KH. Abdul Ghani Pendiri Pondok Tahsinul Akhlaq, Rangkah Surabaya


Oleh: M. Ghozi Ubaidillah As-Shodiq (PC. Matan Surabaya)

Pondok Rangkah atau Tahsin, begitu rata-rata sebutan masyarakat umum terhadap keberadaan pondok pesantren Tahsinul Akhlaq Bahrul Ulum yang beralamat di Rangkah Buntu I No.9A, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, adalah sebuah pesantren tradisional yang dirintis oleh KH. Abdul Ghoni bin H. Abubakar beserta putri beliau, Hj. Siti Muayyadah.

Pesantren ini beraliran salaf dan menitikberatkan pada ilmu-ilmu fiqih dan tasawuf dasar. Meski dalam perkembangannya juga pernah menerima santri hafalan (Tahfidzul Qur'an) dan anak-anak yatim-piatu, namun usaha itu pada akhirnya tampak kurang sukses.

Yatiman adalah nama kecil beliau, dan kemudian hari setelah mondok diganti menjadi Abdul Ghoni. Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara putra pasangan bapak H. Abu Bakar alias 'Ashiman (nama sebelum menunaikan ibadah haji) dan ibu Yatimah. 

Latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan beliau baik formal maupun informal kurang begitu diketahui, yang jelas banyak dikisahkan bahwa beliau juga pernah mengaji (nyantri kalong, santri yang tidak tinggal di pondok) kepada KH. Dahlan Ahyat, Kebon Dalem - Surabaya. 

Disamping itu, beliau juga sering mengikuti majlis taklim-nya KH. Muhammad bin Yusuf, Sukodono - Surabaya, dan masih banyak guru Beliau, seperti Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki (yang kebetulan pernah datang ke pondok rangkah), KH. Ma'ruf Kedung lo, Mbah Wali Idris (rangkah II), Mbah KH. Anwar rangkah/jl. Kenj, Mbah KH. Wahab Hasbulloh jombang dan juga Mbah KH. Romli Tamim peterongan jombang yang menjadi Guru (bai'at) dalam dunia Thoriqoh / Tasawwuf.
Selain itu Beliau juga sering sowan ke Habib Muhammad Bin Husein Al Aidrus (Habib Neon).

Pernah di ceritakan Oleh KH. Mashduqi (Putra ke 3/Kakak KH. Miftahul Akhyar) bahwa beliau pernah sowan Ke Habib Neon menceritakan perihal hal ihwal putra pertamanya yang majdzub (KH. Ahmad Baidhowi) yang suka nyeleneh dan tidak pernah pulang, kemudian dijawab oleh Habib Neon "biarkan saja, nanti kalo sudah matang pulang sendiri".

KH. Abdul Ghoni juga berguru kepada Syekh Masduqi Lasem (juga besan), KH. Zubair sarang, KH. Abdul Hamid pasuruan dan masih banyak lagi guru beliau.
Dan salah satu Guru beliau yang selalu hadir di acara rutinan Haul Syekh Abdul Qodir Al Jilany di rangkah, yaitu Habib Abdulloh bin Abdul Qodir Bilfaqih Malang, 

Pernah diwaktu para hadirin menunggu lama kehadiran Habib Abdulloh (yang memberikan Mauidhoh Hasanah), hujan pun turun rintik-rintik, akhirnya para hadirin beranjak pulang, tak berselang lama Gus Ud (KH Mas'ud, Waliyulloh sidoarjo) menaiki panggung dan menyuruh para hadirin untuk tetap tenang karena Kiyainya akan datang, kemudian tak lama Habib Abdulloh Malang pun datang dan para Hadirin kembali dengan bersyukur.

Metode Dakwah KH. Abdul Ghani

Sebagaimana kebiasaan para ulama' salaf terdahulu, ada semacam anggapan dan kebiasaan bahwa seorang santri yang telah menamatkan ilmunya di sebuah pesantren kurang etis jika langsung duduk menetap mendirikan pesantren dan menjadi kyai (Madeg Pandhita). Mereka akan lebih dulu berdakwah keliling, dari pintu ke pintu (door to door) dan dari satu majlis ke majlis yang lain. Ibarat orang berbisnis itu harus dari bawah dulu agar bisa lebih menjiwai dan bijaksana. Begitu pula dengan filosofi dakwah para salafus solih, disamping ittiba' Rasulullah SAW mereka juga merasa bahwa menjadi ulama' itu untuk melayani, bukan dilayani. 

