Cerpen Santri: Samudra Cinta Ar-Raudhah


Oleh: Fera Andriani*

Ninis mengucek-ngucek matanya. Perih, bahkan sesekali air mata panas keluar dari matanya. Dampak buruk pemakaian android setiap waktu mulai terasa. Maklum saja, Ninis tidak tahu apa yang harus dikerjakannya untuk membuang waktu. Dulu semasa masih kuliah, pulang ke rumah adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu. Tapi sekarang, di saat dia harus benar-benar pulang karena studinya sudah rampung,  “pulang” menjadi hal yang sangat menakutkan. Sudah tiga hari dia mengurung diri di kamar.

“Nis, ikut Ummi yuk...!” Ajak ibunya yang tiba-tiba sudah muncul di pintu kamarnya.

“Kemana, Mi?” Tanyanya dengan penuh keengganan.

“Ada walimahan di pesantren desa sebelah. Itu lho, putrinya Kyai Sirajudin menikah.”

“Males ah, Mi. Badan Ninis capek-capek, pegal semua.”

“Capek diam di kamar?” Sindir Umminya yang lalu mendekati putrinya. “Kamu mulai sekarang sudah harus sering ikut Ummi ke berbagai acara, Nis. Kalau tidak, silaturrahim pesantren kita dengan pesantren lain maupun dengan masyarakat bisa terputus. Dan itu tidak baik untuk masa depan pesantren kita, juga untuk masa depan dakwah Islam...”

Hal seperti itu sudah sangat sering Ninis dengar. Sebagai anak perempuan tertua Kyai Hafiz dan Nyai Salma, Ninis menjadi tumpuan harapan untuk masa depan pondok putri Ar-Raudhah. Sementara di pondok putra, kakak laki-lakinya yang sudah berkeluarga sudah terjun langsung menjadi pengasuh pondok. Satu lagi kakak laki-lakinya masih melanjutkan studi di Maroko. Sementara adik bungsunya yang juga perempuan masih bersekolah di Mts.

“Ummi bisa menjamin gak tema pembicaraan di acara nanti?”

“Apa maksudmu?”

“Iya... antar Nyai-nyai baik yang muda maupun yang sepuh-sepuh, yang diomongin itu-ituuu... aja. Masalah anak, resep masakan, beritanya para santri alumni... bosen tau Mi.” Ucap Ninis dengan ketus.

“Oh oh... sombongnya yang sudah lulus S-2 sampai meremehkan Nyai-nyai lain. Itu Ning Hilya yang sudah Doktor aja tetap gabung sama kita-kita. Para Nyai yang kamu remehin tadi.” Umminya mulai gusar. Harapannya Ninis bisa luwes bergaul seperti Hilya, pokanannya.

 “Ya sudahlah, Ummi ditemani para Ustadzah aja. Tapi tolonglah, sesekali kamu keluar kamar, syukur-syukur keliling pondok...” Kemudian Nyai Salma bergegas keluar dari kamar putrinya untuk segera bersiap-siap. 

Setelah umminya berlalu, Ninis pikir ada benarnya juga keluar kamar agar tidak bosan. Biasa berada di Jakarta yang hingar bingar, kembali ke Madura apalagi di sebuah desa terpencil, di dalam pesantren pula, membuat perasaan Ninis kosong. Sudah lama hatinya tidak lagi tersambung dengan pesantren dan segala hal di dalamnya. Padahal dari kamarnya terdengar jelas bunyi bel, juga langkah-langkah dan gurauan para santriwati yang lalu lalang. Bagaimanapun dia harus belajar mencintai lagi lingkungan asalnya. 

Tempat yang pertama kali ingin dia tuju adalah ruang kerja Abahnya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan Kyai Hafiz. Disana banyak sekali kitab-kitab klasik dan juga buku-buku kontemporer, sekaligus menjadi perpustakaan keluarga. Dulu karena seringnya membaca buku-buku di sana membuat Ninis terinspirasi untuk menjadi penulis buku dan melanjutkan studi setinggi-tingginya.

Ninis memasuki ruangan yang saat itu sedang kosong. Tapi di sudut ruangan ada sebuah komputer yang sedang menyala. Dia melihat-lihat bagaimana perkembangan perpustakaan keluarganya. Rupanya buku-buku disana sudah bertambah banyak, bahkan hampir dua kali lipat dari sejak dia tinggalkan ke Jakarta dua tahun lalu. Ada buku-buku pendidikan, psikologi, bahkan buku-buku pemikiran dari barat. Ketika sedang asik melihat-lihat...

“Siapa itu? Maaf ini ruangan Bapak Kyai, lho...!” Tegur sebuah suara.

