Gadget Freak dan Jempol Autis



Oleh: Dr. Moh. Syaeful Bahar * 
Tulisan ini ada kaitannya dengan berita yang baru-baru saja menghebohkan Bondowoso. Dua orang siswa diindikasikan kecanduan gawai akut. Kedua siswa tersebut akan mengamuk dan menyakiti diri sendiri ketika dilarang menggunakan gawai.
Sontak saja, kejadian ini menjadi viral di publik, apalagi, hampir semua media mainstream di Bondowoso, baik cetak maupun online menulis dan mengangkat fenomena ini. Sayapun sebagai bagian dari dunia pendidikan di Bondowoso juga menjadi incaran para kuli tinta.
Tentu sebagai orang tua ataupun sebagai akademisi saya sedih dan marah atas kejadian di atas. Sedih karena merasa gagal sebagai pendidik dan juga marah karena merasa tidak banyak berbuat atas realitas ini.
Sebenarnya persoalan gawai adalah persoalan umum terjadi, problematika dan sisi negatif dari penggunaan gawai tidak hanya menjalar dan memapar anak-anak, tapi juga kita, orang-orang dewasa. Tidak hanya menjangkiti mereka yang tidak beruntung karena tidak berpendidikan namun juga lumrah dan banyak menjangkiti orang yang berpendidikan. Ini yang oleh beberapa pengamat disebut gadjet freak.
Saya sering katakan, jempol kita sekarang menjadi susah diatur. Jempol ini terus bergerak dan menekan huruf demi huruf di keyboard gawai. Waktu kita banyak terbuang hanya untuk menuruti gerakan jempol. Ironisnya, huruf demi huruf, kalimat demi kalimat yang kita tulis, tidak semuanya bertujuan dan bermuatan baik, tak jarang dan bahkan mungkin terbanyak dari produk jempol kita adalah huruf dan kalimat-kalimat yang tak bermakna. Kenapa tak bermakna? Karena jempol ini bergerak tanpa terlebih dahulu berkordinasi dengan akal fikiran kita. Terus bergerak tanpa bisa dikontrol. Ironis, sangat menyedihkan.
Beberapa kejadian ini bisa menjadi ilustrasi betapa gawai telah merusak kita. Di forum rapat, misalnya, peserta rapat tidak mengindahkan pimpinan rapat karena sibuk dengan gawainya masing-masing. Sepasang suami istri, meskipun mereka secara fisik berdekatan, tapi seringkali mereka disibukkan oleh gawainya masing-masing sehingga sejatinya mereka sedang berjauhan. Seorang tamu yang datang ke rumah seorang teman, namun kedatangannya tidak bermakna apa-apa karena antara si tamu dan tuan rumah, keduanya sibuk dengan gawainya masing-masing. Bahkan, terbaru, sebuah video pendek viral di masyarakat, seorang imam sholat jamaah sibuk dengan gawainya ketika dia sedang memimpin sholat berjamaah.
Kohesifitas kita ambruk, hancur dan tercerai berai. Akhirnya, kita harus bersepakat, bahwa gawai bukan hanya membawa sisi positif, namun juga membawa mudhorat, yang harus dicarikan solusi cerdasnya. Tidak boleh tidak, harus! Seperti pisau, penggunaan gawai sangat ditentukan manfaat dan mudhoratnya kepada siapa yang memegang dan memanfaatkannya.
Kita tidak mungkin menolak keberadaan gawai, karena ini produk modernisasi yang terus bergerak. Tidak bisa kita hentikan laju dan  pergerakannya. Menolak gawai sama artinya menolak eksistensi perubahan, dan menolak eksistensi perubahan sama artinya dengan menolak hukum alam.
Lalu apa yang bisa kita perbuat? Kata orang bijak, orang cerdas bukan mereka yang menyerah pada kondisi tertentu yang menekannya, tapi mereka yang bisa mengatasi dan memanfaatkan kondisi.
Kita tidak boleh menutup mata manfaat gawai,  tapi kita tidak boleh tunduk pada jempol-jempol kita. Kita harus cerdas mempergunakan gawai, jempol harus tunduk pada akal fikiran dan hati kita. Itu solusinya.
Kerangka Fikir; Rasional dan Fungsional
Menurut Ritzer, modernitas seharusnya melahirkan rasionalitas, namun sayangnya, menurutnya, rasionalitas yang lahir dari modernitas juga membawa petaka irrasionalitas. Fenomena gawai adalah salah satu bukti kebenaran prediksi Ritzer.
Para pengguna gawai, tidak mendasarkan penggunaan gawainya atas kebutuhan apalagi atas dasar fungsi, sebegian besar hanya untuk senang-senang dan gaya hidup. Ini petaka modernitas tanpa didasari rasionalitas.
Kembali ke persoalan di atas, maka sudah seharusnya, orang tua, guru dan negara (pemerintah) hadir. Mereka semua harus ikut mendampingi anak-anak. meluruskan dan mengajarkan tentang kenapa harus meamakai gawai? Untuk apa? Apa manfaat dan bahayanya? Semua harus disampaikan, diajarkan, bagus jika disertai contoh, uswah hasanah. Misal para orang tua dan guru membatasi penggunaan gawai bagi anak maupun siswa, tapi pada saat yang sama para orang tua dan guru juga harus membatasi penggunaan gawai, terutama di depan anak-anak dan siswa.
Bisa dibayangkan, betapa paradoknya ketika keluarga atau sekolah membatasi penggunaan gawai namun pada saat yang sama orang tua atau para guru terus sibuk dengan gawainya masing-masing.
Malah, saya pernah mendapat sebuah pesan pribadi dari seorang wali murid yang tidak setuju dengan perilaku guru anaknya. Disertai foto-foto bertanggal, sang wali murid mengadukan perilaku guru yang terus menerus meng upload foto pribadi di FB dan status WA nya, bahkan di saat jam pelajaran sedang berlangsung hem…..ini realitasnya, realitas dunia pendidikan kita.
Hemat saya, tidak ada salahnya jika ada kampanye besar-besaran tentang pentingnya pendidikan penggunaan gawai yang baik, yaitu penggunaan berdasarkan nilai kemanfaatan dan kebutuhan.