Hal seperti inilah yang mungkin juga dianut oleh KH. Abdul Ghoni saat masih muda, bersepeda berkeliling dari suatu majlis ke majlis yang lain di kampung-kampung. Ini dilakoninya sejak sekitar era 1930-an hingga era 1960-an. 

Banyak suka dan duka yang telah beliau alami, dan beliau adalah termasuk orang yang tekun, ikhlas, dan tak mau neko-neko dalam berjuang di jalan Allah SWT, sehingga waktu berdakwah di daerah Kali Lom (sekitar Kedung Cowek) beliau sempat diambil menantu oleh seorang tokoh di lingkungan tersebut meski akhirnya tak bertahan lama dan terpaksa berpisah.

Tapi tak lama kemudian, sekitar tahun 1936 salah seorang Kyai di daerah Kedung Pengkol, yaitu KH. Ishaq bin Idris, berminat untuk menjadikannya sebagai menantu, dijodohkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Siti Ashfiyah.

Berdakwah adalah panggilan untuk berkhidmat kepada ummat Nabi Muhammad SAW, dan berkhidmat itu tentu butuh perjuangan yang konsisten, sanggup menghadapi segala cobaan dan penderitaan lahir-batin. 

Syahdan, ada cerita sedih, sekitar tahun 1950-an, saat berdakwah di daerah Gebang dan Asem Payung (dua kampung yang masih bertetanggaan di kecamatan Sukolilo), beliau diuji oleh Allah dengan cobaan berupa intimidasi dan perlawanan dari warga kampung yang terkenal sangat doyan tandakan dan budaya-budaya kaum abangan lainnya, juga para pemudanya yang terkenal hobi pencak silat.

Di kampung Asem Payung itu beliau saat berdakwah dilempari batu, begitu juga di kampung Gebang, beliau sering diancam hingga ditantang berkelahi secara massal (akan dikeroyok) dengan senjata terhunus oleh para pemudanya. 

Pelajaran bagi kita sebagai generasi penerus adalah kita tak boleh marah, sedih, ataupun mengkeret alias berkecil hati, justru inilah yang Insya' Allah menjadi sebuah kehormatan bagi beliau karena sejak dulu ujian-ujian seperti ini sudah sering ditimpakan kepada hamba-hamba Allah yang solih.

Jika hanya dilihat secara lahiriah, bisa dibilang beliau gagal total dalam berdakwah di kedua kampung tersebut karena beliau kemudian memutuskan untuk keluar dari kampung tersebut (meskipun demi keselamatan jiwanya). Namun Insya' Allah secara bathiniah langkah beliau telah diridlai Allah SWT, bahkan kita harus bersyukur beliau tidak punya ilmu macam-macam atau aneh-aneh seperti ilmu kekebalan ataupun kesaktian. Karena ilmu-ilmu semacam itu hanya akan mempersulit manusia saat menjelang dipanggil menghadap-Nya nanti dan akan membebani saat dihisab di akhirat kelak. 

Mengungsi di Masa Peperangan

Pada masa perang kemerdekaan, para penduduk asli di Surabaya beberapa kali dihimbau agar mengungsi keluar kota demi keselamatan keluarganya. Dan beliau yang saat itu anak-anaknya masih kecil-kecil terpaksa ikut mengungsi beserta keluarga dan kerabatnya ke daerah Kedung Cangkring, Porong - Sidoarjo. 

Disana beliau kehilangan salah seorang adiknya yang bernama Muhammad Rois (meninggalkan seorang anak yang masih kecil bernama Siti Jazila) dan dikebumikan di pemakaman setempat. Selain di Kedung Cangkring beliau juga sempat melanjutkan pengungsiannya ke daerah Cukir, Diwek - Jombang.

رب فانفعنا ببركتهم * واهدنا الحسنى بحرمتهم
وأمتنا في طريقتهم * ومعافاة من الفتن

Ya Alloh ya Tuhanku, berilah manfaat kepada kami dengan barokah mereka, dan tunjukkan kepada kami kebajikan dengan berkat kehormatan mereka.
Dan matikanlah kami dalam jalan mereka, serta selamatkanlah kami dari fitnah
Amin.
_______________

*Tulisan ini didedikasikan untuk Haul KH. Abdul Ghoni 31 Maret 2018. Surabaya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KH. Abdul Ghani Pendiri Pondok Tahsinul Akhlaq, Rangkah Surabaya"

Post a Comment

close