Kisah Abah Thoyyib; Mengayunkan Cangkul, Menepis Kekeruhan Hati


Keterangan foto: Abah Thoyyib Krian 

Oleh: Ahmad Karomi

Jamak diketahui bahwa Indonesia adalah negara agraris. Sawah membentang, siap untuk ditanam. Para Kiai pejuang negri ini termasuk bagian dari masyarakat agraris. Mereka terdiri dari para petani, pembudidaya, dan pelestari alam Indonesia yang konon "cuwilane suargo". Ironisnya di zaman now, "cuwilan" itu pelan-pelan terancam punah, tengok saja, sawah maupun ladang pelan-pelan digilas oleh megahnya market, mall dan pabrik yang cerobongnya meludahi langit. 

Berbicara Kepiawaian para Kiai  mengayunkan cangkul di pematang sawah, tambak, bercocok tanam, berdagang, adalah bentuk penegasan bahwa penyeru agama tidak melulu bersarung, ngaji kitab dan mimpin tahlil. Mereka terjun melebur diri bersama petani lain hingga keringatnya menetes berbaur dengan beceknya tanah.

Hal-ihwal inilah yang memunculkan maqolah hadratussyekh Hasyim Asyari bahwa "Petani adalah Pahlawan Negeri". Dari pundak kokoh mereka keberlangsungan negeri ini bertumpu. Tidak mengherankan bilamana para Kiai seperti Kiai Zainuddin Mojosari, Kiai Marzuki Lirboyo, Kiai Sholeh Kuningan Blitar, Kiai Baidlowi Lasem, Abah Toyyib Krian juga sangat alim dibidang pertanian.

Suatu ketika Abah Toyyib Krian ditanyai oleh tamu yang berkunjung ke kediamannya. "Bah, panjenengan sampun dados Kiai, koq tasih sering teng sawah?" (Bah, anda sudah menjadi Kiai, koq masih sering ke sawah?)". Abah Toyyib pun tersenyum lalu berkata "Aku macul neng sawah supoyo ora thoma' marang wong liyo" (Aku mengayunkan cangkul di sawah agar tidak berharap akan "pemberian" orang lain)". 

Tamu itu terkesan dengan jawaban Abah Thoyyib. Ia pun semakin tertarik untuk bertanya. " Menawi wonten ingkang maringi, nopo panjenengan tampi?" (Apabila ada yang memberi, apakah anda terima?"). Murid kesayangan Kiai Sahlan Sidorangu itu merespon " Tak tompo tapi tak wehno wong sing butuh lan tak gawe mbangun masjid lan sowan Kiai liyane" (saya terima tapi kuberikan orang yang sangat membutuhkan dan kugunakan membangun masjid dan silaturrahmi Kiai lain). "Lajeng damel nedo bendinten saking pundi?" (Lalu untuk makan sehari-hari dari mana?), Tanya si tamu dengan penuh penasaran. "Yo teko hasil macul neng sawah" (dari hasil mencangkul di sawah).

Prinsip Abah Thoyyib ini ditularkan kepada santri-santrinya untuk belajar bertani, mbangun gapuro masjid, belajar jadi tukang bangunan, dll. Sebab bagi beliau "lelakon-lelakon" tersebut bentuk terapan dari "ngaji kitab" dan kandungan kitab akan mudah dipahami bila terejawentahkan dalam "ngaji lelakon" yang bermanfaat.

Istilah ngaji lelakon atau "lisanul hal" memiliki "atsar" yang kuat dan memberikan nilai positif bagi para pelakunya. Semisal, dalam bab dilarang thoma' (mengharap pemberian orang lain) takkan bisa dipahami secara tuntas jikalau tidak dilatih sejak dini untuk mandiri, menyibukkan diri bekerja dengan tekad mulia, menghindari mental meminta-minta.

Pesan sederhana namun sarat makna dari Abah Thoyyib menandaskan bahwa  "kasab/makaryo" (bekerja) adalah syariat yang harus dijalani. Sebab dari jerih payah itulah "barokah" akan muncul. Tak heran bila Nabi Muhammad sangat menyukai mereka yang keluar dari rumah mengayunkan kapaknya memotong kayu untuk menafkahi keluarganya daripada mereka yang hanya berpangku tangan menanti pemberian orang lain.

__________________
*Alumni Alfalah Ploso, PW LTN NU Jatim, Mahasiswa UIN SA, Bapak Rumah Tangga.






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Abah Thoyyib; Mengayunkan Cangkul, Menepis Kekeruhan Hati"

Post a Comment

close