Antara Aku, Kau dan Foto di Kamarku


Oleh: Ahmad Karomi

Malam itu, tepat pukul 21.00 kira-kira tahun 2004. Ponsel dengan slogan "begitu kecil begitu cerdas" yang memiliki ringing tone polyponik itu membunyikan nada torquise. Saya yang sedang asyik membaca beberapa cersil Pendekar Suling Emas Kam Hong, Pendekar Super Sakti Suma Han, Petualang Asmara Yap Kun Liong karya Asmaraman Kho Ping Hoo terusik sejenak.

Saya lihat layar ponsel mungil itu, ternyata teman karib yang menelpon. Saya angkat panggilan tersebut, "Awakmu nang omah ae ta? (Kamu di rumah saja ta?)" Ia pun memulai pertanyaannya. Saya pun menjawab "Iyo, iki aku pas nyantai nang omah ae (iya, ini saya lagi nyantai di rumah saja)". "Aku nginep omahmu oleh ta? (Saya nginap rumahmu boleh ta?)". Imbuhnya. Saya pun mengiyakan "Yo, gak popo, tak enteni (ya, tidak apa-apa, saya tunggu)". Secepat kilat dia berkata "Aku wes nang ngarep omahmu, tolong bukakno!" (Saya sudah di depan rumahmu, tolong bukakan). Saya terkejut ternyata dia sudah ada di depan rumah. Seketika itu juga saya menghampiri pintu depan dan saya buka.

Setelah pintu terbuka, saya persilahkan untuk masuk kamar. "Iki kamarmu ta?koq rodok peteng?" (Ini kamarmu ta?koq agak gelap?) Dia bertanya penasaran. Saya pun mengiyakan bahwa kamar agak gelap itu adalah kamar saya. Di dalam kamar remang yang memiliki penerangan lampu belajar, buku cersil dan tape polytron itu. Dia mengungkapkan bilamana terlupa tidak membawa kunci cadangan rumahnya "Sepurane, pas lali gak nggowo kunci omah" ucapnya.

Di sela bincang-bincang nyantai, sesekali nyruput kopi, tiba-tiba dia bertanya "iku fotoe sopo ae? (Itu foto siapa saja) seraya sorot matanya memandang foto-foto berkaca dof di dinding kamar. "Oh iku foto-fotoe poro Kiai idolaku" (Oh, itu foto-foto para kiai idolaku)". "Sik urip opo wes mati? (masih hidup atau sudah mati?)" Tanyanya layaknya detektif. "Wes kapundut, broo" (sudah wafat, broo)". Dia terkesiap sambil jakunnya menelan ludah "lha lapo fotoe wong mati mbok pasang? Karuan fotone artis ayu-ayu (mengapa foto orang meninggal kamu pasang? Mending foto artis cantik-cantik). Saya tertawa ngakak, dan memakluminya, pasalnya teman satu ini berlatarbelakang umum yang awam tentang kepesantrenan.

Saya sruput kopi, lalu mencoba menjawab rasa penasarannya:"foto-foto Kiai iki gawe penyemangat, karo ngiling perjuangane beliau-beliau, menowo kecipratan kesaenane" (foto-foto kiai ini untuk penyemangat, dan mengingat perjuangan beliau-beliau, semoga tertular kebaikan-kebaikannya)". "Koen pancen aneh, kamar diisi fotoe wong mati" (kamu memang aneh, kamar diisi foto orang meninggal) tukasnya. Saya pun tertawa "Hahahaha, awakmu sido nginep turu kene opo gak? (Hahaha, kamu jadi tidur di sini apa tidak?). Dia menyahuti:"Iyo, tetap turu kene" (iya, tetap tidur disini) sembari bersungut menahan ketidaknyamanannya. Namun dia menanyakan profil foto-foto di dinding itu "Sopo ae Kiai-kiai iki?"(Siapa saja Kiai-kiai ini). Kujawab "iku Mbah Djazuli, Gus Miek, Mbah Dimyati Banten, Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Hamid Kajoran, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Mbah Yai Romli Njoso". Dia tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, lantaran kantuk menyergapnya.

Adzan subuh terdengar, saya bangunkan untuk sholat. Ia  bertanya dengan heran "Lho koen gak turu ta?" (Lho, kamu tidak tidur ta?). "Gak! kadung asyik marekno moco cersil iki" (Tidak! kepalang asyik merampungkan baca cersil ini). Ia hanya geleng-geleng kepala.
Selanjutnya, dia pamit pulang dan tidak pernah lagi nginep tidur di kamar uji nyali. Ketika saya berjumpa, dia berkata " aku kapok turu di kamarmu, rasane di pentelengi foto-fotoe wong mati" (aku kapok tidur di kamarmu, perasaan selalu di awasi oleh foto-fotonya orang meninggal).

Dari kisah saya ini, dapat diambil ibroh (pelajaran) bahwa sesungguhnya foto (disadari atau tidak) bisa memunculkan "aura mistis" tersendiri. Terlebih foto sosok yang dikagumi, merupakan simbol bagi penghuni rumah. Siapapun yang memasang foto idolanya di kamar, di ruang tamu, menandakan bahwa memiliki histori dan kesan mendalam dalam hidupnya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jikalau Habib Lutfi bin Yahya pada suatu kesempatan sangat menyarankan para Nahdliyyin untuk memasang Foto Hadlrotus Syekh Hasyim Asy'ari, Syaikhona Kholil, dan para ulama-ulama NU. Tujuannya agar muncul "alaqoh" setrum dengan para pendahulu dan meneladani perjuangan serta akhlaqul karimahnya.


(Teruntuk para teman-teman yang menghadiri Munas di NTB, pergunakan kesempatan untuk bermusofahah, tabarruk kepada para Kiai yang senantiasa "nyetrum" hati para pecintanya)
________________
Ditulis di atas Kereta Api Penataran Blitar-Surabaya yang sempat delay.


Ahmad Karomi, PW LTNNU Jatim








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antara Aku, Kau dan Foto di Kamarku"

Post a Comment

close