Para Penerus Akhlaq Muhammad


Oleh: Ahmad Karomi*

Menyebutkan nama mulia nan terpuji Muhammad seakan menggetarkan serta meluluh lantakkan sendi tubuh siapapun yang jumawa, angkuh, rakus, dan para pemaki langit bumi. Bagaimana tidak, Muhammad diutus ke Dunia dalam rangka menata akhlaq manusia yang rentan dihinggapi akhlaq madzmumah (tercela). 

Muhammad dengan penuh kasih sayang, merangkul mereka untuk diajak, diarahkan menjadi manusia berbudi pekerti luhur. Muluskah ajakannya?! Tidak! Putra Abdullah ini kerap diusik diganggu bahkan diteror oleh sekelompok oposan yang merasa eksistensinya terancam sebab hadirnya Muhammad di tengah masyarakat. 

Serangan berupa hate speech berupa hinaan, cercaan, caci-makian, lemparan batu yang dialamatkan kepada Muhammad dibalas dengan senyuman dan doa. Meskipun Muhammad dianugerahi memiliki "idu geni" (ludah api/mujarab ucapannya) hal itu tidak mengubah tekadnya untuk tetap berbuat baik seraya mendoakan "hidayah" kepada mereka. 

Perjuangan Muhammad dalam memproklamirkan akhlaqul karimah berbuah manis. Sehingga para penentangnya, musuh-musuhnya banyak yang segan dan mengakui keistimewaan Muhammad. Mengapa begitu?! Sebab salah satu mukjizat Muhammad adalah  memiliki akhlaqul karimah. Bukan sembarang akhlaqul karimah, lantaran akhlaq beliau berkait paut -bersenyawa- dengan al-quran. Jadi, barangsiapa yang penasaran untuk mengetahui akhlaq sang pemilik senyum indah, maka bacalah (resapi) al-quran. 

Saya pribadi heran dan bingung bilamana ada orang yang mengaku cinta Muhammad namun gemar mencaci-maki, menyebarkan kabar palsu, fitnah, tipu-menipu, dan membanggakan diri sebagai pemilik kunci surga. Lebih-lebih di zaman yang disebut millenium ini, siapapun dengan mudahnya menggunakan ujung jari-jemari menggilas seseorang. Sungguh sangat miris sekali.

Mungkin sudah saatnya -bila tidak ingin disebut telat- meneladani akhlaq Muhammad melalui para penerusnya, yakni para ulama yang teduh dan mengajarkan kebaikan. Mereka tergolong ulama 'amilin (ulama yang mengamalkan ilmu dan meneladani akhlaq Nabi). Prinsip mereka: merangkul, menuntun serta memberikan layanan kepada masyarakat adalah kunci utama. Tanpa kenal lelah mereka abdikan diri konsisten mengikuti metode dakwah Muhammad dengan santun tanpa  menistakan, mengkhurafatkan, mengkafirkan, mensyirikkan. 

Di sana ada Hadlrotus Syekh Hasyim Asyari, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah Zainuddin Mojosari, Mbah Fattah Mangunsari, Mbah Manshur Pucung, dengan sikap egaliter beliau membersihkan halaman rumah, menyuguhi minuman untuk para tamu dengan tangannya sendiri (tanpa menyuruh khodam). Menghadiri kegiatan seperti undangan yasinan tahlilan di tengah masyarakat meskipun beliau tokoh nasional. Saling menghormati perbedaan serta pengertian satu sama lain. Dan selalu tulus mendoakan kebaikan untuk masyarakatnya.

Sebutan warotsatul anbiya' (penerus akhlaq para Nabi) acapkali disematkan kepada mereka. Akan tetapi mereka malu disebut demikian, karena merasa rikuh, belum pantas sebagai penerus Muhammad yang sempurna. Bagi mereka, bagaimanapun juga bisa mengikuti (ittiba') Muhammad dalam menjaga  "ucapan dan tindakan" dari menyakiti manusia itu saja sudah sangat bernilai.

Sangat tepatlah syi'ir "Muhammadun basyarun la kalbasyari# bal huwa kal yaquti bainal hajari" (Muhammad adalah manusia yang tidak seperti kebanyakan manusia# bahkan bila diibaratkan, Ia laksana batu mulia (Yaqut) di antara bebatuan). Penekanan kata "basyar" (manusia) mengindikasikan bahwa sisi kemanusiaan adalah pijakan. Seseorang akan terpuji karena memiliki sisi humanity (kemanusiaan) meskipun ia seorang raja, pemimpin, presiden yang memiliki kuasa, superpower.

Semoga di hari maulid yang penuh rasa syukur ini, kita semua bisa meneladani sisi basyariyyah Muhammad dengan tetap  berpijak sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan.


(Ba'da Jumat, 01-12-17, libur Maulud, di atas bis menuju Surabaya)

"PW LTNNU Jatim, Alumni Al-Falah Ploso*





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Penerus Akhlaq Muhammad"

Post a Comment

close