukti sahih atas popularitas namanya.

Kiai Machrus terlahir dari keluarga pesantren. Ayahnya, Kiai Ali, adalah putra dari Kiai Abdul Aziz, pendiri Pesantren Wot Bogor, Singaraja, Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan ibunya adalah Nyai Hashinah putri dari Kiai Said, pengasuh Pesantren Gedongan di Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat. Tokoh kelahiran 1906 itu pun banyak menempuh pendidikan dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Selain belajar pada ayah dan keluarganya sendiri, Machrus muda juga berkeliling ke kiai-kiai lain untuk belajar.

Pesantren di luar kampungnya yang pertama kali dituju adalah Pesantren Panggung di Tegal yang diasuh oleh Kiai Mukhlas yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Kasingan, Rembang yang dipimpin kala itu oleh Kiai Cholil Harun. Kematangan usia dan keilmuannya, menjadikan Manab - nama kecil Machrus - menjadi lurah pondok. Suatu jabatan cukup prestisius dari seorang santri dalam institusi pesantren.

Tak hanya berhenti di Kasingan, Manab terus melanjutkan pengembaraan intelektualnya hingga ke Lirboyo, Kediri. Ia belajar kepada seorang ulama besar tlatah Jawa, KH. Abdul Karim. Di pesantren yang berdiri sejak 1910 itu, Manab tak hanya mendapat ilmu, namun juga mendapat istri. Ia dinikahkan dengan seorang putri dari Kiai Abdul Karim yang bernama Zainab.

Selain itu ada juga kiai yang menjadi guru Kiai Machrus. Yakni, KH. Hasyim Asy'ari Jombang dan KH. Dalhar Watucongol, Magelang. Pada dua kiai sepuh itu, Machrus tak nyantri secara mukim, namun hanya temporal pada waktu-waktu tertentu.

Sederet pengalaman intelektualnya yang demikian menjadikan Kiai Machrus sosok kiai yang memiliki kwalitas keilmuan yang mumpuni. Tak heran ketika Kiai Abdul Karim mangkat, ia bersama KH. Marzuki - sesama menantu Kiai Abdul Karim - dipasrahi tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Lirboyo. Di tangan dingin keduanya, Lirboyo makin menggeliat. Tak hanya di pendidikan pesantren, tapi juga di pendidikan formalnya. Bahkan, pada 25 Oktober 1965, Lirboyo mendirikan Universitas di mana tak banyak pesantren lain yang melakukannya. Yakni, Universitas Islam Tribakti. Saat itu, Kiai Machrus menjadi rektornya yang pertama.

Perjuangan di NU

Transmisi keilmuan Kiai Machrus yang berkelindan dengan jaringan NU, mau tak mau menjadikannya sosok pejuang yang militan terhadap organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926 itu. Sejak belia ia telah melibatkan diri dalam kegiatan Ke-NU-an. Meski tak tercatat secara resmi dalam struktural kepengurusan NU maupun badan otonomnya.

Menjelang dekade 50-an, baru Kiai Machrus terlibat aktif dalam NU secara struktural. Bahkan, pada 1952, ketika NU menggelar muktamar di Palembang, Kiai Machrus menjadi peserta resmi. Ia jadi utusan dari PCNU Kota Kediri. Sebagaimana kita tahu, muktamar tersebut melahirkan satu keputusan penting, NU memutuskan keluar dari Masyumi dan menjadi partai tersendiri. Kiai Machrud turut mendukung gagasan tersebut, meski kelak ia juga termasuk penggagas agar NU keluar dari gelanggang politik praktis.

Sepulangnya dari Palembang, tepatnya pada 1953, Kiai Machrus dipilih sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Kediri. Lambat laun ia pun terus menanjak karir pengabdiannya di nahdlatul Ulama. Hal ini terbukti ketika NU meresmikan  kepengurusan ditingkat provinsi. Majelis Konsul NU Jawa Timur yang terbentuk sejak 1956, akan diresmikan menjadi kepengurusan wilayah.

Pada konferensi wilayah pertama NU Jatim yang digelar pada 26-28 1959 di Bondowoso itu, Kiai Machrus terpilih sebagai Rais Syuriyah. Sedangkan wakilnya adalah KH. Ridwan Abdullah yang membuat logo NU. Ia berduet dengan Kiai Mahfudz Samsul Hadi sebagai ketua tanfidziyah.

Kepemimpinan Kiai Machrus sebagai Rais Syuriyah PWNU Jatim tak tergantikan sepanjang hidupnya. Meskipun Ketua PWNU Jatim berganti hingga empat kali. Mulai dari Kiai Mahfudz, Kiai Abddulah Shiddiq, Kiai Achmad Shiddiq hingga Kiai Hasyim Latif.

