Kematian Tertunda Kiai Wahab Hasbullah


Oleh: Ayung Notonegoro

Tepat tanggal 29 Desember 46 tahun yang lampau, seorang ulama besar bangsa Indonesia, KH. Wahab Chasbullah menghembuskan nafas terakhirnya. Pendiri sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama itu, dipanggil keharibaan Allah SWT untuk selamanya.

Kabar meninggalnya Kiai Wahab itu pun menjadi berita duka yang tersebar cepat di tingkat Nasional. Hampir semua orang merasa kehilangan pada sosok kiai cum politisi itu. Kehilangan yang tak hanya dirasakan warga NU, tapi kehilangan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia terhadap sosok yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu.

Akan tetapi, kepergian Kiai Wahab yang terkesan mendadak itu, bukanlah tanpa isyarat. Jauh hari sebelumnya, Kiai Wahab telah meregang nyawa. Lantunan surah Yasin merebak di kediamannya, Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Aura kesedihan tergores di wajah para santri yang sedang mengaji itu. Pengasuh pesantrennya, KH. Wahab Hasbullah mengalami masa kritis. Kala itu, tahun 1971, kiai yang akrab disapa Mbah Wahab tersebut telah memasuki usia sepuh, 83 tahun.

Kondisi Kiai Wahab saat itu sudah sangat lemah. Ibarat kata sudah tinggal menunggu waktu kewafatan beliau. Bahkan dalam pengakuan para ulama sepuh yang disampaikan kepada keluarga, Malaikat Izrail telah dekat.

Namun, biridloillah, Mbah Wahab yang kala itu tercatat sebagai Rois Am PBNU mampu melampui masa kritisnya. Malaikat Izrail urung menunaikan tugasnya.

Kiai Bisri Syansuri, kawan seperjuangannya di NU, datang menjenguk Mbah Wahab yang sedang kritis.

"Kiai, jangan engkau wafat dulu," kurang lebih demikian perkataan Kiai Bisri kepada Kiai Wahab yang sedang sakratulmaut itu. 

"Kiai masih punya hutang," lanjut Kiai Bisri.

Sontak Kiai Wahab tersadar dari kondisi kritisnya.

"Hutang apa?" sergahnya.

"Engkau masih belum melakukan LPJ," jawab Kiai Bisri.

Kurang tiga bulanan akan diadakan Muktamar NU di Surabaya. Di forum tertinggi NU tersebut akan dibacakan laporan pertanggung jawaban (LPJ) para pengurus PBNU. Baik tanfidziyah yang diketua Kiai Idham Chalid, maupun syuriah yang saat itu dijabat Mbah Wahab sendiri.

Bi'idnillah, setelah diingatkan Kiai Bisri, Mbah Wahab kembali pulih dari kondisi kritisnya. Ia kembali aktif mengurus NU. Sampai tiba waktu muktamar NU di Surabaya pada 20 Desember 1971.

Muktamar ke-25 NU itu, telah terselenggara. LPJ pun telah dipertanggungjawabkan. Hutang Mbah Wahab telah terbayar. Meski saat itu kembali dipercaya menjabat Rois Am pada muktamar kala itu, pada hakikatnya Mbah Wahab telah lunas perjuangannya di Nahdlatul Ulama.

Tak lama seusai muktamar, para muktamirin pun masih dalam perjalanan pulang, tersiar kabar Mbah Wahab telah berpulang ke rahmatullah. Tepat 29 Desember 1971. 46 tahun silam!


Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu.
________________
Ayung Notonegoro, PCNU Banyuwangi, Pegiat Literasi Komunitas Pegon 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kematian Tertunda Kiai Wahab Hasbullah"

Post a Comment

close