“Lha sampean siapa? Saya tau ini ruangan Abah saya....!” Ninis sewot sambil melihat ke si pemilik suara. Ternyata seorang pemuda berkaca mata,  berpakaian rapi yang lumayan tampan dan gagah. Di tangannya ada setumpuk kertas.

“Oh, maaf. Ini yang namanya Ning Khoirun Niswah, ya?” pemuda itu tersenyum singkat. Suaranya penuh wibawa, “Maaf, kirain santriwati atau ustadzah baru gitu. Silakan, lanjutkan!” “Ning” adalah panggilan penghormatan untuk putri Kyai. Setelah itu pemuda tadi pergi ke komputer di sudut ruangan, lalu terus mengetik. Sementara Ninis yang awalnya mencari-cari buku, jadi tersita perhatiannya pada pemuda tadi. Kalau diperhatikan, mungkin usianya diatas Ninis tapi juga tidak terlalu jauh beda. Siapa dia? Pikirnya. Tak lama rasa penasarannya terjawab ketika Abahnya masuk ke ruangan itu. Lalu memperkenalkan pemuda tadi sebagai sekretaris pribadi Abahnya, namanya Royyan. 

“Sejak kapan Abah punya sekretaris pribadi?” Tanya Ninis sambil mengejar Abahnya ke ruangan lain di sebelah ruang kerja Abahnya. Biasanya disana tempat Abahnya menerima tamu-tamu istimewa. 

“Abah kan tambah sibuk. Alhamdulillah sejak kakakmu terjun langsung menjadi pengasuh, pesantren kita makin maju dan sering dijadikan percontohan. Abah jadi makin sering menerima tamu dari mana-mana, dan kita juga akan membuka Sekolah Tinggi. Makanya Abah butuh sekretaris yang gak cuma nulis, tapi juga pandai membuat konsep. Royyan sering Abah libatkan dalam rapat-rapat penting pondok. Orangnya pandai membaca situasi, pintar menganalisa...” Kyai Hafiz terus memuji Royyan di hadapan Ninis. Kalau dalam buku-buku novel yang pernah dibacanya, hal seperti ini biasanya menjadi modus perjodohan yang direkayasa Abahnya. Hm... tunggu saja Bah. Ini Ninis, bukan Siti Nurbaya.

Sewaktu Ninis kembali ke ruang kerja Abahnya, tampak Royyan sedang menuang air panas dari water dispenser  ke cangkir kopinya. Sambil mengaduk dia mengguman, “Saatnya Laki-laki Menyiapkan Kopi Sendiri....”

Ninis tersentak, spontan dia melihat ke arah Royyan yang sedang tertawa kecil. Kalimat yang digumamkan Royyan tadi adalah judul kolomnya yang dimuat di sebuah harian terkemuka bulan lalu. “Ups... maaf!” Ujar pemuda itu kemudian kembali ke meja kerjanya. Pandangan Ninis mengikutinya. 

“Ada apa dengan tulisan saya?” Tanya Ninis. Dia ingin tahu sedalam apa ulasan Royyan mengenai tulisannya yang kontroversial itu. Hampir tidak sabar dia menunggu Royyan bicara karena masih tampak sangat menikmati kopinya.

“Sampean berani, Ning!” Komentarnya singkat.

“Berani gimana, maksudnya?” Kejar Ninis.

“Yaa... berani mengkritik para Ulama, para Kyai, dan para lelaki...” Royyan tertawa.

“Iya tapi apakah salah? Rasulullah saja membantu pekerjaan istrinya...”

“Iya, tapi jangan lupa. Rasulullah melakukan itu semua dengan cinta. Bukan karena patuh pada perjanjian pra-nikah seperti yang Ning usulkan dalam tulisan itu.”

Dalam tulisan Ninis, sudah saatnya membangun rumah tangga di era modern ini dengan serba perjanjian tertulis. Jadi ada pembagian kerja yang jelas antara suami istri. Suami dapat bagian memasak, mencuci, dan sebagainya beberapa hari dalam seminggu, jatah yang sama dengan istri. Yang berbeda hanya istri mempunyai tambahan tugas untuk hamil dan melahirkan. Bahkan untuk menyusui, bisa memasukkan ASI ke dalam botol lalu suami pada hari piket rumah tangganya “menyusui” anaknya. Tulisannya banyak menuai pro-kontra di sosmed. Terutama tentang konsep bersalaman antara suami dan istri, yang kebanyakan istri mencium tangan suami. Dia menawarkan konsep salaman yang setara, tanpa takdzim atau penghormatan. Tapi semakin dikritik, Ninis semakin getol membela konsepnya yang juga diamini para tokoh feminis muda.

