Memaknai Sumpah Pemuda dengan Mengenang Rianto


Oleh: Imam Mudofar

"Rianto". Sebuah nama khas Indonesia. Jawa lebih tepatnya. Ayahnya bernama Sukarmin. Ibunya bernama ngatiem. Beragama Islam meski namanya tidak keArab-araban. 

Rianto yang lahir di Kediri, 23 November 1975 telah membuktikan wujud pengabdiaannya pada kemanusiaan di Indonesia; sebuah negara yang terdiri dari banyak perbedaan ras, agama, suku dan golongan.

Tahun 2000, milenium baru, jadi saksi sejarah di mana Rianto menghembuskan nafas terakhirnya. Anggota BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) Nahdlatul Ulama ini didaulat turut serta mengamankam malam perayaan Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto.

Pada awalnya Misa yang berlangsung di gereja tersebut berjalan lancar. Tiba-tiba saja jamaat gereja melihat bungkusan mencurigakan. Rianto yang kebetulan berada di dalam lantas menghampiri dan membuka isi bungkusan itu. Ternyata berisi bom rakitan.

Tanpa basa basi. Di dekapnya bom rakitan itu. Rianto berlari sekuat tenaga. Mengeluarkan bom dari gereja. Barangkali saat itu, Rianto hanya berpikir jika bom meledak di dalam gereja, tentu banyak korban berjatuhan. 

Tak ingin banyak jatuh korban, Rianto terus berlari tanpa peduli nyawanya dalam ancaman. Meski Rianto sadar, sebagai anggota BANSER, dirinya hanya diberi ijazah agar tidak kebal dibacok. Bukan dibom. Tapi baginya, daripada jatuh banyak korban, lebih baik dia yang luluh lantah demi kemanusiaan.

Benar saja. Bom rakitan yang didekapnya meledak di luar gereja. Tubuh Rianto mental dengan kondisi yang tak bisa digambarkan. Rianto, pemuda yang saat itu baru berusia 25 tahun itu berhasil menyelamatkan sekian banyak nyawa meski dirinya harus tutup usia di medan laga.

Sebagai Pemuda, Rianto telah menunaikan sumpahnya untuk Indonesia. Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Meski berbeda agama, bagi Rianto jamaat gereja Eben Haezer Mojokerto adalah saudara sebangsa dan setanah air Indonesia yang patut ia jaga.

Rianto telah menunjukkan nasionalismenya, buah dari kecintaan terhadap tanah airnya. Rianto telah menyempurnakan keimanannya sebagai mana yang disabdakan Nabinya; "Hubbul Wathon Minal Iman. Cinta tanah air sebagian dari Iman." Rianto telah mengajarkan bagaimana sejatinya beragama dengan mengedepankan kemanusiaan.

Saat ini, di tengah kondisi Indonesia yang seperti ini, di tengah banyaknya pihak yang menghendaki Pancasila goyah dan NKRI pecah, di tengah isu, fitnah dan hujatan kebencian kelompok-kelompok yang mencoba menodai kerukunan antar umat beragama dengan berbagai latar belakang dan kepentingan, percayalah; " RIANTO TETAP ADA DAN BERLIPAT GANDA."

Untuk Rianto di taman Surga; Al Fatihah
________________________________________

28 Oktober 2017
Penulis: Imam Mudofar, Alumni Alfalah Ploso Kediri, 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memaknai Sumpah Pemuda dengan Mengenang Rianto "

Post a Comment

close