MCA; Komplotan Berbaju Agama


Oleh: Wasid Mansyur*

Terbongkarnya komplotan Muslim Cyber Army (MCA) menunjukkan baju agama seringkali masih digunakan sebagian pihak untuk memenuhi hasrat nafsunya, daripada betul-betul untuk urusan dakwah mengajak jalan kebaikan. Semangat dakwah luluh lantah, hanya sekedar ingin capaian materi atau target kondisi sosial rusuh.

Sengaja, penulis menyebut MCA sebagai komplotan, bukan komunitas, sebab dalam kamus Besar bahasa  Indonesia disebutkan bahwa komplotan adalah persekutuhan rahasia yang bermaksud melakukan kejahatan. Baju agama hanya dibuat kedok dan legitimasi -bagi MCA- -untuk meyakinkan publik bahwasanya komplotan yang dimaksud itu baik. Maka, jangan tertipu oleh simbol luar!

Sambil sembunyi-sembunyi bermain di dunia maya -sesekali kopdar- anggota komplotan MCA yang menyebar di berbagai daerah di Indonesia memiliki "kerajinan merakit" berbagai isu-isu yang meresahkan masyarakat, bahkan isu-isu yang berpretensi menimbulkan konflik horizontal antar anak bangsa bila dibiarkan.  Misalnya melalui isu sara atau sebar ujaran kebencian kepada sesama anak bangsa, sambil menggiring mereka agar saling curiga dan saling menyalahkan hingga terjadi ketegangan dan konflik. 

Sungguh nafsu kotor ini jauh dari semangat agama. Sungguh keji, agama hanya dibuat tameng; tameng untuk mengelabui publik. Maka, kita harus berpikir cerdas dengan istiqamah melakukan koreksi atau tabayyun terhadap kabar-kabar apapun yang datang dari berbagi kiriman. Cerdas tidak cukup, butuh perlawanan massif agar kita juga membuat share-share konten yang produktif-progresif dan menyegarkan otak serta menyejukkan hati sebab "mayoritas yang baik, jangan mudah dikalahkan oleh hasutan minoritas yang keji dan jahat".

Keji Berbaju Agama

Manusia wataknya adalah berperadaban (al-insan  madaniyyun bi thab'i), tegas ibn Kholdun dalam kitabnya "Muqaddimah ibn Kholdun". Ungkapan ini menegaskan bahwa bahwa watak kita sebagai manusia memiliki keterhubungan dengan sejenis, termasuk dengan lintas jenis agama, suku dan ras sesuai dengan semangat dari kata "madaniyyu" yang nisbat kepada kota Madinah. 

Apa yang dilakukan MCA termasuk komplotan saracent sebelumnya merupakan langkah yang keluar dari tabiatnya sebagai manusia, yakni manusia yang memiliki keterbukaan untuk berhubungan lintas batas dengan semangat satu membangun peradaban kebaikan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. di kota Madinah. Dan piagam Madinah adalah model peradaban warisan Nabi yang mengakomodir semua golongan untuk negara Madinah yang kuat, bersatu dan menyejahterakan. 

Di samping itu, penggunaan istilah Muslim dalam komplotan MCA menunjukkan kejinya mereka menghalalkan segala cara. Ujaran kebencian, hoax dan hasut adalah prilaku-prilaku yang sangat dilarang orang Islam. Jangan kotori kalimat "Allah Akbar" dengan kebencian dan hasut kepada sesama. Dan jangan hanya pilihan politik beda atau kecewa terhadap yang berkuasa, bahasa-bahasa agama diseret untuk membenarkan tindakan keji MCA 

Kita membutuhkan kedewasaan dalam membangun peradaban kemanusiaan. Kedewasaan bukan hanya soal umur, tapi soal cara pandang dalam memaknai Islam dalam konteks beragama dan berbangsa. Sungguh, MCA tidak memiliki hati nurani untuk terus menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar masuk bagian dari proses beragama. Padahal, makin kita yakin terhadap keagungan makna kalimat "Allah Akbar", mestinya kita semakin yakin pula untuk tidak mudah sombong dan muda mengumbar kebencian kepada sesama sebab Tuhan yang maha Esa, begitu memulyakan segenap manusia (wa laqod karramna bani Adam).

Sudah saatnya, agama tidak "diseret-seret" untuk kepentingan sesaat keduniaan. Langkah menyeretnya berlebihan berpeluang pelakunya lupa diri akibat mendambakan impian dan target keduniaan. Potensi keji ini yang kemudian nilai-nilai luhur agama tergadaikan oleh "kebencian" dan kabar hoax, hanya sekali lagi sebagai media untuk memperoleh kepuasan pragmatis. 

Kita berharap, kasus MCA menyadarkan kita semua. Sadar untuk bisa berhati-hati terhadap kelompok tertentu, yang mudah menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan sesaat. Jika tidak, maka kita berarti juga kurang peduli merawat dan menjaga visi Islam yang rahmat. 

Bagi anggota-anggota MCA, baik yang telah berurusan dengan polisi atau yang masih berada dalam persembunyiannya, saatnya mereka semua taubat, yakni kembali pada jalan beragama yang holistik, tidak berpikir sempit, apalagi menggunakan agama untuk capaian keduniaan sedikit, termasuk kepentingan politik sesaat. 

Semua pihak harus melibatkan diri agar tidak ada lagi model komplotan MCA atau dengan nama yang berbeda, tapi potensi dan gayanya sama. Lebih dari itu, masyarakat harus sadar sejak dini untuk tetap mengamalkan dan mengajarkan Islam, tanpa kebencian, tanpa teror dan tanpa hoax. Dengan cara ini peradaban kemanusiaan terbangun dalam ruang kerja sama dan tolong menolong, sekalipun dalam ruang sosial ada perbedaan.

Akhirnya, janganlah hawa nafsu menjadi pemandu kita, agar peradaban kemanusiaan terjaga. Kasus seperti MCA mengajarkan kita bahwa share-share yang menyulut kebencian tidak hadir tiba-tiba, melainkan terdesain dengan Baik. Bukan hanya terdesaian dengan pendekatan materi atau fulus. Tapi juga, penggunaan simbol-simbol agama dalam rangka agar mudah menarik simpati publik. Cukuplah MCA, menjadi model bagaimana kejinya komplotan berbaju agama, yang selalu menebar hoax dan kebencian di era millenial saat ini. 

Semoga kita sehat dan istiqamah di jalan moderat keislaman dan kebangsaan hingga akhir hayat. Dan dijauhkan dari keterlibatan ikut andil dengan komplotan yang merusak nilai-nilai luhur keislaman, sekaligus sejuk berbeda dalam semangat kebangsaan.  
__________________

*Dosen Fahum UIN Sunan Ampel Surabaya dan Wakil LTN NU Jatim

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MCA; Komplotan Berbaju Agama"

Post a Comment

close