KH. Mukhtar dan Pondok Pesantrean Al-Ulumus Salafiyah, Kebondalem II



Oleh : Mochammad Fuad Nadjib*


Selepas Kiai Mukhtar Faqih menyerahkan kepemimpinan Pondok Kebondalem kepada saudara ipar beliau Kiai Mujri Dahlan, beliau mulai fokus melanjutkan majelis ta’lim yang sebelumnya dipegang oleh Kiai Dahlan. Kiai Mukhtar adalah putra dari Kiai Faqih Maskumambang. Ilmu agamanya diperoleh dari sang ayah. Ibu beliau, Nyai Khodijah binti Ahyad adalah kakak dari Kiai Dahlan Ahyad. Dari runtutan silsilah ini, kiai Mukhtar adalah keponakan Kiai Dahlan Ahyad yang kemudian diangkat menantu oleh beliau. 

Kiai Mukhtar sempat menjadi Takmir Masjid Agung Sunan Ampel sekitar tahun 1960an, ada cerita tentang keistiqomahan beliau yaitu pada tahun 1958 Masjid Agung Sunan Ampel mengalami perluasan yaitu yang sekarang terkenal dengan istilah masjid gantung atau tempat pengimaman sholat rowatib sekarang.

Mengapa dikenal dengan sebutan Masjid Gantung? Karena letak bagian bangunan masjid menggantung di atas makam kuno dengan tiang atau dek disetiap sisi, bukan dicor. 

Ada beberapa pandangan tentang diperbolehkannya membangun sebuah bangunan di atas makam (pada saat itu konteks bangunan yaitu Masjid) dan mayoritas ulama Ampel saat itu memperbolehkan dan sebagian kecil tidak memperbolehkan, salah satu ulama saat itu yang tidak memperbolehkan yaitu Kiai Mukhtar.

Selain tidak memperbolehkan, beliau juga  ulama yang konsisten dan istiqomah terhadap pendapatnya yaitu tidak sah nya sholat di makam (Masjid Gantung), karena pengimaman sholat Jumat saat itu bertempat di Masjid Gantung sedangkan sholat rowatib tidak.

Oleh karena itu setiap beliau sholat Jumat tidak pernah ikut jumatan di Surabaya melainkan di Waru Sidoarjo, karena beliau beranggapan bahwasanya Masjid Agung Sunan Ampel adalah satu-satunya Masjid yang bisa disebut dengan istilah Masjid  Jami’ di Surabaya.

Sesudah bangunan Al-Ulumus Salafiyah berdiri, majelis ta’lim yang sebelumnya bertempat di Pondok Kebondalem dipindah kesana. Ketika majelis ta’lim ini diasuh oleh Kiai Mukhtar, ada beberapa kiai Bangkalan (santri-santri Kiai Kholil Bangkalan) yang biasanya mengikuti pengajian Kiai Dahlan waktu masih hidup, setelah Kiai Dahlan wafat ternyata tetap mengikuti pengajian, walaupun yang membaca adalah Kiai Mukhtar. 

Bangunanan fisik pesantren Al-Ulumus Salafiyah sendiri mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada tahun 1976.



Majelis ta’lim ini dimulai selepas subuh hingga sekitar pukul 8. Selepas pengajian, beliau berdinas bekerja sebagai Ketua Pengadilan Agama Surabaya. Pada malam harinya Kiai Mukhtar memenuhi undangan masyarakat mengaji keliling bergiliran di rumah warga.

Awal mula pendirian pesantren ini adalah untuk masyarakat umum. Namun pada perkembangannya, Kiai Muhtar mulai berpikir bahwa pesantren itu semestinya berkembang lebih modern. Beliau berpandangan bahwa santri bukan hanya harus mengaji tentang agama, tapi santri juga harus menguasai ilmu lain yang diajarkan oleh institusi formal sebagai penunjang kehidupan dunianya agar tidak tertinggal. Demikian pula mahasiswa juga harus belajar agama, sehingga mahasiswa tidak hanya fokus pada ilmu perkuliahan saja.


Karena itulah ketika bangunan Al-Ulumus Salafiyah telah berdiri, beliau banyak sekali menerima santri mahasiswa. Utamanya mahasiswa kampus IKIP Pecindilan yang berasal dari luar kota. Dalam membangun pesantren ini, Kiai Mukhtar dibantu oleh Kiai Zaky Ghufron.

Kiai Zaky Ghufron berpandangan bahwa pesantren Al-Ulumus Salafiyah, selain apa yang  dicita-citakan oleh Kiai Mukhtar, suatu saat akan menjadi sebuah perpustakaan atau pusat literature keagamaan. Meskipun pada akhirnya keinginan kiai Zaky Ghufron tidak sempat terealisasi dikarenakan Kiai Mukhtar lebih dulu berpulang pada tahun 1979.



Selepas Kiai Mukhtar wafat, para kiai yang aktif di struktural NU Surabaya berinisiatif melanjutkan majelis ta’lim ini secara bergiliran. Hal ini tidaklah mengherankan karena Kiai Mukhtar selain menjabat sebagai ketua Pengadilan Agama Surabaya, beliau juga menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya sejak 1965 hingga beliau meninggal.

Diantara para kiai yang meneruskan majelis ta’lim ini adalah Kiai Tohir Syamsuddin, Kiai Hamid Siradj, Kiai khamim, Kiai Abdul Hafid, Kiai Bisyri Al-‘Ali Mojokerto, dan Kiai Miftahul Akhyar hingga pada sekitar akhir 1980an.

Meski kedua pesantren ini kini seakan berhenti, namun perlu dipahami bahwa kiai-kiai Kebondalem memiliki santri yang kemudian mendirikan pesantren dan meneruskan perjuangan beliau mendidik masyarakat.

Meskipun banyak kiai Kebondalem yang mendirikan pesantren untuk memiliki santri-santri yang dikemudian hari akan menjadi kiai layaknya pendahulu mereka. Anak-cucu Kiai Ahyad sendiri adalah aktivis-aktivis yang memiliki track record panjang berkiprah untuk NU khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Pada titik ini kita bisa memahami bahwa jariyah ilmu dari beliau-beliau: Kiai Ahyad, Kiai Dahlan, Kiai Mukhtar, Kiai Mujri Dahlan dan Kiai Hadi Dahlan tidak berhenti dan lalu terputus meski kini pesantren beliau seakan diam.
____________________


*Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya, PW LTN-NU JATIM


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KH. Mukhtar dan Pondok Pesantrean Al-Ulumus Salafiyah, Kebondalem II"

Post a Comment

close