Kisah Ketawadluan Kiai Hasyim Asy'ari kepada Gurunya


Oleh: Fahmi Ali NH* 

Maqolah "al-ulama' warotsatul anbiya'" (ulama adalah pewaris para Nabi) bukanlah maqolah sembarangan. Makna warotsatul anbiya' ini bila dikupas lebih dalam ternyata meliputi "njobo-njero" (luar-dalam) nya para utusan Allah, seperti ketakwaan, kesopanan, ketaatan,  kesederhanaan, kesantunan yang terbingkai dalam akhlaqul karimah.

Lazimnya ulama yang disebut pewaris para Nabi memiliki keistimewaan di atas rata-rata. Bukan berupa mukjizat, akan tetapi keistimewaan mampu mengikuti (ittiba') akhlaq Nabi. Khususnya meneladani Nabi Muhammad yang dikenal khuluquhu al-quran (akhlaqnya adalah al-quran). 

Kisah akhlaq mulia seorang murid kepada gurunya bisa kita petik dari salah satu ulama Nusantara yakni Hadrotus Syekh Hasyim Asy'ari, yang ketika nyantri ke Pesantren Siwalan diunduh menantu oleh gurunya sendiri, Mbah Kiai Ya'qub Siwalan Panji Sidoarjo. Suatu ketika Kiai Hasyim Asya'ari memanggil seorang tukang bangunan untuk membuatkan rumah. Setelah tukang bangunan datang, Kiai Hasyim Asy'ari mengutus tukang itu untuk mengukur tinggi rumah mertuanya, yaitu Mbah Kiai Ya'qub. Tukang bangunan itu pun heran bukan main , ia pun memberanikan diri untuk bertanya:

"Ada apa kok pake diukur segala, Kiai?"

"Sudah, diukur saja dulu," dawuh Kiai Hasyim Asy'ari. Setelah diukur, Kiai Hasyim pun berpesan kepada  tukangnya, "Pak, rumahku nanti tingginya jangan sampai melebihi rumah Mbah Kiai Ya'qub. Bangunan rumahku ini tolong dibuatkan lebih rendah, sebab tidak ingin suul adab (buruk perangai) terhadap Mbah Kiai Ya'qub,"

Fragmen ini menandakan bahwa sehebat-hebatnya murid sampai kapanpun harus memiliki attitude/akhlaq kepada gurunya sesuai adagium "al-adab  fauqal ilmi" (etika di atas ilmu), siapapun dia meskipun  berasal dari kasta terendah harus dihormati. Apalagi jika guru itu merupakan ulama yang berakhlaqul karimah seperti Mbah Kiai Ya'kub. Bahkan setingkat Sahabat Ali bin Abi Thalib saja siap melayani dan memberikan upah tinggi kepada siapa saja yang mengajarkan ilmu kepadanya. 

Sosok ulama selain sebagai guru, juga berperan sebagai penuntun yang memberikan contoh baik kepada masyarakatnya. Bahwa rendah hati, tidak takabbur, menjauhi iri dengki serta dendam,  menghormati orang tua merupakan kunci utama keberhasilan duniawi ukhrawi. 

Murid di jaman now selayaknya diajarkan kitab washoya, ta'lim muta'allim yang sarat akan nilai positif. Lantaran, keroposnya keteladanan telah mengancam generasi muda saat ini. Tontonan sinetron, game berbau kekerasan, ujaran kebencian menjadi kiblat bersama. Seolah-olah akhlaqul karimah sudah tidak "layak" lagi tampil di masa kini. Lantas kemanakah kita mencarinya bila kerumunan manusia "menjauhi"  akhlaqul karimah? Padahal salah satu syarat terbentuknya masyarakat madani adalah terhindar dari dekadensi moral di zaman yang katanya milenial ini.

Untuk menjawab kegelisahan ini, mungkin tamtsil yang diceritakan Gus Mus tentang para ulama salafussoleh khususnya muassis Nahdlatul Ulama sangat tepat dijadikan bahan rujukan. Sebab mutiara akhlaq itu terdapat pada diri ulama yang memiliki arti waratsatu akhlaqil anbiya' (mewarisi akhlaq para nabi). Mengapa demikian? Sebab akhlaq para Nabi yang diadopsi para ulama akan mampu membentuk masyarakat, santri, anak, keluarga yang bernafaskan akhlaqul karimah pula.

Wallahu A'lam
__________________
*PW LTNNU Jatim.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Ketawadluan Kiai Hasyim Asy'ari kepada Gurunya"

Post a Comment

close