“Kalau saya sih, gak mau dapat istri seperti itu,” Royyan berkomentar enteng.

“Nah, itu contoh keegoisan laki-laki. Siapa juga yang mau lelaki egois?” Ninis sewot.

“Sebenarnya yang menganggap rendah tugas-tugas domestik rumah tangga ya para feminis sendiri. Mereka tidak bangga dengan kemampuan wanita yang multi-tasking. Bayangkan saja, seorang ibu dalam sehari bisa menjadi koki, perawat, guru, tukang ojek, perencana keuangan, desainer, bahkan kalau tikus masuk rumah bisa jadi pendekar...!” Royyan berkelakar. Ninis merasa tersindir. Sebab dia termasuk yang getol menyebarkan paham feminisme meskipun tidak separah temannya yang sampai menolak pernikahan. 

“Jangan-jangan sampean mengidolakan Profesor Doktor Mahfuzah ya Ning?” 

Jleb...! tepat sekali tebakan Royyan. Ninis memang sangat mengidolakan profesor muda yang kontroversial itu. Yang sering menggemborkan kesetaraan nyata antara laki-laki dan perempuan. Konsep rumah tangga ala Doktor Mahfuzah itu yang menginspirasinya.

“Iya, betul. Hebat sekali suaminya mau berkorban demi karier istrinya. Kemanapun istrinya ngisi seminar, bahkan sampai berminggu-minggu di luar negri, suaminya fine-fine aja. Meskipun gak punya anak, mereka enjoy aja. Gak seperti banyak laki-laki yang kalau istrinya tidak bisa memberikan keturunan, maunya cari wanita lain. Dasar!!”

“Tau kabar terbaru Doktor Mahfuzah?” Tanya Royyan. Ninis mengernyitkan dahi.  “Mereka bercerai, dan sekarang Mas Farhan sudah menikah lagi. Dapat alumni pesantren, sekarang lagi hamil muda.”

Ninis sangat terkejut bagaimana Royyan bisa mengetahui semua berita itu, padahal dia yang terkadang berkonsultasi via telepon langsung tentang berbagai pemikiran barat dengan Doktor Mahfuzah malah tidak tahu kabar tersebut.

“Baca gosipnya dimana?” Tanya Ninis dengan sinis.

“Mas Farhan itu sepupu saya. Dan kami memang tidak menyebarkan berita bahagia Mas Farhan dengan rumah tangga barunya agar tidak merendahkan mantan istrinya di hadapan publik. Yaa... asal tau saja. Mas Farhan sangat kapok dengan rumah tangga serba pakai perjanjian, pertimbangan untung-rugi, dan perhitungan take and give. Dia merindukan cinta dan ketulusan, ingin tau rasanya tangan dicium takdzim oleh istri. Dan sekarang alhamdulillah sudah didapatnya. Maaf saya mau lanjutkan kerjaan, ya!”

Ninis merasa gamang dan hampa mendengar kabar profesor idolanya. Rasa-rasanya konsep yang sudah tertata dalam pikirannya mulai runtuh. Tapi bukan Ninis namanya kalau mudah menyerah begitu saja. Dia tidak akan begitu saja meralat tulisan-tulisannya yang kebanyakan berisi kritik terhadap para ulama mengenai perempuan.

**************************

Percakapan bersama Royyan beberapa hari yang lalu masih mengacaukan pikirannya, dan hari ini mencapai klimaks. Dia butuh teman sharing. Tiba-tiba dia ingat Mbak Hilya, sepupunya yang selalu dibangga-banggakan umminya. Kabarnya dia sudah lulus program Doktoral. Dan kabarnya juga, sekarang anaknya sudah lima, beberapa masih balita. Siapa tahu Mbak Hilya bisa memberinya pencerahan tentang konsep rumah tangga. Dan kalaupun pendapatnya selama ini salah, dia ingin kalah dengan elegan setelah melalui perdebatan dan pertimbangan yang masuk akal. 

“Mi, pamit ya mau ke rumah Mbak Hilya.” Ninis mencium tangan Umminya.

“Iya, tuh kebetulan Pak Royyan ada keperluan juga ke pesantrennya Hilya. Nanti sore kayaknya kesana. Sekalian ajak salah satu Ustadzah biar kalian gak berduaan saja di mobil.” Pesan Umminya.

“Gak usah Mi, Ninis mau berangkat pagi ini biar seharian di rumah Mbak Hilya. Biar puas ngobrolnya. Mau naik motor aja.”

