Catatan Gus Sur: Mengapa Harus Cinta NKRI (#1)


Oleh: Sururi Arumbani

Sesuai niat saya berbagi dengan apa yang saya peroleh mengikuti pengajian KH Marzuki Mustamar di Mushalla PWNU Jatim malam ini. Beliau menjelaskan banyak alasan untuk menjawab pertanyaan seperti judul di atas. 

Catatan ini bukan sepenuhnya pendapat KH Marzuki Mustamar, tetapi sudah saya olah menurut kapasitas pemahaman saya atas apa yang beliau sampaikan dalam forum itu.

Sudah beberapa waktu, di masyarakat muncul propaganda berdalih agama yang satu ditujukan pada institusi negara, kedua kepada masyarakat luas. Mencintai agama harus lebih utama daripada negara, bahkan tidak perlu mencintai negara demi menegakkan kemuliaan Islam. 

Nasionalisme itu tak ada dalilnya. Apalagi NKRI itu negara kafir dan toghut. Seruan semacam ini begitu kuat dan massiv apalagi didukung dengan teknologi media sosial yang kuat. Seolah-olah benar adanya bahwa NKRI adalah negara kafir yang harus diganti dengan negara Islam. Titik. 

Serangan kepada masyarakat umum tak kalah dahsyatnya. Orang-orang Islam di Indonesia selama ini mengamalkan ajaran yang penuh bid’ah, syirik dan mengikuti ajaran leluhur yang menyimpang dari Islam. Mulai ziarah kubur, maulid, haul, tahlilan dan sebagainya. Mudahnya, seluruh umat Islam di Indonesia itu sudah bukan muslim lagi. Titik. Luar biasa bukan? 

Pada level negara disebut negara kafir, pada level sosial, masyarakatnya juga kafir. Apa kemudian yang bisa terjadi? Ya bubarkan negara Indoensia, ganti sistem Islam yang dikonsepsikan mereka. Selanjutnya cukup paksa masyarakat mengikuti ajaran mereka yang mempropagandakan hal itu. Jadi, mencintai Indonesia sebagai tanah airnya, mendukung dan membela NKRI itu sama saja mencintai, mendukung dan membela negara dan masyarakat kafir. 

Mereka lupa, bahwa Islam masuk dan diterima di Nusantara ini jauh sebelum kaum dari Eropa dengan semangat Glory, Gold and Gospel masuk. Beberapa kajian menemukan bahwa Islam masuk di masa sahabat, ada yang menyebut masa tabi’in. Kemudian, di nusantara muncul dan berkembang kerajaan, komunitas muslim yang selalu berkembang dengan pesat. Islam menemukan lahan yang subur, untuk berkembang. 

Meski jauh dari asalnya, namun ajaran itu berbiak pesat di nusantara. Bumi nusantara punya kontribusi besar dalam pengembangan dan dakwah Islam di dunia. Apakah patut kemudian kita merusaknya? Menghancurkannya? Meski ratusan tahun bangsa Eropa dengan agamanya, apakah merubah total komposisi umat beragama di Nusantara (Indonesia?). Tidak. Di masa kerajaan berkembang, di masa kolonial juga masih berkembang, di masa Soekarno juga, Soeharto juga, sampai hari ini Islam terus hidup di negeri ini.

Dulu, sahabat Muhajirin (dari Mekah) begitu senang dengan sambutan sahabat Ansor (dari Medinah). Mereka kemudian jatuh cinta pada Madinah, karena di kota itulah Islam berkembang, syariat bisa dijalankan tanpa ancaman mengerikan. Mereka membangun bersama kota itu, dengan konsensus dengan umat agama lain. Itulah bukti syukur mereka, terima kasih mereka kepada Madinah. Rasa syukur yang sungguh-sungguh kemudian bertambah, Islam semakin luas disyiarkan ke berbagai belahan dunia. Akhirnya sampai ke Indonesia. Jika Rasulullah dan kaum Muhajirin saja cinta kepada Madinah, mengapa sekarang kita tidak mau mencintai Indonesia? 

Hari ini, anda bisa bershalawat di Monas, di lapangan, di gang-gang kampung, bahkan bisa menutup jalan raya. Dulu zaman pak Harto bisa seleluasa itu? Atau kalau mundur, pada zaman kolonial apa ada kemudahan dalam akses berhaji? Berhaji dicurigai sebagai pemberontak. Siapapun rezimnya bisa punya cara pandang sendiri terhadap Islam, termasuk kolonial. Tetapi satu hal yang harus digarisbawahi adalah Islam subur di Indonesia. 

Karena itulah, bersyukur dalam wujud mencintainya, mendukung dan membelanya adalah sebuah kewajiban. Itulah mengapa para kyai NU benar-benar mengajarkan untuk selalu tetap menjaga keutuhan negeri ini. Agar sampai hari akhir, Islam tetap berkembang mencerahkan umatnya di Indonesia, sambung menyambung dengan belahan dunia lain.

Jika Nusantara andil menyuburkan Islam, bagaimana umat Islam memakmurkan Indonesia? 

Apakah kurma akan dibalas dengan tahi kambing?

Sururi Arumbani, PW LTNNU Jatim, Budayawan, dan Pegiat Islam Nusantara.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Gus Sur: Mengapa Harus Cinta NKRI (#1)"

Post a Comment

close