Kiai Saifuddin Zuhri; Inisiator di balik Menjamurnya IAIN di Indonesia

 Oleh: W. Eka Wahyudi

Indonesia dalam perjalanan sejarahnya, banyak dituntun oleh sosok-sosok kiai yang telah mengantarkan negeri ini menjadi bangsa yang besar. Peranan yang ditunjukkan oleh kiai, tak hanya terbatas pada aspek pendidikan keagamaan, bahkan tonggak berdirinya Negara ini, ditopang oleh lelaku para kiai yang berhasil menggabungkan antara spirit keagamaan dan semangat kebangsaan. 

Dari sinilah muncul kekhasan ekspresi keislaman di Indonesia dengan Negara mayoritas islam lain, bahwa pembangunan nasional bangsa ini, dilandasi oleh nilai-nilai islam sebagai inspirasinya. Dari deretan nama kiai-kiai tenar yang aktif memperjuangkan eksitensi kebangsaan, tersebutlah nama harum Kiai Saifuddin Zuhri. Seorang kiai multitalent dari Banyumas, yang berhasil menorehkan tinta perjuangan yang berlumur nilai-nilai spiritual.

Tak banyak yang tahu, bahwa menjamurnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Indonesia tak lain berkat tangan dingin sang Kiai. Terhitung semenjak dilantik sebagai menteri agama pada bulan Maret 1962, tak kurang dari Sembilan IAIN berhasil ia resmikan melalui keputusannya sebagai orang nomor satu di Departemen Agama. 

Gairahnya yang menggelora dalam pengembangan IAIN, pertama-tama ia lampiaskan melalui komitmennya untuk membentuk IAIN di setiap provinsi dengan empat fakultas (tarbiyah, syariah, ushuludin dan adab) dalam satu unit otonom. Dan di masing-masing provinsi tersebut, IAIN sebagai induk institusi dikembangkan pada setiap kabupaten/ kota dengan penyebaran fakultas-fakultasnya.

Namun, upaya pengembangan IAIN ini mengalami kendala karena serapan pendanaan Departemen agama kala itu terbilang kecil. Tahun pertama kepemimpinannya, ia hanya mendapat “jatah” 600 juta. Jumlah yang cebol ini, justru membawa hikmah tersendiri dalam usahanya mengembangkan IAIN. Ia, akhirnya mengeluarkan kebijakan yaitu, bagi daerah yang menghendaki berdirinya IAIN diharuskan terlebih dahulu mendirikan badan wakaf untuk mengusahakan tanah, gedung dan modal usaha. Sedangkan pemerintah –dalam konteks ini Departemen Agama-  akan memberikan fasilitas dan pengakuan (civil effect) bagi para lulusannya. 

Dengan demikian, IAIN akan menjadi milik bersama, antara masyarakat dan pemerintah. Strategi cerdik ini, dilakukan Kiai Saifuddin agar departemen agama tak memiliki kultur  birokrasi yang “serba pemerintah”. Kebijakan ini, nantinya membawa implikasi tentang adanya konsep desentralisasi dan berdikarinya sebuah lembaga pendidikan atas nama rakyat Indonesia, serta adanya konsep pendidikan berbasis masyarakat. 

Berawal dari IAIN di Yogjakarta sebagai “anak sulung”, IAIN kian berkembang pesat setidaknya sampai akhir masa baktinya pada Oktober 1967. Tercatat, jejak ekspansi pengembangan IAIN dibawah komando Kiai asal Jawa Tengah ini, meliputi daerah-daerah yang dikenal kosmopolitan, antara lain IAIN Jakarta (yang awalnya merupakan cabang dari IAIN Yogjakarta), menyusul kemudian di Banda Aceh, Surabaya, Ujung Pandang, Banjarmasin, Padang, Palembang dan Jambi.

