Mengantisipasi Generasi Neo-Gali Gongli

 Oleh: Ahmad Karomi

Siapapun yang pernah mendengar lagu Gali Gongli dari Virgiawan Listanto, akan membayangkan betapa malang nasib tokoh tersebut, bukan tidak mungkin fakta di lapangan, dia masih berkeliaran. Bahkan sedang berproses untuk melahirkan Gali Gongli baru di era millenial. Siapakah Gali Gongli?

Gali Gongli yang disebut Iwan Fals adalah sosok anak karbitan, dimana himpitan sosial ekonomi mendera. Dia lahir dari wanita yang menerima belaian ribuan pria hidung belang. Krisis ekonomi menjadi salah satu pemicunya, sehingga memunculkan pribadi-pribadi rapuh dan istilah "pahala" maupun "dosa" sudah tak laku untuk dibicarakan. Tawuran, ngedrug, judi, free sex, menjadi semacam rutinitas keseharian mereka.

Fenomena yang di potret Iwan Fals ini tak luput dari ketidak-becusan dan ketidak-adilan pemerintah saat itu (Orba), dimana geliat  Kapitalisasi ekonomi mulai menancapkan kukunya. Oleh karena itu, Bang Haji Rhoma Irama mengamini protes Iwan Fals dengan melafalkan bait dalam album dangdutnya "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". 

Gali Gongli yang dideskripsikan sebagai anak rembulan, tidak memiliki masa depan cerah, sehari-harinya hanya nongkrong di depan kedai tuak, sembari merokok. Siapapun yang berjumpa dengannya akan trenyuh. Pemuda di usia belasan yang seharusnya mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, hilang sirna laksana kepul asap rokok yang dihisap.

Lantas bagaimanakah dengan masa kini?! Apakah ada Gali Gongli millenial?! Dewasa ini, segala sesuatu yang pernah dianggap tabu dan privacy, menjadi biasa dan umum. Perilaku sosial masyarakat menuju ke arah nano-nano bin gado-gado. Seakan-akan, masyarakat harus mengikuti menggelindingnya bola zaman, meskipun menggelinding ke dasar jurang. Atau basa inggrisnya:" Kudu melu edan, ben kumanan." (Harus ikut edan, agar dapat bagian).

Semisal, dahulu kala berkebaya dengan brukut (tertutup) adalah terbaik dan paling diminati. Namun kenyataan sekarang, berkebaya yang fenomenal, kudu yang ngeblak (terbuka) ventilasinya. Siapa penemunya, dan apa motifnya, tetap mendapat apresiasi. Sebab tiap masing-masing daerah memiliki khas berkebaya. Brukut atau tidak brukut, yang penting inner beauty, kira-kira begitu fatwa desainernya.

Oke, kembali berbicara tentang Gali Gongli. Bagaimanakah di masa sekarang? Lalu, bagaimana pula cara mengantisipasinya? Menurut hemat saya, generasi Gali Gongli masa kini masih banyak. Mereka korban perselingkuhan yang dikemas beragam "atas nama"; ideologi, politik, ekonomi, dll. Tidak melulu lahir dari wanita penjaja keeksotisan tubuhnya. Nah, PR ini sebenarnya bisa diminimalisir dengan beberapa pola strategi. Di zaman yang katanya pasca reformasi dan revolusi mental ini, semestinya para pemegang kekuasaan, dan mereka yang memiliki posisi strategis  harus serius untuk mengantisipasinya.

Salah satu bentuk strategi antisipasi itu adalah melakukan pendekatan normatif-empirik secara bersamaan. Terjun ke masyarakat mendengarkan keluhan mereka dan mencarikan solusinya dengan memposisikan mereka sebagai saudara sebangsa, mengenalkan kembali ruh cinta tanah air, bergandengan tangan, bahu-membahu, merangkul mesra (bukan merangkul untuk mencekik, menjerat), dan bertindak sebagai pelayan masyarakat dalam membentuk generasi cemerlang, dan menginisiasi pendidikan karakter berbasis pancasila, menggalakkan pelatihan ekonomi, mensupport segala kebutuhan masyarakat baik dari sisi jasmani maupun rohani.

Misalnya, ketika petani membutuhkan pupuk NPK (Phonska), maka pemerintah harus menyediakan pupuk buatan dalam negeri dengan harga terjangkau. Bukan malah mengimport besar-besaran, mencekik ekspor dari negeri sendiri, dan menaikkan harga selangit, menghujani jeratan pajak. Akibatnya, banyak pemuda-pemudi sekarang emoh terjun bertani ke sawah, ladang. Mereka banting stir ke kota yang  katanya menjadi pusat putaran uang. Benang merah yang menindas masyarakat haruslah diurai. Agar tidak muncul Gali Gongli baru.

Mungkin, Gali Gongli yang dulu lahir dari rahim Orba berevolusi menjadi lebih klemis, manis, terstruktur rapi tapi mematikan. Sekarang bisa kita jumpai dari sepak terjangnya, seperti: kepiawaiannya lolos dari jeratan hukum, berakting sakit kala hukum menantinya, doyan menyebarkan hoax, memutarbalikkan fakta, pesta pora uang risywah (suap), maraknya apatisme, memakan rakus lahan rakyat, menggusur pasar tradisional, mencaplok sawah petani, ekonomi liberal, kapitalis dll.

Pasalnya, nasib generasi yang akan datang bergantung dari kiprah mereka. Bukan tidak mustahil, jika pasar modern membabat habis pasar tradisional, penggusuran rumah tanpa kompensasi yang sepadan, pengikisan hutan tanpa diimbangi penanaman tanaman, membangun kondominium apartemen tanpa diimbangi  penghijauan, akan melahirkan neo-Gali Gongli yang lebih millenial.

03-10-2017
(Ditulis ketika perjalanan Sby Blitar, di atas Bis Rukun jaya berkecepatan sedang)


Ahmad Karomi, PW LTNNU Jatim.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengantisipasi Generasi Neo-Gali Gongli"

Post a Comment

close