Kisah KH. Baidlowi Lasem Rais Akbar Jatman dan Santrinya


Oleh: M. Fuad Najib*

KH. Baidlowi Lasem adalah salah satu sosok Kyai yang  Alim dan dalam sekali penguasaan keilmuannya. Banyak sekali disiplin keilmuan agama maupun umum yang beliau kuasai, tidak hanya Alim akan tetapi tetapi beliau juga Arif dan Bijak dalam memberikan solusi.

Salah satu buktinya adalah fatwa – fatwa beliau yang sampai sekarang kita bisa rasakan. Yakni pendapat beliau diperbolehkannya membayar zakat fitrah dengan makanan pokok sesuai dengan makanan pokok yang dikonsumsi di daerah tersebut sebagaimana yang telah termaktub dalam beberapa kitab Fiqh, oleh karena itu beliau menfatwakan diperbolehkannya zakat fitrah berupa Jagung. 

Dari segi Ilmu ketasawwufan beliau juga terkenal sebagai Mursyid Sattariyah, dan beliau pula Ketua pertama saat berdirinya Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah dengan gelar Rois Akbar. Seperti halnya KH. Hasyim Asy’ari menjabat Rois Akbar Nahdlatul Ulama (organisasi induk dari JATMAN).
Selain beliau aktif di Organisasi NU dan juga berdakwah keluar. Hebatnya, beliau  tidak pernah melupakan tugas utama, yaitu mendidik para santri di Pondok Pesantren al-Wahdah Sumbergirang, lasem-rembang.

Ada sebuah kisah tentang kedekatan dan kesederhanaan beliau dengan para santri dan pengajar di Pondok Pesantren al-Wahdah. Salah satu cerita yang menggambarkan kedekatan beliau dengan santri yaitu, suatu ketika pada malam hari seperti kebiasaan beliau setiap malam, setelah Qiyamullail Kiai Baidlowi berjalan mengitari Pesantren dan melihat – lihat ihwal santri di malam hari yang kebanyakan sedang tertidur.

Tatkala beliau asyik mengitari Pesantren, tiba-tiba Kiai Baidlowi ingin “buang Hajat”, seketika itu juga beliau langsung menuju toilet yang diperuntukkan bagi santri.

Ditengah-tengah beliau “buang hajat”, tiba- tiba pintu toilet ada yang mengetuk “tok, tok,tok” dan terdengar pula suara deheman dari dalam toilet, seperti halnya santri pada umumnya biasa bercanda, santri yang mengetuk itu langsung nyeletuk berkata “Faham, Faham seng  faham Bidayah /  Faham, Faham yang sudah Faham Kitab Bidayah. Ucap Santri merespon deheman "orang" yang di dalam toilet.

Setelah KH. Baidlowi selesai “buang hajat” beliau membuka pintu toilet, alangkah kaget sang santri yang mengetuk dan berucap "Faham kitab Bidayah" tadi seraya tertunduk malu, lalu KH. Baidlowi berkata seraya tersenyum “ojo’ o Bidayah, Ihya’ ae aku faham / jangankan kitab bidayah, kitab ikhya’ saja saya faham.
_____________________

*Mochammad Fuad Nadjib Wakil Ketua Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Cabang Surabaya. PW LTNNU Jatim.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah KH. Baidlowi Lasem Rais Akbar Jatman dan Santrinya"

Post a Comment

close