Ninis sudah tidak bisa dicegah. Dia memang terbiasa mandiri. Apalagi dia punya sedikit kemampuan bela diri. Perjalanan ke Jakarta sendirian aja berani, apalagi ke pesantren Mbak Hilya yang cuma dua puluh kilometer. Pikir Ninis.

Tak lama kemudian Ninis sudah sampai di pesantren Hilya. Posisinya seperti dirinya, yaitu anak perempuan tertua yang diberi amanah untuk mengasuh pesantren putri. Ninis sadar dia harus banyak belajar ke kakak sepupunya ini. Sebab dia tidak bisa mengingkari janji pada abahnya untuk kembali ke Ar-Raudhah, setinggi dan apapun dan sejauh manapun dia kuliah. Tapi bagaimana untuk memulai dia merasa bingung, selaksa berada di titik nol lagi.

Ketika sampai, tampak Hilya baru saja selesai mengajar. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, matahari sudah lumayan tinggi. Tapi Hilya masih tampak sangat ceria dengan menuntun anaknya, dan menggendong satu lagi. Ketiga anak yang lain sudah bersekolah.

“Nanti ngajar lagi Mbak?” Tanya Ninis.

“Gak, hari ini memang ngajar pagi aja. Tapi ya tetap ngawasi jalannya program.” Ninis mengungkapkan kebingungannya bagaimana memulai berkiprah di pesantren. 

“Itulah kalau terlalu lama meninggalkan pesantren, Dek.” Ucapan Hilya dibenarkan Ninis. Selama S-2 Ninis nyaris tidak pernah pulang. Dia sibuk dengan tugas kuliah dan malang melintang di kajian-kajian, termasuk diantaranya feminisme walaupun tidak begitu radikal. Untunglah dia tidak terjebak dalam kelompok kajian liberal.

“Nih, Mbak sudah cetak email-emailmu dimasa-masa awal kuliah dulu. Waktu itu kamu baru kuliah, lagi seneng-senengnya belajar. Tapi juga lagi kangen-kangennya pada suasana pesantren.” Ujar Hilya sambil menyodorkan setumpuk kertas pada Ninis. Mereka dulu memang sangat akrab dan saling curhat. Tapi sejak Hilya menikah, Ninis merasa perhatian Hilya agak berkurang. Apalagi setelah menikah Hilya diboyong suaminya untuk menemani menyelesaikan studi di Arab Saudi. Itu juga yang membuat Ninis kesal, merasa wanita diperlakukan tidak adil. Sebab Hilya harus cuti kuliah demi menyertai suaminya hingga lulus duluan.

“Itu lihat ide-ide brilianmu untuk pesantren. Mbak sudah praktekkan. Malah kamu sendiri yang barangkali lupa...” kata Hilya. Ninis terkejut juga dengan tumpukan email yang sudah dicetak Hilya.

Di sebuah email, Ninis mengusulkan agar kitab kuning tidak hanya diajarkan dengan metode klasik seperti bandongan dan sorogan saja. Bandongan yaitu Kyai membacakan kitab kepada para santri, kebanyakan dengan menterjemahkan. Santri mendengarkan dan mencatat sendiri kata-kata yang dianggapnya sulit. Sementara metode sorogan yaitu santri mengajukan sebuah kitab kepada Kyai untuk dibacakan secara individual. Ninis mengusulkan agar pesantren juga menggunakan metode modern seperti diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi atau praktik. Juga di akhir pembelajaran sebuah kitab tidak langsung berganti ke kitab lain begitu saja, namun penting kiranya diadakan berbagai evaluasi. 

Bisa jadi ada santri yang salah paham terhadap isi kitab, dan ini berbahaya jika dia nantinya sudah menjadi pengajar. Tulis Ninis di akhir emailnya.

“Nah, usulmu yang ini sudah Mbak praktikkan di pesantren sini. Di Ar-Raudhah sudah apa belum?” Tanya Hilya. 

“Di pesantren putra sih sudah sejak Mas Fatih yang pegang... tapi kayaknya di putri belum. Ummi belum siap katanya.”

“Nah, itu. Gitu kok bingung pesantren mau diapain lagi?” Hilya tertawa.

“Usulmu agar di pesantren sering diadakan lomba tulis menulis, sudah Mbak lakukan. Alhamdulillah sudah dua kali pesantren putri meluncurkan antologi cerpen, dan puisi sudah lima kali. Buku Ilmiah satu kali, berupa kumpulan resensi dari berbagai kitab kuning.” Hilya menjelaskan. Ninis jadi ingat ketika masa-masa awal kuliah betapa sulitnya dia mengungkapkan buah pikiran. Tapi dengan seringnya ikut lomba tulis menulis, dia jadi terlatih dan makin percaya diri. Sekarang namanya sudah dikenal setingkat nasional.