Kepemimpinan Kiai Machrus yang berlangsung seperempat abad lebih itu, tentu tak terlepas dari sepak terjangnya. Meski berkiprah hanya di tingkat provinsi, namun pengaruh dari Kiai Machrus diakui di panggung Nasional. Ia tak pernah absen dalam setiap dinamika Nahdlatul Ulama.

Kiai Machrus dikenal sebagai tokoh juru islah ketika terjadi pertentangan antar tokoh NU di tingkat Nasional. Mulai konflik yang melibatkan antara KH. Idham Cholid dengan Subhan ZE hingga pertentangan antara Kubu Cipete dan Kubu Situbondo. Ada satu ungkapan dari Kiai Machrus dalam meredam konflik tersebut. Sebagaimana tercatat dalam Antologi Nahdlatul Ulama karya Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan (Khalista: 2007)

"Jangankan di organisasi yang melibatkan sejumlah besar orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, baik dari keluarga, pendidikan, maupun asalnya, di rumah saja tak luput dari perbedaan visi dan persepsi. Bukan perbedaan itu suatu rahmat bila disikapi secara dewasa?"

Berkat sentuhan dinginnya dalam memberikan pertimbangan tersebut, Kiai Machrus kerap kali dirujuk sebagai juru islah peredam konflik.

Kiprah lainnya yang cukup penting dari Kiai Machrus adalah keterlibatannya dalam mendorong NU untuk menerima asas tunggal Pancasila. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh KH. Achmad Shiddiq saat diwawancara oleh Andree Feillard yang dimuat di bukunya, NU Vis a Vis Negara (Basi-Basi: 2017)

"... saya bertukar pendapat dengan empat ulama besar yang, bagi saya, merupakan guru: Kiai As'ad, Kiai Machrus Ali dari Kediri, Kiai Ali Ma'sum dari Yogyakarta dan Kiai Masykur dari Jakarta. (....) Mereka menerima argumentasi saya dengan tambahan catatan bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan agama."

Tidak hanya proses penerimaan NU pada asas tunggal Pancasila, pada Muktamar NU 1984 di Situbondo itu, Kiai Machrus juga terlibat aktif dalam mendorong NU untuk kembali ke Khittah 1926. Sebagaimana diungkapkan di awal, Kiai Machrus meski waktu itu masih sebatas muktamirin, tapi terlibat dalam mengantar NU menjadi partai politik pada Muktamar pada 1952 di Palembang.

Akan tetapi, seiring dinamika politik, keputusan tersebut tak lagi relevan dengan dinamika zaman. Muncul penyimpangan-penyimpangan yang justru merugikan NU. Atas hal ini, Kiai Machrus sempat mengeluh: "(Jika) NU kemudian terlalu hubburriyasah dan hubbuljaah (cinta kekuasaan dan cinta kedudukan, lalu apa bedanya yang NU dan yang bukan?"

Dari keluhan tersebut, lantas terkristalisasi dalam gerakan NU untuk kembali ke Khittah 1926. NU tak lagi terlibat dalam politik praktis, termasuk dalam PPP. NU kembali menjadi jam'iyah diniyah ijtimaiyah. Kembali mengurus persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Sisi perjuangan yang banyak terbdngkalai tatkala NU terlalu fokus bergelut pada politik.

Satu hal lain yang tak bisa disingkirkan dari Kiai Machrus adalah kecintaannya pada NKRI. Baginya, hubungan antara Islam dan Negara Indonesia yang termaktub dalam Pancasila sudah final. Tak ada alasan pembenar apapun yang sahih untuk mengubahnya. Tentang hal ini, ada satu kutipan masyhur yang dinisbatkan padanya.

"Haram hukumnya mendirikan Negara dalam Negara, dan tak ada kamus berontak dalam NU," tegasnya.

Ungkapan lain yang tak kalah pentingnya dari Kiai Machrus adalah fatwanya kepada warga Nahdliyin. "Seorang warga NU harus mengembangkan dan mempertahankan Ahlussunnah wal Jamaah," cetusnya. Satu fatwa penting yang senantiasa dipegang erat oleh Nahdliyin, bukan?

Kiai Machrus wafat pada usia 78 tahun. Tepat malam Senin di bulan Ramadan, 26 Mei 1985. Saat itu, ia sempat dirawat selama delapan hari di RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Ia mengabdikan diri sebagai Rais Syuriyah PWNU Jatim selama 26 tahun. Suatu pengabdian yang tak pendek. Hingga kini, tak satu pun rais yang menyamainya.
_______________________

*Ayung Notonegoro, Founder Komunitas Pegon. Komunitas yang bergerak untuk meneliti, mendokumentasi dan mempublikasi khazanah Pesantren dan NU di Banyuwangi.
Tulisan ini didedikasikan dalam menyambut Konferwil Jatim di Lirboyo 28-29 Januari 2018.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KH. Machrus Ali: Rais Syuriah NU Jatim Pertama dan Terlama"

Post a Comment

close