Menjaga Pancasila sama dengan Menjaga Indonesia


Oleh: Wasid Mansyur*

Pasca diskusi Cangkir9 di Musholla PWNU Jatim (24/05/18) yang setelah sebelumnya lama tidak mengudara, Komunitas Cangkir9 Jawa Timur akan kembali menyapa publik dengan menghadirkan acara Talk Show Spesial dalam rangka Hari Pancasila 2018 dengan tema "The Alarm of Pancasila; Bumi Indonesia dalam Bahaya Radikalisme dan Terorisme" pada hari Sabtu tanggal 2 Juni 2018. Tema kali ini sangat menarik dan kekinian sehingga mendorong untuk menulis secara khusus kaitan dengan Pancasila dan keharusan generasi kekinian (baca: Millenial) untuk menjaganya.

Perlu diketahui bahwa Pancasila merupakan warisan budaya yang sangat berharga dari para pendiri bangsa (the founding fathers). Berharga sebab Pancasila memuat "consensus gentium" (meminjam istilah Clifford Geertz)  yang harus dijaga oleh siapapun sebagai anak bangsa, yakni semacam konsensus ideologis yang mengikat semua elemen anak bangsa agar hidup dengan semangat persatuan dalam perbedaan (unity in diversity). Artinya, Perbedaan suku, agama dan ras tidak kemudian menjadi jalan perpecahan, melainkan menjadi pemantik untuk terus bersatu agar bangsa ini makin kuat sebab berbeda adalah sunnatullah.

Karenanya, memahami Pancasila harus melihat kesejarahannya secara utuh semenjak lahir, berproses hingga bagaimana ia merespon kekiniannya dalam lipatan kekuasaan. Satu prestasi yang tidak boleh diabaikan dalam sejarah Pancasila adalah kesanggupan para pendiri bangsa untuk melepas segala ke"akuan" atau egoisme-feodalistik, demi menjaga keutuhan NKRI dalam bingkai negara bukan sekuler murni atau islamis murni.
Kesanggupan ini dihari-hari kemudian terus mendapat ujian dan cobaan yang bertubi-tubi menerpa generasi pewarisnya; mulai isu-isu komunisme hingga isu khilafah islamiyyah.

Dengan begitu, mengutip Gus Mus (2009), perlu terus membumikan nilai-nilai Pancasila dengan baik dan terus menerus dijaga dalam rangka merawat perbedaan itu agar tetap damai. Gus Mus menambahkan, nilai-nilai Pancasila jangan hanya dijadikan serimonial belaka, tanpa pembuktian nyata dalam ruang kebangsaan oleh semua pihak; sebagai bangsa yang berketuhanan, berprikemanusiaan, berkeadilan dan bersatu dalam keanekaragaman. Jika tidak, "Dimanakah kau, Pancasila? Masihkah kau ada menafasi bangsa ini?, tegas Gus Mus dalam mengantari buku "Negara Pancasila" karya As'ad Said Ali.

Konteks kekinian yang sangat dirasakan mengancam ideologi Pancasila, bahkan mengancam keutuhan NKRI adalah menguatnya kelompok radikalisme yang terus menyuarakan  khilafah islamiyyah atau penegakan syariah dengan cara-cara yang tidak toleran terhadap yang berbeda.

Disatu pihak, mereka menolak sistem demokrasi, tapi di lain pihak mereka memanfaatkan kultur demokratik yang menghargai kebebasan berpendapat, termasuk untuk menyebarkan ideologinya; misalnya menolak Pancasila sebab dianggap sebagai thaghut.

Mereka tidak segan-segannya menggunakan cara yang kurang bermoral, dengan memanfaatkan media sosial. Misalnya, menyalahkan pihak yang berbeda, bahkan berani ikut serta menghardik atau menghina ulama, sementara keilmuannya tidak sebanding. Bahkan lebih parah lagi hanya bermodal memahami al-Quran dan hadith dari terjemahan atau dari syaikh google sudah merasa paling benar dan menyalahkan ulama yang belajar Islam puluhan tahun dari satu guru ke guru yang lain.

Dalam konteks sosial, pikiran radikal itu menjadi pemicu mereka melakukan teror dengan gaya yang sangat beragam. Gaya yang paling mengejutkan dan kekinian adalah pelibatan orang perempuan dan anak-anak untuk melakukan bom bunuh diri sebagaimana terjadi di Surabaya baru-baru ini. Target mereka mengacaukan keutuhan masyarakat hingga merobek keutuhan NKRI. Kita sedih, anak yang mestinya sibuk belajar dan mengaji, e malah diajak mengebom gereja. Tindakan yang sangat tidak islami, apapun alasannya.

Belum lagi, pikiran-pikiran radikal anti Pancasila menyusup kesendi-sendi institusi negara dari pusat hingga daerah. Gayanya "sok islami", tapi faktanya kurang menghargai keadaban publik.  Karenanya, tidak ada pilihan lagi, bagi kita yang setia pada NKRI, untuk melawan segala anasir yang merusak ideologi Pancasila dan NKRI.

