Weton dan Maulid sebagai Pondasi Hubbul Wathon


Oleh: Ahmad Karomi*

"Wetonmu ojo mbok dudohno wong liyo! (Wetonmu jangan kau beritahukan kepada orang lain) " Ucap ibu kepada anaknya."Kranten nopo, bu?" (Karena apa, bu). Tanya balik si anak kepada ibu setengah baya itu. Wanita berwajah keriput namun masih menyisakan kecantikan itu pun berkata: "weton iku minongko dadi tetengermu dewe; apik elekmu isok kewoco soko wetonmu (weton itu merupakan simbol pribadimu; baik burukmu bisa terbaca dari situ)" paparnya. 

Dialog sederhana dari negeri La Tanah Silam ini seakan menodai zaman yang disebut modern. Lantaran, istilah weton cenderung kekunoan anti kekinian. Padahal, weton itulah "al-qadim al-salih" yang sesungguhnya, dengan ungkapan yang dikemas bahasa lokal jawa.

Menelisik kata "weton" (lahir) bila di"arab"kan khas tasrif, maka berasal dari kata "wathon" yang hebatnya ternyata bermakna "tanah air", seperti "hubbul wathon minal iman". Kurang lebih tasrif lughowi gaulnya menjadi "wathon, wathona, wathonu, wathonat, wathonata, wathonna.." dengan memiliki makna yang "nyocoki" kelahiran. Sebab tanah air adalah tempat lahir beta. 

Bila diutak-atik matuk, saya beranggapan ada semacam keterkaitan atau korelasi antara bahasa arab-jawa. Weton bimakna metu/lahir dan Weton bimakna Wathon (tanah air). Entah, siapa yang mempengaruhi terlebih dahulu.

Weton dalam KBBI adalah hari kelahiran seseorang dalam tradisi jawa. Nah bila diqiyaskan dengan bahasa arab hampir semakna dengan maulid. Saya tidak sedang membincangkan hukumnya maulid Nabi, akan tetapi sekedar mencoba memaknai secara kontekstual saja. 

Diceritakan bahwa Rasulullah setiap hari senin melakukan puasa. Sahabat pun bertanya perihal puasa tersebut. Rasulullah menjawab "fihi wulidtu wafihi unzila alayya" (di hari senin aku dilahirkan dan al-quran di turunkan). Ada semacam rasa syukur, gembira bagi beliau lantaran dilahirkan di hari senin. Oleh karenanya, Rasulullah menuangkan dalam ubudiyyah berupa puasa. 
Hadis ini pun populer menjadi pijakan sunnah puasa senin. 

Lantas apa kaitannya dengan weton? Dalam konteks ini (weton bermakna lahir) memiliki peluang untuk sejajar dengan maulid. Bila diterjemahkan khas pojok kampung, "Puasa weton (lahir) adalah salah satu cara meneladani, mencontoh Rasulullah bersyukur atas kelahirannya di hari Senin dengan cara berpuasa". Dengan demikian, kiranya seseorang yang berpuasa bertepatan weton (lahir)nya, secara tidak langsung telah mengadopsi cara bersyukur Rasulullah dan mewujudkan dalam ibadah.

Coretan ini sekedar ekspresi bahagia atas wetonnya (lahirnya) NU ke-92 yang semakin kokoh menjaga wathon (tanah air). 
________________
*Alumni Al-Falah Ploso, PW LTNNU Jatim.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Weton dan Maulid sebagai Pondasi Hubbul Wathon"

Post a Comment

close