MAHASISWA BERPRESTASI TERPAPAR RADIKALISME


Oleh 
Achmad Murtafi Haris 
(Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)

BNPT menemukan banyak kampus di Indonesia yang terpapar radikalisme Islam. Beberapa kampus beken justru namanya teratas dalam daftar tersebut. Hal yang sama sudah lama terjadi di belahan dunia yang lain seperti Mesir. Di mana pada era 1970-an di Universitas Asyut khususnya di Fakultas Kedokteran  terdapat banyak fenomena radikalisme yang kemudian bermetamorfosa menjadi tidak hanya sebuah pola keberagamaan yang ekstrim tapi menjadi sel terorisme yang angkat senjata melawan pemerintah.  Fenomena itu sering diawali dengan banyaknya mahasiswa yang memanjangkan jenggot dan pemakaian cadar di kalangan mahasiswa wanita. Selain itu mereka tidak segan-segan memisahkan tempat duduk antara laki dan perempuan yang tidak dianggap sebagai masalah sebelumnya. Fenomena tersebut nampaknya merambah di Indonesia yang g terjadi persis sama, yaitu merebaknya faham itu di kebanyakan fakultas eksakta,  baik sains maupun terapan, bukan sosial, humaniora dan agama. 

Telah banyak penelitian tentang kecenderungan jurusan eksakta terpapar radikalisme agama di antaranya adalah karena mereka memang pada posisi awam terhadap ilmu agama sehingga bisa dimasuki pandangan agama apapun termasuk yang radikal. Kedua, mereka yang diterima masuk perguruan tinggi ternama adalah anak didik dengan kompetensi yang baik khususnya secara kognisi dan afeksi. Hal ini menjadikan mereka sebagai individu - individu yang kritis, tekun dan disiplin. Karakteristik yang match dengan karakter figur yang agamis. Sifat tekun dan disiplin jelas sesuai dengan output ajaran agama yang membentuk sikap tekun dan disiplin. Betapa tidak, kewajiban ibadah atas umat Islam seperti shalat, puasa, zakat dan haji tidak mungkin bisa dilaksanakan oleh mereka yang tidak memiliki dua sifat tersebut. Shalat lima waktu terlalu berat bagi mereka yang tidak disiplin apalagi puasa yang menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari tentu tidak mungkin dilakukan kecuali bagi mereka yang tekun dan disiplin.

Dengan demikian mereka yang diterima ke perguruan tinggi negeri dengan seleksi yang ketat menjamin masuknya input yang baik yang bagi penyebar faham radikal dipandang sebagai benih yang potensial. Anak yang nakal yang sulit diatur, jelas bukanlah target utama sebab merekrut mereka membutuhkan kerja dua kali atau lebih untuk merubah karakter seperti yang diinginkan. Karakter bawaan itu semakin diprioritaskan melihat bahwa faham yang mereka bawa mengandung komitmen ekstra dibandingkan dengan komitmen yang ada pada faham mainstream yaitu komitmen perjuangan dan pengorbanan tinggi jiwa-raga-harta. Sementara yang umum berlaku hanya menuntut ketaatan vertikal dan horizontal dalam takaran normal tanpa beban tambahan yang merupakan misi kelompok.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh mereka yang secara akademis bagus, adalah daya kritis yang didasarkan pada paradigma rasional-empiris. Kelebihan ini membuat mereka responsif terhadap perubahan ke arah yang lebih baik. Tawaran yang lebih baik itu seperti pembelajaran ilmu agama sehingga menjadikan mereka yang semula miskin pengetahuan menjadi tahu. Tanpa disadari bahwa pengetahuan agama yang diperoleh kemudian adalah pengetahuan dengan faham yang bermasalah baik secara substansi ajaran agama maupun dalam hubungannya dengan realitas yang ada. Tanpa bermaksud membela faham mainstream, maka apa yang berlaku dalam praktik keagamaan secara umum sudah melalui proses dialog antara agama dan realitas sosial. Tidak semua yang diajarkan dalam agama bersifat wajib, ada yang sunnah dan mubah. Artinya perintah agama tidak selalu harus diterapkan,  di sana ada yang tidak berdosa ditinggalkan jika ia hukumnya sunnah. Demikian juga dengan larangan, tidak semua harus ditinggalkan. Tingkat larangan ada yang haram dan ada yang makruh. Untuk yang pertama larangan itu bersifat mutlak sedangkan untuk yang kedua bersifat anjuran yang artinya dimungkinkan untuk melakukan larangan tapi dengan konsekuensi hilangnya pahala. 

