Dialektika Jaran Goyang


Oleh: Achmad Murtafi Haris (Dosen UIN Sunan Ampel)*

Lagu bergenre Dangdung Koplo “Jaran Goyang” benar-benar meledak. Video Youtube-nya telah di-view oleh lebih dari 60 juta orang suatu prestasi yang luar biasa. Jangan-jangan ia bahkan menjadi video yang terlaris di dunia mengalahkan semua video youtube buatan Barat. Via Fallen dan Nella Kharisma pun meraup milyaran rupiah dari banyaknya viewer; suatu hal yang luar biasa dalam sejarah belantika musik Indonesia.

Tidak hanya secara kuantitatif lagu itu meraih kesuksesan sehingga seolah menjadi lagi wajib pada acara musik mana pun untuk ditampilkan, tapi secara kualitatif lagu itu juga mengundang respons publik beragam. Ada yang mengambil alunan nadanya yang asyik untuk digubah menjadi lagu qasidah atau shalawatan dan ada juga yang membuat lyrik tandingan dari lagu tersebut dengan tujuan korektif. Gubahan syair lagu tidak menjadi masalah bagi kebanyakan orang,tapi penggunaannya nadanya untuk shalawat sempat menuai kritik lantaran bahwa ia dengan begitu membuat sang pelantun tidak lagi bershalawat tapi berdendang dan melupakan bacaan shalawatnya; atau sang pelantun tidak lagi bershalawat tapi ber-Jaran Goyang.

Di antara gubahan syair yang muncul adalah gubahan yang berisi pesan agar tidak mengikuti pesan lagu tersebut yang mengajak orang yang putus cinta untuk lari ke dukun. Hendaknya mereka membaca al-Qur`an agar dikeluarkan dari masalah yang sedang menjerat. Mantra Jaran Goyang yang katanya dirapal oleh seorang dukun agar orang yang putus cinta kembali bersatu, direspon secara negatif dan dianggap sebagai cara yang keliru dalam mengatasi masalah. Cara yang benar adalah kembali kepada sang pencipta dan berdoa dan tidak menyandarkan pada seorang dukun.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa lagu ini telah beresonansi secara kuat dan telah melampaui domain seni musik hiburan. Di satu sisi ia mendapat respons positif sehingga mengundang siapa pun untuk menikmatinya, tapi di sisi lain ia mengundang respons kritis dari kelompok agamawan yang ingin menganulir pesan yang ada dalam lirik tersebut. Mereka yang memandangnya semata dari sisi hiburan mendapati alunan nada dari lagu tersebut begitu enak dan gurih sehingga mendorong anak-anak muda penggemar lagu shalawatan untuk menggubah liriknya menjadi pesan religius. Tapi bagi mereka yang kritis, mereka tidak berhenti memandangnya sebagai hiburan tapi ‘mengkhawatirkan’ dampak negatif dari apa yang ada pada lirik lagu bahwa ia bisa medorong maraknya praktek perdukunan atau sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari patologi sosial atau penyakit masyarakat.

Perbedaan respons terhadap Lagu Jaran Goyang muncul karena perbedaan pendekatan yang digunakan. Mereka yang meresponnya secara positif memandangnya dalam kerangka fungsi lagu sebagai media hiburan (function approach). Sedangkan mereka yang kritis memandangnya dalam kerangka rasional empiris yang condong pada verifikasi kebenaran pesan yang ada di dalam lagu (truth approach).

Bagi kelompok pertama, tidak penting apakah narasi Jaran Goyang dan Semar Mesem itu benar-benar manjur untuk bisa mempersatukan kembali cinta yang terpisah atau itu hanya sebuah ekspresi budaya dan karya sastra, yang penting bahwa lagu itu telah mampu membuat orang enjoy dan bergembira. Ketika banyak orang berkumpul dan bersatu dalam cita rasa yang sama, maka lagu itu telah secara efektif berfungsi sebagai penumbuh solidaritas bersama (social bond). Apakah benar gara-gara lagu itu kemudian banyak muda-mudi yang pergi ke dukun untuk sambat: “Mbah saya putus cinta”, bukanlah konsen mereka.

Sedangkan bagi kelompok kedua, mereka umumnya tidak mau hanyut pada arus publik atau selera pasar tapi lebih memilih untuk bersikap kritis dan memandang sesuatu secara ilmiyah. Dengan begitu maka hasilnya bisa mudah ditebak, pasti mereka menolak narasi Jaran Goyang karena tidak rasional. Mana mungkin sebuah mantra Jaran Goyang mampu menyambungkan dua hati yang putus, suatu hal yang mustahil.

Kalau memang benar, apa pernah ada penelitian kuantitatif dari populasi mereka yang putus cinta bahwa prosentase yang sambung kembali lebih banyak dari prosentase yang tidak berhasil setelah sang dukun merapal mantra tersebut. Demikian juga dengan mantra Semar Mesem apakah juga telah teruji kemanjurannya di lapangan. Mereka yang kritis juga akan menghubungkannya dengan norma agama yang berlaku, seperti tentang larangan syirik, dan akan menganggapnya bertentangan dengan doktrin tersebut karena telah menganjurkan datang ke dukun dan menggantungkan nasibnya padanya.

Dengan demikian terdapat pendekatan yang berbeda yang menghasilkan dua sikap yang bertolak belakang terhadapnya. Ketika dua pendekatan itu coba dipertemukan, maka muncul karya baru yang mempertahankan irama tapi dengan lirik yang digunah sesuai norma yang dianut. Atau mengganti Jaran Goyang dengan unasir yang lain yang lebih rasional. Sebuah upaya kreatif yang dihasilkan oleh dialektika Jaran Goyang yang memang benar-benar menggoyang itu.

Membiarkannya tanpa ada langkah koreksi pun tidak apa-apa. Hal ini lantaran bahwa Lagu sebenarnya dari awalnya adalah berfungsi hiburan. Sedangkan pesan sosial yang muncul dari lagu adalah aspek lain yang positif yang muncul dari lagu. Jika lagu tidak bisa dinikmati, maka lagu itu langsung tertolak biar pun liriknya indah. Sebaliknya, biarpun liriknya tidak bagus tapi kalau iramanya terasa nikmat, maka ia akan direspon positif. Sebagai sebuah hiburan, ajakan lari ke dukun dalam lagu bukanlah sesuatu yang serius. Para penikmatnya telah tahu itu dan tidak perlu dipersoalkan. 
__________________
*Doktor Inter-Religious Studies UGM, Magister Pemikiran Islam IAIN Sunan Ampel, Licence Universitas al-Azhar Mesir. Achmad Murtafi Haris; HP. 08123355584.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dialektika Jaran Goyang"

Post a Comment

close