Pembaharuan Islam: dari Rumah Besar Menjadi Rumah Kecil


Oleh: Achmad Murtafi Haris (dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)*

Pembaharuan Islam adalah gerakan perubahan paradigma keislaman dalam segala aspek kehidupan. Hal ini setara dengan revolusi sosial di Eropa pada abad ke-18 yang melahirkan revolusi Prancis dan kemerdekaan Amerika dari Inggris. Berbeda dengan revolusi Eropa yang terbukti menghasilkan kemajuan dan kemakmuran di kalangan masyarakat Eropa, maka revolusi Islam tidak menghasilkan hal yang sama. 

Revolusi Eropa berbuah lahirnya Republikisme, Sekularisme dan Liberalisme sementara dunia Islam melahirkan Kemerdekaan dari penjajahan Barat dan terbentuknya negara-negara republik, anti-sekularisme dan anti-leberalisme. 
Pada tataran tercapainya kemerdekaan negara-negara Islam dari cekeraman Barat, gerakan revivalisme Islam jelas membuahkan hasilnya yang sangat ranum. 

Tapi pasca tercapainya kemerdekaan, gerakan revivalisme Islam atau pembaharuan Islam tidak mampu menghasilkan sesuatu yang mampu mengisinya dengan paradigma dan gerakan yang secara gradual mengantarkan pada capaian-capaian baru yang signifikan. Yang terjadi kemudian adalah friksi, pertentangan, ketegangan dan konflik antar kelompok umat Islam sendiri termasuk di dalamnya antara kelompok pembaharuan sendiri. 

Peranan gerakan pembaharuan Islam dalam memerdekaan negara-negara Islam tidaklah diragukan. Di mesir, Tunisia dan negara-negara Islam Afrika Utara, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Rida dan sejawatnya pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 telah berhasil menginspirasi gerakan kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajahan Barat atas mereka. Di Indonesia Presiden Soekarno kerap mengutip ide-ide kebangkitan Islam dari mereka dan menjadikannya sebagai inspirator dalam melawan penjajahan Belanda. 

Demikian juga dengan Ali Jinnah, Muhammad Iqbal dan Maududi di pakistan dan kawasan Asia Selatan telah mengobarkan semangat kebangkitan umat Islam dan mendorong tercapainya kemerdekaan. Namun, setelah kemerdekaan tercapai, gerakan pembaharuan ternyata melahirkan kelompok-kelompok Islam yang terus-menerus berseberangan dengan penguasa yang ada yang berdampak pada sulitnya tercapai konsensus-konsensus nasional sebagai modal utama dalam pembangunan bangsa dan negara. Yang terjadi kemudian adalah pertarungan tiada henti antara kelompok nasionalis sekular dan kelompok Islam Ideologis yang terlahir dari rahim gerakan pembaharuan Islam.

Dari mereka muncul sempalan radikal yang mirip kelompok chauvinis yang tidak bisa berhenti berperang meski sebenarnya perang telah dimenangkan dan berhenti. 

Sebenarnya, antara kelompok nasionalis dan Islam, mereka sebagai sesama saudara seiman memliki genologi pembaharuan Islam tapi dari variant yang berbeda. Kelompok nasionalis terlahir dari variant Islam liberal yang lebih menekankan pada kompatibilitas Islam dengan peradaban modern yang telah dicapai oleh Barat. 

Sementara kelompok Islam ideologis terlahir dari variant Neo-fundamentalisme yang lebih menekankan pada ketaatan ajaran agama atau penerapan syariat. Pembaharuan Islam sejatinya mengadopsi keduanya, baik kompatibilitas dengan peradaban Barat dan ketaatan agama. Hanya saja dalam perkembangannya, kelompok yang pertama kemudian berkembang sebagai pengusung paradigma modern yang pro peradaban Barat dengan role model yang telah ada di Barat sementara yang satunya terus berjuang mewujudkan konsep Islam tanpa memiliki role model pada salah satu negara Islam yang ada. 

Sebagai sebuah gagasan besar, ide pembaharuan Islam tidak mungkin berujung pada satu bentuk tunggal. Ide besar selalu melahirkan variant-variant yang kesemuanya bertujuan pada kemajuan umat Islam. Muhammad Abduh sebagai tokoh pembaharuan memiliki banyak anasir pemikiran yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya dengan penekanan pada unsur yang berbeda-beda.

