Hujan Iringi "Berpulangnya" KH.R Abdul Hafidz AQ

Foto: KHR. Hafidz dan KHR. M. Najib


Oleh: Ifdlolul Maghfur

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun KH.R Abdul Hafidz Bin KH.R Abdul Qodir Bin KH. Muhammad Moenawir Pondok Pesantren Madrasah Hufadz II Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, kapundut pada hari Selasa tanggal 05 Maret 2018, atau 17 Jumadil Akhir 1439 pukul 16.30 WIB di Krapyak Bantul dalam Usia 57 Tahun. Saya menilai  beliau "min ibadis sholihin dan termasuk golongan orang-orang yang terpilih, kekasih Allah SWT".

Dikisahkan Raden Hafidz di usia 7 bulan tatkala dalam kandungan Nyai Salimah, ditinggal ayahandanya yaitu KH.R Abdul Qodir. Hal ini persis ketika Nabi Muhammad SAW dalam kandungan Siti Aminah di usia 7 bulan dan  lahir dalam keadaan yatim, lantaran ditinggal ayahandanya, Abdullah.

KH. Raden Hafidz urutan anak ke 8 dari 7 bersaudara diantaranya sebagai berikut, KH.R. Abdul Qodir mempunyai keturunan dari Nyai. Hj Salimah (Jejeran, Yogyakarta) : 1. Ning Fatimah (Wafat) 2. Ning Nurjihan (wafat) 3. Gus Widodo (wafat) 4. Nyai. Hj. Ummi Salamah 5. KH.R Muhammad Najib 6. Nyai. Hj. Munawwaroh 7. KH.R Abdul Hamid 8. KH.R Abdul  Hafidz.

Semenjak saya mondok di Krapyak tahun 1999 tepatnya bertempat di Madrasah Hufadz II melihat dan merasakan sendiri kegiatan keseharian KH. Raden Hafidz, beliau bangun jam 02.30 dini hari sampai malam berikutnya, kedisiplinan dan keistiqomahannya dalam mengajar Al-Qur’an tidak pernah terlambat kecuali ada udzur atau sakit.

Dalam membina keluarga beliau sangat sabar dan sangat sayang kepada istri tercinta, Nyai Hj. Nur Lailiyah. Tak ketinggalan pula putra-putrinya dididik penuh kasih sayang dengan mengutamakan pendidikan agama agar senantiasa beribadah kepada Allah, mengajak istiqomah sholat berjama’ah, mengajarkan serta menanamkan cinta Al-Qur’an kepada anak-anaknya (setiap ba’da sholat Maghrib), dan untuk para santri (ba’da sholat Shubuh).

Dalam kegiatan bermasyarakat,  KH. Raden Hafidz selalu datang menghadiri undangan masyarakat sekitar, beliau tidak pernah memandang siapa yang mengundang dari kalangan kaya ataukah orang miskin.

Ada sebuah kisah, suatu saat KH. Raden Hafidz diundang untuk mengisi acara muslimat di sekitar Krapyak, ketika itu saya disuruh menunggu diluar acara pengajian, saya mendengarkan pengajian dengan tema keluarga sakinah. Isi wejangan tersebut bersandarkan tuntunan al-Qur’an dan hadits serta diselingi dengan humor yang berhubungan dengan tema pengajian.

Kurang lebih dawuh beliau begini: “tiang estri niku wajib nderek tiang jaler, menawi mboten purun manut nggih dipukul, lha menawi kulo piyambak, mboten ngantos kulo pukul, nanging kulo pukul kasih sayang, koyok dielus-elus pipine lan lintu-lintune” (seorang istri itu harus tunduk dengan suami, kalau tidak tunduk harus dipukul, kalau saya tidak memukul tapi saya pukul dengan kasih sayang seperti dibelai pipinya dan lain-lain). Spontan jamaah yang mendengarkan tertawa.

Di Pondok Pesantren Al- Munawwir dan Pondok Pesantren Ali Maksum, KH. Raden Hafidz juga menjadi Juru Bicara pihak Keluarga Pondok setiap ada kegiatan maupun pertemuan, mulai rapat pengurus Pondok, pengurus Ahlen Muda sampai level regional maupun Nasional seperti menjadi Khotib Jum’ah menggantikan Alm. KH. Zainal Abidin bin KH. M. Moenawir.

Tak jarang KH.R Hafidz didaulat untuk memberikan Mauidhoh Khasanah mendampingi kakaknya, KH.R Muh. Najib AQ di setiap acara pondok maupun di luar pondok. KH. R. Hafidz juga menjadi guru di Mts-MA Ali Maksum sampai mengajar Al-Qur’an di Komplek Mahasiswa Ali Maksum. Bahkan mengajar khusus di Madrasah Hufadz.