Dalam proses pengembangannya, Kiai Saifuddin merasa ada yang kurang, yakni berkaitan dengan nama yang cocok untuk disematkan sebagai nama IAIN. Karena selama ini, hanya didasarkan pada nama kota-kotanya saja dimana IAIN itu didirikan, misalkan; IAIN Jakarta, IAIN Yogjakarta dan lain sebagainya. Maka, dengan dibekali keilmuan sejarah dakwah yang menjadi spesialisasi keilmuannya, Kiai Saifuddin mempunyai inisiatif untuk memberikan nama-nama penyebar agama islam setempat dimana IAIN tersebut didirikan. 

Maka, tersebutlah nama-nama lembaga pendidikan itu, sesuai dengan pialang islam di daerahnya masing-masing. Antara lain: 1) IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 26 Tahun 1965, 2) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 49 Tahun 1963, 3) IAIN Sunan Ampel Surabaya melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 20 Tahun 1965, 4) IAIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 89 Tahun 1963, 5) IAIN Alaudin Makasar melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 79 Tahun 1965, 6) IAIN Antasari Banjarmasin melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 89 Tahun 1964, 7) IAIN Imam Bonjol Padang melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 77 Tahun 1966, 8) IAIN Raden Patah Palembang melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 7 Tahun 1964 dana yang terakhir, melalui Surat Keputusan Menteri Agama No. 84 Tahun 1967 resmi didirikan IAIN Sultan Thaha Saifuddin

Yang menjadi catatan menarik dari perjuangan pengembangan IAIN ialah saat mendirikan IAIN di Surabaya. Hal ini dikarenakan, hanya di IAIN Surabayalah yang tak mempunyai gedung perkuliahan. Di Yogjakarta dan Jakarta, bernasib sebaliknya. Kedua daerah yang pernah menjadi ibu kota Negara ini mempunyai gedung perkuliahan yang memadai. Namun, kota pahlawan mengalami nasib yang memelas. Bahkan, salah satu fakultas IAIN Surabaya pernah menyelenggarakan perkuliahan di Madrasah Muallimat NU.

Merasakan keprihatinan akan kenyataan itu, maka bermodal tanah seluas dua hektar atas usaha badan waqaf masyarakat Surabaya, Kiai Saifuddin mendirikan bangunan kampus dengan menggandeng masyarakat Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Bangunan tersebut didirikan di atas lahan yang kini terletak di Jl. Ahmad Yani. Karena jasanya, Kiai Saifuddin diminta untuk meletakkan batu pertama pembangunan gedung tersebut.

Gairahnya yang berapi-api dalam mendirikan gedung IAIN Surabaya tersebut, di dasari atas pengakuannya bahwa yang memimpin Departemen Agama sebelum ia menjabat sebagai menteri, sebagian besar dari Jawa Timur. Dari fakta sejarah inilah, Kiai Saifuddin ingin membuat prasasti sejarah yang monumental sebagai “balas jasa” atas pengabdian putra-putra terbaik Jawa Timur kepada bangsa dan Negara.

Melalui langkah pengabdian tanpa mengenal lelah ini, Kiai Saifuddin telah sangat sukses menjadi contoh jempolan bagi generasi masa kini, keberangkatannya dari pesantren, seakan menjadi batu pijakan yang kokoh dalam memperjuangkan ajaran islam melalui semangat kebangsaan. Sepak terjangnya yang memukau, semenjak perang gerilya melawan kolonialisme serta komunisme era 1960-an, sampai prestasinya yang membanggakan dalam pengembangan IAIN, mencerminkan konsistensinya sebagai pejuang keummatan, sebagaimana statementnya pada suatu ketika; “setiap ideologi yang berbahaya tidak bisa dilawan dengan hanya menggunakan kekerasan dan senjata, tetapi harus dihadapi dengan kesadaran beragama”.

________
W. Eka Wahyudi (PW LTNNU Jatim, Pegiat Kobar Surabaya)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kiai Saifuddin Zuhri; Inisiator di balik Menjamurnya IAIN di Indonesia"

Post a Comment

close