Kyai Asrori, Sosok Ulama Sufi yang Ahli Fiqih


Oleh : Kusroni*

Jamak diketahui bahwa K.H. Achmad Asrori Al Ishaqi adalah sosok ulama yang bisa dibilang produktif menghasilkan karya tulis. Karya-karya beliau bukan hanya tulisan yang berorientasi pada ranah teoritis, namun juga  kitab yang berorientasi pada tataran praktis. Dalam ranah teoritis beliau menulis kitab Al Baqiyat Ash Sholihat yang merupakan komentar terhadap kitab An Nuqtoh fi Tahqiqir Robithoh karya ayahanda beliau K.H. Muhammad Utsman Al Ishaqi, kitab yang berbicara masalah Robithoh dalam Tarekat.

Kitab lainnya adalah Al Muntakhobat fi Ma Huwal Manaqib, membahas tentang segala hal yang berkaitan dengan Manaqib. Sedangkan karya yang paling monumental dan merupakan magnum-opus beliau adalah Al Muntakhobat fi Robithotil Qolbiyah Wa Shilatir Ruhiyah, sebuah karya dalam bidang tasawuf yang berhasil beliau tulis dan rampung di masa-masa akhir hayat beliau, yakni pertengahan tahun 2009. 

Selain karya tulis yang berorientasi pada  tataran teoritis, banyak karya beliau yang berorientasi pada tataran praktis. Yang dimaksud dengan istilah praktis di sini adalah kitab yang berupa panduan dan tuntunan atau tatacara pelaksanaan ibadah dan amaliyah tertentu. Kitab tersebut antara lain, Al Faidhur Rohmani Li Man Yadhillu Tahta Ats Tsaqfi Al Utsmani Fil Irtibath bil Ghouts Al Jilani, berisi amalan dan panduan istighosah, Manaqib, dan Tahlil. Al Nafahat, berisi panduan dan bacaan dalam melaksanakan sholat tarawih, tasbih, dan sholat hajat. Kitab Al Iklil, panduan amalan tahlil dan maulidur Rosul SAW. Kitab Mir’atul Jinan, berisi amalan dan do’a Khotmil Qur’an serta Birrul Walidain.

Akan tetapi, kebanyakan murid, muhibbin, dan mu’taqidin beliau, bisa jadi tidak begitu mengetahui bahwa beliau juga memiliki karya tulis yang berbicara dalam tataran teoritis bidang Fiqih. Hal ini wajar, karena karya beliau yang satu ini ditulis pada kisaran pertengahan tahun 1970-an. 

Kitab Ar Risalah Asy Syafiyah fi Tarjamati Tsamaroti Ar Roudhoti Asy Syahiyah bi Lughoti Al Maduriyah adalah bukti produktifitas beliau dalam bidang tulis menulis dan juga kedalaman pengetahuan dan sumbangsih beliau dalam khazanah Fiqih Nusantara. Kitab ini dengan tebal 97 halaman ini diterbitkan oleh Percetakan Assegaf Surabaya. 

Sebagaimana tersurat dalam judul kitab tersebut. Bahwa kitab ini merupakan terjemahan berbahasa bahasa Madura dari kitab Aslinya berjudul Tsamaroti Ar Roudhoti Asy Syahiyah Li Tholabatil ‘Ilmi Asy Syarif Minal Indunisiyah bi Makkah Al Mahmiyyah. Kitab ini beliau tulis dengan bahasa madura yang halus dengan metode tanya jawab (hiwar) sesuai dengan kitab aslinya. 

Dalam mukadimah kitab tersebut beliau menjelaskan, bahwa karya tulis beliau ini merupakan jawaban dari permintaan sebagian ikhwan santri di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Roudhatul Muta'allimin Jatipurwo, Surabaya, Pesantren salaf berlokasi di Surabaya utara yang didirikan oleh Ayahanda beliau. Beliau diminta untuk menerjemahkan satu kitab yang membahas tentang tanya jawab permasalahan Fiqih. 

Jelas, tujuan utama dari penulisan kitab Ar Risalah Asy Syafiyah ini dengan menggunakan bahasa lokal adalah untuk memudahkan pemahaman bagi kalangan awam, sehingga Fiqih lebih membumi.

Meskipun kitab ini merupakan alih bahasa atau terjemah yang ditulis menggunakan bahasa Madura full teks, namun hal ini tidak mengurangi kepakaran beliau dalam bidang Fiqih. Karena di bagian-bagian tertentu beliau memberikan foot note atau catatan kaki berupa redaksi Arab dari kitab yang beliau jadikan rujukan untuk memperjelas dan memperluas pembahasan.

Hal ini menunjukkan bahwa beliau memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang Fiqih. Beberapa kitab yang beliau rujuk antara lain adalah At Tuhfah, Al Bajuri, Muhibah Dzil Fadhl, Al Iqna', dan kitab-kitab induk Fiqih lainnya.

Kitab ini diawali dengan pembahasan At Thoharoh dan diakhiri dengan pembahasan Haji. Pada kata penutup kitab juz 1 ini dijelaskan bahwa insya Allah dilanjutkan dengan jilid ke-2 dengan diawali pembahasan Al Bai’ (jual-beli). Namun sayangnya, bentuk fisik dari juz ke-2 tersebut belum kami jumpai. Menurut satu sumber dari Alumni Pondok Jatipurwo, bahwa beliau tidak sempat merampungkan juz ke-2 dari kitab ini karena beberapa alasan. 

Pada halaman pembuka kitab ini terdapat 3 (tiga) tulisan berisi endorsment (taqriz/semacam testimoni dari para tokoh) berbahasa arab. Pertama ditulis oleh K.H. Abdullah Faqih Amin, kedua oleh Al Habib Muhammad bin Ali Al Haddad, dan ketiga ditulis oleh Prof. H. Abdul Ghoffar Umar, yang pada saat itu merupakan wakil Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya.


Dengan demikian KH. Asrori adalah ulama yang multidisipliner. Beliau menguasai banyak bidang keilmuan, namun yang lebih dikenal dan paling menonjol adalah ilmu tasawuf, thariqah. Lahul fatihah 
_______________________
*Kusroni, Dosen Al-Fithrah Surabaya, Mahasiswa Dirasah Islamiyah Program Doktor (MORA) 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kyai Asrori, Sosok Ulama Sufi yang Ahli Fiqih "

Post a Comment

close