Tuyul Syar'i

Oleh: Ahmad Karomi

Fenomena serba syar'i dalam segala aspek kehidupan masyarakat dewasa ini patut diacungi satu jempol, (sebab lebih dari satu namanya tangan, Hahaha). Contohnya hijab syar'i, perumahan syar'i, baju renang syar'i, aplikasi syar'i, toilet syar'i, Bank syar'i. Ringkasnya, stempel syar'i dijamin menyurgakan atau malah lebih menguntungkan.

Perlombaan untuk meraih impian telah tersematkan dalam sanubari, hal ini sangat manusiawi. Akan tetapi yang patut diwaspadai ketika persaingan tersebut menggelapkan hati. "Huh, awas yaa , aku bisa lebih sukses daripada kamu! " Kira-kira begitu contoh gumam kedongkolan tatkala melihat tetangga atau kolega yang lebih ces-pleng karirnya.

Proses mewujudkan keinginan pastilah mengalami lika-liku jalan  "makadam"  bebatuan. Realita ini merupakan salah satu proses yang wajar-alamiah dan kudu dihadapi dengan niat "sinau" kesabaran ketelatenan. Bukan membuta dengan menggunakan "jalan gelap" yang dalam istilah "pojok warung" disebut "ngingu Tuyul" (memelihara tuyul).

Tetangga, kolega, rekanan, yang mendadak kaya raya/sukses dianggap ngingu tuyul. Apa sih Tuyul itu? Bila mengikuti trend asal kata Patih Gajah Mada yang konon berasal dari Fatih Gaj Ahmada, maka Tuyul itu secara lughatan berasal dari Thoyyul artinya melipat, sedangkan secara istilahan berarti melipat apapun supaya cepat tercapai. Mungkin bahasa prokemnya bisa juga disebut praktis instan atau simsalabim. Haramkah itu? Bagi saya sih fafiihi tafsilun. Sebab ada Thoyyul yang diperbolehkan sesuai syariat agama.

Dalam literatur kitab kuning babakan tasawuf, redaksi "thoyyul" ini saya temukan berkaitan dengan konteks "thoyyul waqti" atau melipat waktu, yakni seni "nglempit" waktu dengan mengisi nilai positif dan digunakan sebaik-baiknya sehingga tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Selanjutnya ada juga "thoyyul ardli" atau melipat bumi yang konon dalam dunia kejadugan bisa melipat jarak tempuh tertentu. Dua "thoyyul" ini masuk kategori syar'i atau dibenarkan oleh agama.

Lantas yang "mboten syar'i" itu thoyyul yang bagaimana, cak?. Dugaan saya, Diantaranya: "nglempit" kekuasaan dengan cara tidak fair; atau bahkan "nglempit" masa belajar dengan cara melompat kelas yang tidak dikuasai dan hanya bermodalkan belajar kepada syekh google; dan yang paling sering adalah "nglempit" janji manis dengan cara mengingkarinya saat telah terpilih/berkuasa.

Ada Satu tuyul yang sangat menyengsarakan ummat yaitu Thoyyul fulus bithariqissariqoh (melipat uang dengan cara mencuri). Tuyul ini tidak lekang zaman, bahkan digambarkan sebagai bocah berkepala plontos tanpa busana mencarikan  "pesugihan" majikannya secara cepat dengan jalan menguras harta orang lain. Hmm, mungkin bila dikiaskan di masa now bisa juga disebut korupsi. 

Perkembangan zaman mengakibatkan tuyul berevolusi menyesuaikan "lahan basah"nya di segala lini, khususnya para pemegang kuasa. Baik pejabat, politisi, karyawan, pimpinan perusahaan/lembaga/institusi dll. Nah, kita termasuk Tuyul yang mana? 


#Sekedar apdet-apdetan di hari jumat#
____________
Ahmad Karomi, Pelipat waktu 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tuyul Syar'i"

Post a Comment

close