Di sini, di wilayah opsional ini, faham mainstream telah melakukan ijtihad atau upaya hukum (intellectual exercise) dengan mempertimbangkan aspek feasibilitas di tingkat lokal. Sehingga sesuatu yang tidak benar-benar wajib tidak diambil tapi diambil sesuatu yang sesuai dengan budaya atau kebiasaan masyarakat setempat. Seperti cara berpakaian atau berpenampilan, ulama mainstream cenderung bersikap kompromis dengan standar kepatutan umum. Celana 'cingkrang' meskipun ada rujukan dalilnya, karena ia tidak bersifat wajib, maka ulama lebih memilih untuk tidak menerapkannya karena tidak sesuai dengan nilai estetika atau keindahan. Dan banyak lagi hal lain seputar masalah penampilan yang ulama lebih memilih sesuai ukuran budaya setempat. Dalam hal ini, faham radikal justru menginginkan melawan arus dan mengabaikan pertimbangan budaya demi menjalankan ajaran yang sebenarnya tidak wajib mutlak. Mereka yang baru belajar Islam tidak mengetahui hal itu dan dia mengikuti saja apa yang diajarkan oleh ustadznya. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah diajak untuk mewajibkan sesuatu yang tidak wajib dan mengharamkan sesuatu yang tidak haram. Artinya telah berada dalam asuhan faham yang acap bersikap berlebihan (ifrat) dalam beragama.

Potensi kritis yang dimiliki oleh mahasiswa dengan nilai akademis bagus juga rentan terhadap tawaran misi perubahan tanpa menyadari bahwa tawaran tersebut bukanlah perubahan ke arah yang lebih baik tapi justru ke arah kurang baik atau kemunduran karena mengabaikan kemungkinan penyesuaian hukum dengan kondisi yang ada (kontekstualisasi) yang menjadi dasar pertimbangan dalam diperbolehkannya ijtihad. Tentunya hal ini tidak berlaku pada perkara-perkara yang ushul atau yang hukumnya bersifat qat'i.

Oleh penyebar faham radikal, potensi kritis tersebut dimanfaatkan merekrut anggota baru dengan dalih bahwa apa yang banyak berlaku selama ini telah melenceng dari ajaran yang benar dan bahwa kondisi umat Islam telah terpuruk dikarenakan keluar dari ajaran yang benar. Di sini kondisi perekonomian umat Islam dan hegemoni Barat atas dunia dijadikan bukti empiris dalam menawarkan faham baru agar terjadi perubahan radikal tanpa menyadari bahwa siapapun pemimpin umat Islam sedang memperjuangkan hal itu namun tidak sesederhana itu mengatasinya. Di sini potensi kritis termakan oleh pandangan baru yang isinya kesemuanya adalah penyederhanaan masalah. Mereka tidak sadar bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai melalui proses yang berkesinambungan. Kalau bayi belum waktu lahir tapi dipaksa lahir maka yang terjadi minimal keguguran atau maksimal lahir prematur. Dalam keduanya tidak menghasilkan sesuatu kecuali kehancuran dan kemunduran. Ibrahim Musa menyebutkan sebuah pepatah Arab yang berbunyi: "Barang siapa terburu-buru melakukan sebelum waktunya, maka akan diharamkan menuai hasilnya" . Inilah yang terjadi di banyak gerakan Islam radikal di mana mereka pada akhirnya tidak mampu mewujudkan impian kejayaan umat Islam dan yang terjadi justru sebaliknya malapetaka yang tiada henti. Gerakan kritis bagaimana pun tidak bisa mengalahkan sunnatullah bahwa perubahan berproses dan selainnya hanyalah retorika yang tak ubahnya pepesan kosong.

Pandangan bahwa kemunduran umat dikarenakan tidak menjalankan syariat pun merupakan penyederhanaan masalah. Mempararelkan pengamalan ajaran agama dengan kesuksesan duniawi juga tidak bisa diterima sepenuhnya. Hal ini bisa diartikan bahwa orang yang taat beragama mesti harus kaya, terus bagaimana dengan mereka yang taat tapi miskin apa bisa disimpulkan bahwa dia miskin karena tidak menjalankan syariat?! Lebih lanjut apakah benar pemerintah tidak menjalankan syariat? Bukankah penjahat dihukum, koruptor juga demikian, masjid didirikan, sekolah Islam dibangun, orang miskin dibantu, orang sakit dibiayai, anak miskin dibiayai pendidikannya, ziarah ke tanah suci dikelola, Palestina diperjuangkan? Apakah ini tidak termasuk menjalankan syariat?!  Masalah apa pun tidaklah sederhana, faham Islam radikal menjual retorika dan mahasiswa  kritis termakan olehnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAHASISWA BERPRESTASI TERPAPAR RADIKALISME"

Post a Comment

close