Radikalisme-Terorisme, Lawan !

Perlawanan adalah sikap tidak setuju terhadap mereka yang anti Pancasila. Asumsi dasarnya, ijtihad Pancasilais adalah harga final sebagai perekat yang menyatukan perbedaan antar anak bangsa. Jadi, perlawanan terhadap radikalisme-terorisme adalah jihad sosial -bahkan menjadi jihad agama- untuk menjaga NKRI tetap utuh dan damai. Dan kedamaian penuh cinta adalah pondasi nilai luhur dalam Islam, wama arsanaka illa rahmatan lil alamin. 

Semua elemen harus bersatu kembali melawan radikalisme-terorisme dengan maksud teguhkan deradikalisasi di berbagai medan gerakan. Pasalnya melawan adalah perwujudan "menjaga Pancasila" sebagai langkah gerak "menjaga Indonesia". Dua gerak yang harus dilakukan bersama-sama, Pertama, deradikalisasi di alam nyata, riil social. Deradikalisasi dilakukan dengan menyebarkan pemahaman kepada khalayak akan bahaya radikalisme-terorisme bagi kemanusiaan. Misalnya sebagaimana dilakukan oleh Komunitas Cangkir9 Jatim dari forum diskusi ke diskusi lainnya.

Keterlibatan juru dakwah sejuk sangat penting, intelektual tercerahkan, dan organisasi kemasyarakatan plus organisasi mahasiswa. Ruang terdekat, amankan keluarga, kampus, teman, tetangga dan lain-lain agar semua sering terlibat kegiatan sosial dan menggiring mereka untuk kritis terhadap ambisi kelompok radikal dengan melakukan penolakan sebaran paham radikal sebab pembiaran sebaran buletin radikalisme -misalnya di kampus dan masjid- akan menjadi bom waktu yang mencoreng nama Islam, termasuk asal kampusnya.

Dilain pihak, aparat kepolisian dan TNI harus tegas berjalan bersama dalam melakukan penindakan terhadap kelompok radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI. Tegas, bukanlah bringas. Tapi semangatnya mengajak kembali ke pangkuan NKRI. Jika melawan dan dianggap merusak keamanan publik, maka perlu dialokasir hingga dilumpuhkan dengan tetap melalui cara yang manusiawi. Radikalisme-terorisme bukanlah prilaku Islam, maka tidak bisa dibiarkan, tapi harus dilawan bersama.

Kedua, deradikalisasi dalam dunia Medsos. Ruang ini sangat liar dan terbuka. Banyak "sampah-sampah" radikalisme bisa diakses dengan mudah. Bahkan, kita bisa paham, salah satu pelaku bom, memahami cara merakit bom hanya belajar dari google sebagaimana diantara mereka belajar Islam.

Pegiat medsos anti radikalisme harus bahu membahu dan saling tukar info untuk melakulan counter opini yang mengajak agar umat kembali berIslam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para pewarisnya, yang dengan mengajak bukan "mentung" atau dengan memahamkan bukan mudah menyalahkan, alih-alih mengkafirkan.

Dihari kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni, marilah kita jadikan pemantik kita untuk terus mencintai bangsa Ini. Jalan radikal-teror bukan jalan kebaikan islami, tapi jalan Nafsu beragama, yang berpijak pada perasaan paling benar atau paling "Yes", apalagi harus menyakiti -membunuh- yang lain. Padahal cara merasa paling benar sangat bertentangan dengan etika Qurani, "fala tuzakku anfusakum, huwa a'lamu bi manith Thaqa (al-Najm: 32)

Wal-Hasil, Kutipan Gus Mus dari perkataan KH. Ahmad Siddiq, dalam forum Munas NU 1983 di Situbondo Jatim: "wong barang sudah sekian lama di'makan', kok baru dibahas halal haramnya", menarik direnungkan. Bahwa Pancasila yang sudah lama hidup bersama kita, mengapa harus digugat lagi, dengan mengganti ideologi Transnasional. Padahal upaya gugat adalah langkah kemunduran yang berpotensi memecah belah antar anak bangsa. Jangan mudah kepincut ideologi asing, yang jauh dari kultur keindonesiaan kita yang sejak dulu mudah guyup dan saling menghargai, demi masa depan Pancasila di satu sisi dan masa depan NKRI di sisi yang berbeda. Semoga kita terus diberi kekuatan dan kesadaran oleh Allah SWT. agar istiqamah dalam damai dan harmoni. Dan jauh dari usaha menyakiti dan membunuh orang lain bersama Islam dan Pancasila. Selamat Hari Pancasila di hari Jumat berkah. Amin.
___________________
*Pegiat Komunitas Cangkir9, Dosen UINSA, aktivis LTN NU Jatim

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menjaga Pancasila sama dengan Menjaga Indonesia"

Post a Comment

close