“Yang paling lucu emailmu yang ini....” Hiya menunjuk salah satu kertas yg dicetak dengan warna berbeda dari yang lain. Di antara tulisan-tulisannya juga ada yang diberi garis bawah, juga tanda seru dan tanda tanya. Sepertinya sering dibahas.

Mbak, nanti kalau kita sudah punya anak jangan sering-sering nitip anak. Ya pokoknya sebagai ibu kita harus menjadi tokoh utama bagi anak. Masakan terlezat mereka haruslah masakan kita, baju terbaiknya pilihan kita, dan apapun yang terbaik adalah karya kita. Hasil penelitian di Jepang, anak yang semasa balita hanya mempunyai tokoh utama ayah dan ibunya saja, di usia SD,  kecerdasan mereka unggul beberapa poin  dari mereka yang diasuh oleh banyak orang semasa kecilnya.

Makanya Mbak, kita harus sekolah setinggi mungkin agar bisa mendidik anak-anak  kita dengan baik. Itu juga kan cita-cita Kartini? Bukannya malah untuk jadi wanita karier yang menelantarkan keluarga. Awas suaminya kawin lagi lhoo... haha guyon kok Mbak.

“Makanya ketika Mbak baca Saatnya Laki-laki Menyiapkan Kopi Sendiri  itu Mbak sedih. Mana adikku yang dulu? Kena cuci otak? Padahal kamu berasal dari keluarga penuh cinta. Beda dengan para feminis yang biasanya memang punya trauma di masa kecil.” Hilya berbicara serius. Ninis tertunduk. “Ummimu menyiapkan kopi untuk Abah dengan cinta. Beliau tidak merasa dalam tekanan saat melakukannya. Abahmu juga menerima dan meminumnya dengan cinta, bukan dengan rasa kemenangan dan kesombongan.”

Diskusi mereka dijeda dulu karena Hilya sibuk dengan permintaan anak-anaknya, juga akan menyiapkan makan siang untuk suaminya. Ninis ikut terjun ke dapur untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir ini. Ternyata ada kepuasan tersendiri ketika orang lain lahap menikmati masakannya. Hilya dan suaminya bercerita bahwa ketika Hilya sibuk dengan kuliahnya, suaminya yang menjaga anak-anak, beres-beres, bahkan memasak. Walaupun banyak santri pengabdian yang mau diperintah melakukannya, mereka berdua berkomitmen untuk sebisa mungkin melakukan sendiri tugas-tugas domestik. Kecuali jika keduanya sama-sama sibuk, barulah meminta tolong beberapa santri yang mengabdi di sana.

“Dan itu tanpa surat perjanjian pra-nikah, lho Dek. Otomatis aja pembagian kerjanya. Pakai CINTA...,” ujar Mas Imran suami Hilya sambil tersenyum.

“Iya iya Mas... percaya deh masih ada cinta. Tapi nyari dimana?” tanya Ninis pasrah.

“Sudah insyaf kayaknya dia Mas. Apalagi kalau nanti jadi dilamar Royyan... Ups!” goda Hilya. Rupanya Royyan adalah adik kelas Mas Imran di Saudi dulu. Ninis merasakan ada konspirasi dan proyek perjodohan antara keluarga Mbak Hilya dengan orang tuanya. Tapi, ya sudahlah biarkan semua mengalir. Pemikiran Ninis sudah banyak berubah lagi.

Sebelum pulang, Hilya berpesan agar Ninis banyak bergabung dan bergaul dengan para santriwati dan ustadzah untuk merasakan kembali kehidupan pesantren. Dipegangnya tumpukan email dari Hilya dengan erat. Ternyata jawaban kebingungannya ada pada tulisan dia sendiri di masa lalu. Ninis meminta izin pada Hilya untuk membawa setumpuk email itu untuk dibacanya kembali nanti di rumah.

“Kembalilah lahir dan batin ke Ar-Raudhah! Kembalilah pada kehidupan Islami, Tarbawi, dan Ma’hadi, maka cinta yang akan menemukanmu. Ar-Raudhah itu samudera cinta...!” pesan Hilya. 

___________________________________
*Fera Andriani (Alumni Al-Amin Prenduan, Sumenep. Dosen STAI Syaikhona Kholil, Mahasiswi Program Doktoral MORA 2017 UIN Sunan Ampel Surabaya)
Alamat blog: feraandriani.blogspot.com
Alamat FB: fera andriani djakfar






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen Santri: Samudra Cinta Ar-Raudhah"

Post a Comment

close