Santri dan Sepakbola



Oleh: Ahmad Karomi

World Champion atau piala dunia 1998 yang digelar FIFA mendapat respon luarbiasa kala itu. Bagaimana tidak, gocekan maut Ronaldo De Lima, Batistuta, Inzaghi, Beckham, Maldini, Pirlo, Zidane, Ivan Bambam Zamorano, Marcelo Salas Banderas. membius mata masyarakat dunia, terutama ruang bilik Pesantren terkena wabah bola.

Tajuk Livin La Vida Loca yang dibawakan sosok macho nan gemulai Ricky Martin menggeser sesaat genre musik apapun. Hi wi go, ale ale ale, kira-kira begitu yang didendangkan. Nah, bagaimanakah pesantren merespon semaraknya Piala Dunia ini?

Sudrun, si santri anyar yang sempat dita'zir itu telah menjadi remaja tanggung. Dia termasuk gibol namun tidak terbiasa mengungkapkan kegilaannya dengan sepak bola. Ketika dia mendengar ada World Cup, dada terasa berderu ingin nonton tivi, mengikuti pertandingan bola sesuai jadwal. Memang, di Pesantren nonton tivi dilarang. Akan tetapi khusus Final Piala Dunia dan Final Liga Champion para santri mendapat keringanan nobar di halaman pondok.

Namanya juga santri, meskipun dapat fasilitas nobar, mereka ingin nonton tidak hanya babak final tapi juga babak lainnya. Suatu ketika, Sudrun berencana nonton bola, ia mengajak teman kelasnya yang bernama Panjul. " Njul, engko nonton Kroasia vs Chilli yuk" (Njul, nanti nonton Kroasia vs Chilli  yuk) ajak Sudrun. " Nonton nangndi, Drun?" Tanya Panjul. " Di rumahnya Mbok rondo kunu lho" jawab Sudrun sambil menuding ke arah yang dituju. "Ladalah, iku cidek karo pondok, opo ga malah konangan?!"(ladalah, situ dekat pondok, apa tidak semakin ketahuan?!), Protes Panjul.

Sudrun memutar otak agar sohibnya bisa diajak nonton, lalu berkata: "lho tambah cidek iku yo tambah aman, Njul! Keamanan gak bakal ngonangi, soale sing dadi buruan keamanan iku sing adoh. Biasae tempat teraman adalah yang terdekat dengan Keamanan". "Maksudmu yok opo?"Tanya panjul. "Awakmu nek ngejar maling, biasae malinge ndelik adoh opo cidek?" (Kamu kalau mengejar Maling, biasanya maling bersembunyi ditempat jauh atau dekat?) Tanya Sudrun sambil beretorika. "Yo biasae ndelik nggon adoh, tidak mungkin Maling ndelik nang nggon cidek" (biasanya, maling sembunyi di tempat jauh, tidak mungkin di tempat yang dekat) sahut Panjul. "Nah, dari ketidakmungkinan iku adalah tempat teraman kita!" Terang Sudrun. "Woo, ancene awakmu isok ae, Drun! Yo wis nek ngunu, nek sampai kecekel Keamanan tanggunganmu lho yoo" (Oo, dasar dirimu, bisa saja, Drun. Ayo kita berangkat, kalo sampai tertangkap, tanggunganmu lho), kata Panjul. "Suiaaap tok, aku".

Tiba malam hari sekitar jam 9 an. Berangkatlah kedua sohib ini menuju rumah Mbok Rondo. Sesampainya dirumah Mbok Rondo yang kebetulan punya anak cowok gibol ikut pula menemani nonton bola hingga acara berakhir. Seusai pamit balik, kedua sohib ini balik ke pondok dengan cara memutar, melewat pematang sawah. Tujuannya Agar tidak konangan Keamanan.

Kedua sohib ini berbincang-bincang lirih sambil nyincing sarung agar tidak terkena lumpur sawah. Tiba-tiba dari jarak yang tidak terlalu jauh, mereka dikejutkan oleh tiga sosok tegap melintasi sawah sambil mengarahkan senter kesana kemari. Spontan Sudrun dan Panjul langsung tiarap. " Njul, onok keamanan! Tiarap! "(Njul, ada keamanan, tiaraap) ucap Sudrun. Mereka tiarap tanpa peduli sarungnya belepotan lumpur.

Pelan-pelan mereka intip apakah Keamanan itu masih disana. " Keamanane sik onok ta?" (Keamanan masih ada ya?) tanya Panjul. "Iyo, iku sik ngadek karo ngrokok" (iya, itu berdiri sambil merokok), kata Sudrun. "Lha terus yok opo iki? Dicakoti nyamuk, gatel kabeh". (Lantas gimana ini? Digigiti nyamuk, gatal semua). "Sabar diluk, palingo maringene nyingkrih"(sabar sebentar, mungkin setelah ini nyingkir koq), terang Sudrun mencoba menenangkan Panjul.

Setengah jam berlalu, Keamanan itu masih tidak beranjak. Kedua sohib ini habis kesabarannya, dan tidak kuat dengan gigitan serangga sawah. "Diapakno enake supoyo Keamanane nyingkrih?" Kata Panjul. "Hmm, nek ditakuti ngunu yok opo?" "Opo wedi?" tanya Sudrun. "Dicoba ae ta?" Tantang Panjul. Sudrun berpikir lagi. "Yok opo nek awakmu ngadek krukupan ngunu, macak koyok pocongan?" (Gimana kalo kamu berdiri berselimutkan sarung, mirip pocong?), Kata Sudrun. "Ayo, wes!" Panjul mencoba mencopot sarung dan diselimutkan pada tubuhnya. Akan tetapi Panjul malah terpeleset jatuh ke parit sawah. "Aduh!"Panjul merintih keras. "Njul ojo banter nek nyuoro"( Njul, jangan bersuara keras). Bisik Sudrun agak panik.

Keamanan pun mendengar rintihan ganjil tersebut, lalu mereka menoleh sembari mengarahkan senter ke arah sumber suara. "Hei, neng kunu sopo? (Hei, siapa disitu?) Teriak keamanan. Panjul dan Sudrun diam tidak menjawab. Keamanan mencoba mendekat ke tempat Sudrun dan Panjul bersembunyi. Ternyata di tempat itu hanya ada bekas kaki orang. "Iki pasti onok arek pondok sing ndelik" (ini pasti ada santri yang bersembunyi), ujar Keamanan yang bertubuh kecil. Tiba-tiba salah satu keamanan yang bertubuh kecil gempal menunjuk dua sosok yang sudah berlari jauh seraya berkata: "Iku onok sing mlayu" keamanan. Lalu keamanan mencoba mengejarnya, namun tidak berhasil.

"Iki awak dewe mlebu pondok lewat endi?" (Kita masuk pondok lewat mana?) Tanya Panjul sambil nafasnya tersengal-sengal. "Awak dewe mencolot tembok mburi pondok ae, langsung ke dapur" (kita melompat tembok belakang pondok,  langsung ke dapur) kata Sudrun. Mereka berdua pun lewat tembok dapur belakang, yang ternyata sudah disiapkan tangga bambu untuk melewati tembok.

Sesampainya di kamar, Sudrun langsung ke kamar mandi. Bukti-bukti seperti baju dan sarung disembunyikan. Keesokan harinya, ada kasak kusuk bahwa Keamanan gagal mengejar santri yang melanggar aturan pondok.

_______________________________________________
Kisah ditulis dalam rangka menyambut Hari Santri
(Yuk berbagi kisah Santri di Hari Santri)
Ayo Nyantri, Ayo Mondok.











Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Santri dan Sepakbola"

Post a Comment

close