Ngaji; Identitas Nasional Santri


Oleh: Riza Ali Faizin (Ketua GP Ansor Sidoarjo)

Dalam tradisi akademik Islam Nusantara, terdapat istilah yang jamak menjadi konsumsi sehari-hari. Yaitu ngaji. Tradisi ini dalam khazanah kultur kehidupan masyarakat, tak hanya soal frase yang merepresentasikan aktifitas membaca al-Quran semata. Sebagaimana definisi populernya, bahwa ngaji merupakan kegiatan membaca. Masyarakat memahami, bahwa ngaji merupakan manifestasi teologis yang berorientasi pada peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja, aktifitas-aktifitas dalam rangka peningkatan tersebut tak hanya sebatas membaca teks suci, namun segala macam kegiatan yang menumbuhkan spririt keagamaan termasuk dalam kategori ngaji. Misalnya, mendengarkan ceramah agama oleh seorang Kiai, membaca sekaligus mengarti-maknai kitab kuning (dalam tradisi pesantren dikenal dengan kitab gundul, karena tak berharakat),  membaca serta memahami kitab klasik di hadapan kiai atau ustadz dan aktifitas-aktifitas akademik lainnya.

Menariknya, istilah ngaji ini semakin membudaya tatkala aktifitas ini tak hanya dilakukan oleh kalangan santri saja. Masyarakat secara umum-pun, bahkan mulai mengapresiasinya sehingga istilah ini mengalami perluasan makna menjadi segala macam aktifitas yang bertujuan untuk memahami dan mendalami sebuah wacana tertentu. Konsekuensi terminologisnya, saat ini jamak digunakan istilah-istilah ngaji untuk menunjukkan aktifitas belajar masyarakat. semisal; ngaji kebangsaan, ngaji kebudayaan, ngaji pendidikan, ngaji organisasi dan lain sebagainya.

Realitas ini, semakin mengokohkan bahwa ngaji telah menjadi produk kebudayaan di tengah masyarakat. Bahkan, telah menjadi ciri khas peradaban bangsa Indonesia yang tak ditemui di dalam masyarakat islam Negara-negara lain. fenomena ini, semakin mengokohkan kesimpulan akademik yang selama ini masih dipegang oleh banyak sarjanawan dan peneliti islam Indonesia, bahwa di Nusantara, antara tradisi atau kebudayaan mampu bersenyawa harmonis dengan ajaran-ajaran islam. Dalam konteks ini, pribumisasi islam yang diintrodusir oleh Gus Dur menemukan relevansinya. Yaitu, sebuah usaha mengkontektualisasikan islam ke dalam kekayaan lokalitas yang  menjadi keniscayaan kultural masyarakat.

Tradisi sebagai Identitas Nasional

Dalam diskursus penguatan nasionalisme, entitas kebudayaan menjadi sangat penting, karena menyangkut peneguhan identitas nasional. Tilaar dengan mengutip Charles Taylor pernah mengemukakan bahwa manusia yang berkembang tanpa identitas adalah manusia yang kehilangan pedoman (Tilaar, 2005: 205). Tilaar mengemukakan bahwa identitas nasional merupakan pergeseran istilah yang sebelumnya lebih dikenal dengan watak nasional, atau kesadaran nasional. Ketiga istilah ini, mempunyai satu kesatuan makna yang memberikan kesan bahwa nasionalisme mempunyai coraknya tersendiri yang khas di tengah dimanika budaya bangsa-bangsa lain di dunia. 

Antony Smith memaknai Identitas nasional sebagai sense of political community, history, territory, patria, citizenship, common values and traditions. He argues that ‘nations must have a measure of common culture and a civic ideology, a set of common understandings and aspirations, sentiments and ideas, that bind the population together in their homeland’. Adding that, the agencies of popular socialization-primarily the public system of education and the mass media – have been handed the task of ensuring a common public mass culture. (Smith, 1991: 9)

Pandangan Smith di atas menegaskan bahwa identitas nasional, dapat direalisasikan melalui produk kebudayaan, agar dapat diukur sejauh mana bangsa tersebut memiliki peradabannya yang tinggi, sekaligus sebuah Negara memerlukan ideologi Negara yang mampu mengikat beragam elemen masyarakat yang heterogen menjadi satu kesatuan aspirasi. 

Melalui pandangan Smith ini, dapat dipahami bahwa ngaji telah mampu menjadi produk kebudayaan yang menjadi ciri khas peradaban akademik bangsa Indonesia. Bahkan pada posisi tertentu, tradisi ngaji juga mampu menumbuhkan semangat nasionalisme kebangsaan masyarakat Indonesia. Argumentasi ini bisa dibuktikan melalui prasasti sejarah yang tak terbantahkan, bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia banyak dilakukan oleh kalangan kiai dan santri yang memahami melalaui mengaji bahwa mempertahankan kedaulatan Negara adalah salalh satu kewajiban agama. Maka, muncullah istilah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari keimanan) yang diklaim muncul dari pemikiran KH Hasyim Asy’ari. 

Ngaji dan Kedaulatan NKRI

Catatan penting dalam tulisan ini ingin menegaskan bahwa tradisi merupakan modalitas krusial dalam membangun kesadaran nasionalisme. Dengan tradisi yang mengambil segemntasi ngaji inilah, masyarakat –dalam pandangan Smith- akan memiliki pemahaman, aspirasi dan gagasan kolektif (common understanding, sentiment and idea) sebagai sebuah satu komunitas. Melalui tradisilah manusia dididik menjadi seseorang yang berwatak menyatu sebagai karakter dasar masyarakat. Tradisi merupakan warisan adi luhung yang di transmisikan dari generasi ke generasi secara langsung, yang mampu menjadi dinding pemisah antara ideologi kebangsaan dengan ideologi radikal. 
Positioning tradisi ibarat daun talas bagi pemahaman dan gerakan radikal yang dewasa ini menjadi cirri khas kelompok keagamaan tertentu.

Pada konteks ini, dapat dipahami bahwa memperbanyak produksi informasi dan gerakan berbasis tradisi dan kebudayaan merupakan usaha untuk melakukan counter terhadap ideologi radikalisme. Memperkuat tradisi di tengah masyarakat, sangat relevan untuk menumbuhkan kecintaan atas bangsa dan negaranya. Strategi ini, dalam rangka mengkontekstualisasikan nilai-nilai keislaman, di tengah gempuran globalisasi. Sehingga, entitas kebudayaan dalam konteks ini, merupakan aset bangsa yang menunjukkan jati diri nasional, karakter yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya dengan kebudayaan dan kepribadian yang unggul.

_________________________
Riza Ali Faizin (Ketua GP Ansor Sidoarjo)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ngaji; Identitas Nasional Santri"

Post a Comment

close