Dalam hal ini Thoha Husein, yang dikenal sebagai salah satu bapak sekularimse Islam, adalah pengikut Abduh yang menekankan pada modernisme sementara Rashid Ridha yang juga muridnya menekankan fundamentalisme Islam atau penerapan syariat.

Orientasi yang berbeda tersebut kemudian terus berkembang dan menjadikan satu sama lain benar-benar terbelah.  Masing-masing memperjuangkan ideologinya dan bertarung satu sama lain dalam ranah politik untuk memenangkan ideologinya sebagai ideologi negara. Ibarat as roda sepeda, maka as itu memiliki banyak jeruji yang masing-masing akan saling jauh satu sama lain jika posisinya jauh dari as. 

Ketidakmampuan mereka dalam mencapai konsensus bersama melalui meja kompromi untuk mencapai win-win solution adalah penyebab dari munculnya konflik politik yang berdarah-darah di Timur Tengah. Berbeda dengan Revolusi Eropa yang berbuah lahirnya pemisahan antara urusan agama dan dunia di mana yang pertama menjadi wewenang agamawan dan yang kedua menjadi wewenang politisi sehingga kaum agamawan tidak lagi memperjuangkan agama sebagai ideologi negara, maka yang terjadi di umat Islam justru ingin melibatkan agama dalam urusan politik. 

Dengan standing position seperti ini maka tidak ada tawaran lain kecuali institusi agama dilibatkan dalam diskursus politik atau dikanalisasi dan diciptakan aturan main yang bisa menjamin partisipasi kaum agamawan. Hal ini sebagai konsekuensi dari konsensus umat Islam sedunia yang menolak sekularisme. Tanpa adanya aturan main yang diciptakan bersama dan ditegakkan bersama maka konflik sektarian akan rawan terjadi. 

Sejauh ini kelompok pembaharuan Islam  acap berpihak atau mengkristal menjadi gerakan Islam ideologis yang berbenturan dengan penguasa negara. Di banyak negara Arab, baik  yang republik mau pun monarki, Islam pembaharu selalu menyodorkan agenda politik Islam yang minimal kritis terhadap pemerintah dan maksimal, jika memungkinkan, menjatuhkan rezim penguasa.  

Gerakan pembaharuan Islam yang semula adalah motor perubahan bagi kepentingan umat Islam secara umum menjadi hanya untuk memperjuangkan kepentingan politik identitas. Sebuah perjuangan yang berpotensi terjebak pada simbol semata tanpa menyadari bahwa semuanya apa pun simbolnya, memperjuangkan satu substansi yang sama yaitu kemaslahatan bersama. 
_______________

*Doktor Inter-Religious Studies UGM, Magister Pemikiran Islam IAIN Sunan Ampel, Licence Shariah wa al-Qanun Universitas  al-Azhar Kairo

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Pembaharuan Islam: dari Rumah Besar Menjadi Rumah Kecil"

  1. Islam harusnya kembali kepada Islam itu sendiri, yaitu sebagai agama. Islam jika dipandang sebagai agama maka melahirkan sebuah pemahaman bahwa agama bukan untuk dibela dan diuji kebenarannya. Tetapi kembali kepada pemahaman tentang agama itu sendiri. Agama berarti keyakinan. Keyakinan itu ada dalam hati manusia. Agama Islam adalah keyakinan bahwa Allah SWT adalah Tuhan manusia dan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir utusan Allah SWT. Setiap agama mengajarkan kebaikan. Dan agama Islam mengajarkan, bahwa sesuatu itu dipandang baik jika menyangkut dan untuk kemaslahatan umat. Jika Islam dipahami sebagai agama rahmatan kil alamin. Harusnya, sesuatu yang memang sudah jelas dipandang tidak maslahat itu janganlah dilakukan. Jika perang itu dianggap tidak maslahat, apapun alasannya harusnya tidak dilakukan. Karna agama Islam mengajarkan perdamaian. Bukan pemaksaan atau memaksakan kehendak. Karna agama berbeda dengan politik. Agama Islam dengan agama lain saja sudah diceritakan dalam Al Qur'an. "Lakum dinnukum waliyadin", untukmulah agamamu untukku agamaku. Tidak ada toleransi soal agama. Apalagi soal politik yang rananya jauh berbeda yang menyangkut urusan dunia.

    ReplyDelete

close