Komitmen; Sertakan Hati
Selain problem kemanfaatan yang tidak disertakan dalam penggunaan gawai, problem susulan yang lumrah dalam dunia sosial media (sosmed) di kalangan masyarakat adalah problem keteguhan hati, komitmen.
Sebagian pengguna gawai lalai. Mereka tidak pernah menghitung akibat buruk dari komentar atau status yang dibuatnya. Sudah menjadi rahasia umum, sebuah hubungan kekerabatan atau pertemanan menjadi rusak hanya gara-gara ketersinggungan di dunia maya ini.
Entah disengaja atau tidak, komentar atau status seseorang telah dianggap melukai perasaan orang lain. Parahnya, status atau komentar yang dianggap merugikan tersebut direspon dengan status atau komentar sejenis, sehingga, saling serang dan saling menjatuhkan bukan hal aneh lagi di dunia sosmed kita. Ini jelas merugikan, bahkan merusak.
Pada dunia pendidikan, persoalan komitmen ini juga menjadi perhatian serius dari penggunaan gawai. Sebagaimana komentar saya di beberapa media, kejahatan plagiasi, yaitu salah satu kejahatan paling serius dalam dunia pendidikan juga sering terjadi karena perangkat lunak gawai ini. Anak-anak kita, dengan mudah dan instan mendapatkan informasi sepotong demi sepotong dengan cara copy paste dari berbagai sumber di dunia maya.
Refrensi utama  berupa buku maupun jurnal akhirnya menjadi barang tak laku, dianggap menyulitkan dan kuno.
Jika anak-anak kita, para siswa tidak memiliki komitmen yang kuat dalam penggunaan gawai, hampir bisa dipastikan bahwa generasi kita yang akan datang adalah mereka yang tidak akan memiliki tanggungjawab yang baik, mereka hanya menjadi manusia yang berorientasi pada hasil, bukan pada proses. Mereka tidak akan peduli lagi dengan cara apa mereka mendapatkan hasil, yang penting tujuannya tercapai. Sungguh ini berbahaya.

Rembug Pendidikan; Upaya Dewan Pendidikan
Sebagai sebuah ikhtiar, Dewan Pendidikan Bondowoso akan mencoba mencari formulasi pemecahan masalah terkait problem gawai ini. Tentu Dewan Pendidikan tidak akan bergerak sendiri. Semua stakeholders terkait problem ini akan diajak serta. Jika tidak ada aral melintang, dalam  minggu ini, Rembug Pendidikan terkait problematika penggunaan gawai bagi siswa di Bondowoso akan dilaksanakan. Semoga membuahkan hasil sesuai harapan, amin.
 _________________
*Penulis adalah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gadget Freak dan Jempol Autis"

Post a Comment

close