Penulis sebagai santri yang mereguk ilmu dari KH. R Hafidz, tidak akan melupakan mauidzoh hasanah, sanad ijazah dari masyayikh (guru-guru) Raden Hafidz, yang ahlul quran, ulama serta para auliya’ tatkala KH.R Hafidz sowan dan silaturohim kepada beliau-beliau. Diantara masyayikh tersebut adalah Mbah  Dimyati Pandeglang Banten, Mbah Ali Maksum, Mbah Mundzir Kediri, Mbah Mufid Pandanaran, Mbah Nawawi Bantul, Mbah Ahmad Siddiq Jember, Mbah Abdul Salam Kajen, Mbah Arwani Kudus, Mbah Sahal Mahfud Pati, Mbah Dalhar Magelang, Gus Miek Kediri.

KH. Raden Hafidz pernah mendapatkan anugerah nikmat yang tidak terhingga dari Allah SWT melalui Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yaitu diberangkatkan beribadah haji gratis, cukup dimintai foto copy KTP (kartu tanda penduduk) saja langsung berangkat ke tanah suci Makkah Al-Mukarromah bersama para ulama-ulama Khos yang sesuai permintaan Gus Dur.

Sebelum berangkat beribadah haji, penulis dipanggil KH. Raden Hafidz yang saat itu membersihkan sepeda motor kuno, “Le, rene, al-hamdulillah aku dibudalno haji gratis teko Gus Dur mek syarat foto copy KTP tur tak sebulno Fatihah peng pisan, nek ora moco fatihah ora bakal berangkat, ngene iki nek ora podo waline ora iso budal” (Le “arti panggilan bapak kepada anak” nak ke sini al-hamdulillah aku diberangkatkan haji gratis dari Gus Dur dengan syarat Foto Copy KTP serta saya tiupkan surat Fatihah satu kali, kalau tidak dibacakan surat Fatihah tidak diberangkatkan, begini ini kalau tidak sama derajat walinya tidak bakal bisa berangkat haji).

Penulis mendengarkan pembicaraan tersebut sambil tertawa kecil, antara percaya dan tidak, apakah KH. R. Hafidz Waliyullah ataukah tidak, wallahu a’lam.
Kalau melihat selama ini, penulis menjadi santri di Al-Munawwir, ketika itu ada pertemuan Ahlen muda (KH.R. Najib, Gus Uji, Gus Fahmi, Gus Haidar, Gus Hilmi, Gus Zaki, Gus Muhtarom Ahmad, Gus Muhtarom Busyroh, Gus Asid, Gus Munawwar, Gus Zaini, Gus Najib, Gus Munawwir, beserta para Pengurus senior Pondok) di rumah Gus Afif bin KH. Hasbullah cucu Mbah KH. Ali Maksum, waktu itu KH. R. Hafidz menjadi pembicara.

Di tengah-tengah acara Ahlen Muda Mbah Moenawir itu, datanglah Gus Kelik (Putra Mbah KH Ali Maksum), KH.R Hafidz tiba-tiba nyeletuk “Lha iki waline wis teko” (Nah, ini walinya sudah datang) para Ahlen Muda tertawa semua, Gus Kelik menjawab “isok wahe Mas Hafidz iki” (bisa saja Mas Hafidz ini).

Keajegan KH. Raden Hafidz menjaga sholat lima waktu tak terbantahkan lagi, buktinya sebelum beliau meninggal, ketika masih di RS Sardjito Yogyakarta, KH. R. Hafidz berulangkali mengusap wajahnya seperti orang yang melakukan Wudhu dan minta diambilkan kopyah didepannya untuk melakukan sholat bersama Bu Nyai Lail dan para santri yang menjaganya di Pavilium Cendrawasih Kamar 103 RS. Sardjito Yogyakarta.

Kini beliau telah tiada, akan tetapi maqolah, akhlaqiyah, amaliah,  yang didedikasikan untuk santri dan umat islam, khususnya nahdliyyin patut diteladani. Hujan mengiringi berpulangnya KH.R hafidz seakan alam raya ikut berduka. Ketika jenazah KH. R. Hafidz dikeluarkan dari ruang Aula madrasah hufadz untuk disholatkan terakhir di Masjid Al Munawwir,  cuaca yang asalnya panas tiba-tiba berubah mendung gelap, kemudian tatkala KH.R Muh. Najib AQ mulai berdo'a, gemericik hujan jatuh sampai prosesi pemakaman selesai.

Selamat jalan, Kiai. Selamat berjumpa dengan para kekasih Allah. Seluruh nasehat panjenengan akan tetap terpatri dalam relung hati.

KH. Raden Hafidz wafat meninggalkan seorang Istri, Nyai Hj. Nur Lailiyah dan mempunyai keturunan: 1. Raden Azka (di Mesir) 2. Ning Salma 3. Ning Najwa 4. Raden Aufa. Semoga amal beliau diterima oleh Allah SWT dan semoga perjuangan Raden Hafidz dilanjutkan oleh keturunan maupun santri-santrinya.

Demikian sekelumit cerita dari penulis. Ifdlolul Maghfur alumni tahun 1999-2008, Pondok Pesantren Madrasah Hufadz Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, sekarang menjadi Pengurus PW LTNNU Jawa Timur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hujan Iringi "Berpulangnya" KH.R Abdul Hafidz AQ"

Post a Comment

close