Tanda-Tanda Puncak Ke-NU-an Seseorang


Oleh: W. Eka Wahyudi

Telah mafhum, bahwa NU dilahirkan oleh para ulama karena tengah menghadapi dua kutub tantangan sekaligus. Munculnya kelompok islam ekslusif, dan semakin mengakarnya penjajahan di Nusantara. Realitas sejarah ini, mengajarkan kepada kita bahwa corak keislaman di Indonesia harus mampu mengaitkan dengan kuat antara keislaman dengan spirit kebangsaan.

Pada sisi yang lain, para kiai juga bermaksud memberikan pendidikan kepada generasi selanjutnya, bahwa jalinan keulamaan seharusnya mampu memperkuat sistem kenegaraan, bukan sebaliknya, melakukan kudeta dan sikap-sikap lain yang mengarah pada gerakan subversif, pemecah belah umat. 

Hal ini penting untuk disadari, karena jamak terjadi di Timur Tengah, kalangan”ulama” malah menjadi jamur dan benalu yang merusak kesehatan sebuah Negara. menyuarakan agitasi dan kritik terhadap pemerintahan dengan dalih-dalih keagamaan. Di sinilah tirani keulamaan menemukan dirinya yang paling brutal.


Di antara kita, mungkin juga pernah membaca sekaligus mengkaji, tentang bagaimana KH Hasyim Asy’ari mendidik dengan luhurnya pribadi, melalui media literasi. Muqoddimah Qonun Asasi, di sana Kiai Hasyim  menegaskan tentang pentingnya hidup bersatu dalam ikatan kemasyarakatan yang kokoh. Karena, kemakmuran sebuah negeri, terletak pada kuatnya kesatuan antar elemen masyarakat. Bahkan, saking pentingnya sebuah persatuan dalam bermasyarakat, Kiai Hasyim pernah membuat semacam risalah yang berisi himbauan, bertajuk al-mawaiz. Risalah itu, ditulis Kiai Hasyim pada saat muktamar NU XI di Banjarmasin tahun 1933. Apa pasal? Ikhtiar akademik itu,dilakukan dalam rangka menjembatani friksi pemikiran antara kaum modernis dan tradisional yang kala itu jamak menimbulkan konflik-konflik horizontal. Tak ada dalil yang lebih kuat daripada uswah para ulama, seperti yang diajarkan pendiri NU tersebut kepada kita. Spirit kesatuan ini, selanjutnya diteruskan oleh generasi berikutnya, KH Ahmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid. 


Kiai Achmad Siddiq, bahkan menciptakan rambu persaudaraan yang kini banyak diadaptasi dalam pendidikan-pendidikan kebangsaan. Persaudaraan antar umat islam (ukhuwah islamiyah), persaudaraan lintas iman (ukhuwah imaniyah) dan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) merupakan gagasan cerdas kiai asal Jember yang kini menjaid trade mark sikap sosial Nahdlatul Ulama. Dengan rambu itu, hingga kini NU terbukti mampu menjadi mercusuar paling kokoh dalam menjaga dan merawat pilar-pilar persatuan bangsa.

Adalah Gus Dur, yang bahkan dalam setiap manuvernya mengajarkan kepada kita bahwa dalam merawat kesatuan sebagai satu masyarakat yang beradab, adalah dengan mengarus utamakan persaudaraan atas dasar kemanusiaan (ukhuwah basyariyah). Kedua ulama par- excellence ini, pada dasarnya memberikan pembelajaran bagi generasi bangsa, sebagaimana nada tutur yang diklaim bersumber dari sahabat Ali bin Abi Thalib,bahwa dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

Selanjutnya, kala “genderang perang” ditabuh oleh PKI, ulama-ulama NU membuat strategi pertempuran yang brilian. Memukul di satu sisi, namun merangkul pada sisi yang lain. Telah banyak hikayat-hikayat penuh kasih para kiai, yang merawat dan mendidik keluarga PKI, baik anak dan istri untuk diajari mengaji. 

Menarik, manuver yang dilakukan oleh Kiai Saifuddin Zuhri, sebagai Menteri Agama pada era 60-an. Di mana PKI mendapat angin segar sebagai partai pemenang pemilu, mendapat akses dekat dengan presiden serta mempunyai massa yang tak sedikit. Maka, untuk membendung arus komunisme yang tak jarang menjadikan pembatantaian sebagai jalan politiknya, Kiai Saifuddin membuat kebijakan dengan membentuk panitia penerjemahan al-Quran di tahun 1963 guna memperkokoh wawasan keislaman agar tak terpengaruh oleh propaganda-propaganda PKI. 

Proyek suci yang selesai pada tahun 1965 ini, kemudian dilanjutkan dengan membuat film yang berjudul “tauhid” untuk memberikan pendidikan agama bagi masyarakat islam di satu sisi, namun misi lain untuk mendidik umat islam melalui jalur “non formal”, yakni kesenian. Film ini, merupakan film dakwah pertama di Indonesia.

Melihat kaca benggala yang memantul bening dari kiprah para kiai, maka puncak ke-NU-an seseorang secara singkat seakan telah tercover dari dawuh KH Muhith Muzadi, santri kinasih Kiai Hasyim Asy’ari. "Nek mlebu NU, ojo diniati ndandani NU. Tapi niatono ndandani awak e dewe-dewe" (kalau berkhidmat dalam NU, jangan diniati memperbaiki dan mengembangkan organisasinya. Namun, niatilah untuk memperbaiki pribadi masing-masing). 

Sependek pemahaman penulis, pitutur kakak kandung Kiai Hasyim Muzadi tersebut menyiratkan kepada kita, bahwa gugusan paling tinggi dari ke-NU-an adalah jika mereka  menjadikan NU sebagai inkubator kepribadian. Yang berfungsi sebagai media penempaan perbaikan diri untuk lebih ikhlas mengabdi, untuk membuat dirinya lebih bermanfaat bagi agama sekaligus bangsanya.

Ia telah terbebas dari pertimbangan dan kalkulasi waktu, tenaga, pikiran dan materi hanya untuk mengabdi pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Ia telah menjadi manusia merdeka, yang telah tuntas pada urusannya sendiri. Tak ada lagi perhitungan untung rugi dalam mengabdi. Inilah, yang dalam tradisi sufi terkategorikan ke dalam maqom ridha. Sebuah posisi yang dilegitimasi oleh Allah, dan di sisi lain juga melegitimasi segala macam jalan menuju Allah (radhiyallahu anhu wa radhu ‘anhu). Yang pada puncak karir organisasinya, mereka tersematkan sebagai manusia yang dipanggil oleh Allah irji’i ilaa robiki radhiyatan mardhiyah, fadkhuli fii ibadi, wadhkhuli jannati.
____________________________



W. Eka Wahyudi, PW LTNNU Jatim



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tanda-Tanda Puncak Ke-NU-an Seseorang"

Post a Comment

close