Kitab Sair As-Salikin dan Kurikulum Tasawuf di Nusantara


Oleh: Rijal Mumazziq Z (Kaprodi Ahwalus Syakhsiyyah STAI al-Falah Assunniyah Kencong Jember)


Ramadan 1438 silam, saya mendapatkan kitab ini di toko buku Putra al-Maa’rif, Jl. Sasak, Surabaya. Stoknya cuma satu saja. Inipun sudah berdebu. Kitab terbitan Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah (tanpa tahun, tanpa kota) ini lama tak terjamah, kayaknya. Terdiri dari empat juz dan dikemas dalam dua jilid, kitab karya ulama besar Syekh Abdusshamad bin Abdurrahman al-Falimbani (1704-1789) ini punya andil besar dalam dominasi tasawuf akhlaqi/ tasawuf ‘amali di Nusantara hingga hari ini.

Jika ada pertanyaan, siapakah ideolog resmi yang membuat Tasawuf Akhlaqi dominan dan populer di Nusantara dibandingkan dengan corak Tasawuf Falsafi yang lebih rumit, maka pengarang kitab inilah jawabannya. Al-Falimbani yang dikaruniai panjang umur ini tergolong punya kemampuan mumpuni di berbagai bidang (tabahhur fi al-'ilm).

Koneksinya yang luas di Haramain dan Nusantara membuatnya lebih mudah menyerap dan mengajarkan berbagai macam keilmuan yang dia miliki. Al-Falimbani punya sahabat sezaman dan para junior yang punya jaringan luas di Haramain-Nusantara, antara lain Syekh Dawud Fattani (Pattani), Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Abdurrahman al-Batawi dan Syekh Abdul Wahab al-Bughisi. Nama nama ini adalah para sufi terkemuka yang menjadi mursyid tarekat dan turut memperkokoh persebaran tarekat di masanya (Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syattariah dan Khalwatiyah).

Pengaruh Syekh Abdusshamad dalam mengokohkan corak tasawuf Ghazalian tampak dalam penyusunan kurikulum tazkiyat an-nafs melalui beberapa karya Imam Ghazali, seperti Hidayat as-Salikin yang merupakan adaptasi bebas dari Bidayat al-Hidayah. Adapun Sair As-Salikin Ila Ibadati Rabb al-‘Alamin ini merupakan terjemahan sekaligus uraian dalam bahasa Melayu atas Ihya Ulumiddin.

Karya ini, sebagaimana kitab aslinya, dibagi atas empat juz yang penggarapannya memakan waktu tidak kurang sepuluh tahun. Dalam juz yang pertama, yang dimulai tahun 1193 H/1779 M dan diselesaikan pada awal 1194 H/1780 M di Makkah, dibicarakan mengenai perkara Ushuluddin serta ibadat. Juz yang kedua diselesaikan di Thaif pada bulan Ramadan 1195 H/Januari 1781 berisi semua adab manusia di dunia. Sedangkan juz ketiga diselesaikan di Makkah pada bulan Safar 1197 H/ Januari 1783 M menjelaskan muhlikat, yaitu maksiat lahir dan batin. Sedangkan juz terakhir membahas aspek Munjiyat yaitu ibadat dan akhlak terpuji. Juz terakhir ini diselesaikan pada 20 Ramadan 1203 yang bertepatan dengan 21 Oktober 1788.

Kitab ini sendiri diracik oleh al-Falimbani dari berbagai sumber, sebagaimana yang dia sebutkan dalam ulasannya. Antara lain: Bidayat al-Hidayah, Minhaj al-‘Abidin, Arba’in fi Ushul ad-Din, dan komposisi yang paling banyak tentu saja dari Ihya’ Ulumiddin. Sedangkan bahan baku keilmuan lainnya, sebagaimana pengakuan al-Falimbani, diolah dari al-Futuhat al-Ilahiyyah-nya Sayyid Abdul Qadir al-Aidarus (1570-1628), al-Washiyah al-Jiliyah li As-Salikin Li Thariqah al-Khalwatiyyah karya Sidi Syaikh Musthafa Kamaluddin Bakri (1688-1749), serta beberapa karya Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad (1634-1720), seperti Risalah al-Mu’awanah, Nashaih ad-Diniyah, al-Mawaidz an-Nafs, dan beberapa karya lainnya. Selain itu, al-Falimbani juga mengambil saripati kitab As-Sair wa As-Suluk ila Malik al-Muluk karya Sidi As-Syekh Qasim bin Shalahuddin al-Halabi (w. 1697). Tentu saja, al-Falimbani tidak lupa mengambil saripati ilmu dari gurunya, Syaikh Muhammad As-Samman, melalui Nafahat al-Ilahiyyah-nya. Karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghunyah, juga tidak luput dari penukilannya.

Tiga Level

Dalam Sair As-Salikin, juz III, halaman 177-183, Syekh al-Falimbani menyebut kurang lebih 100 judul kitab yang berguna bagi para penempuh jalan tarekat. Kemudian beliau melakukan kategorisasi kelompok sesuai dengan martabat yang perlu digapai oleh para pembacanya.
Untuk para mubtadi’ (pemula), Syekh al-Falimbani menganjurkan kitab-kitab Tasawuf Akhlaqi, seperti berbagai kitab karya Imam al-Ghazali. Antara lain: Bidayat al-Hidayah, Minhaj al-‘Abidin, Arba’in fi Ushul ad-Din, Mukhtashar Ihya Ulumiddin dan Ihya’ Ulumiddin. Sebagaimana disebutkan oleh al-Falimbani, para pemula ini adalah mereka yang baru saja menjalani lelaku ilmu tarekat, yang hatinya belum suci daripada maksiat batin seperti riya’, ujub, kibr, dan sebagainya.  

Dengan mengutip perkataan Imam Husain bin Faqih bin Abdurrahman Bafadhl al-Hadrami, al-Falimbani menjelaskan apabila berbagai kitab karya al-Ghazali menjadi obat bagi orang-orang yang lalai, bermanfaat bagi mereka yang sudah bertarekat, serta memperluas ilmu para ulama (ar-rasikh fi al-‘ilmi) dan orang-orang bijak bestari (al-‘Arifin) yang menunjukkan jalan menuju Allah.

Pada level pertama, ada beberapa kitab yang disarankan oleh al-Falimbani sebagai bahan bacaan yang mempermudah seorang salik dalam menempuh jalan tasawuf. Antara lain: al-Futuhat al-Ilahiyyah-nya Sayyid Abdul Qadir al-Aidarus (1570-1628), al-Washiyah al-Jiliyah li As-Salikin Li Thariqah al-Khalwatiyyah karya Sidi Syaikh Musthafa Kamaluddin Bakri (1688-1749), Risalah al-Mu’awanah, Nashaih ad-Diniyah, al-Mawaidz an-Nafs, Ad-Da’wah At-Tammah dan beberapa karya Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad (1634-1720) dan beberapa judul lainnya, termasuk Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki.

Sedangkan bagi mutawassith (tahap pertengahan), al-Falimbani menyodorkan berbagai kitab hizib. Level al-mutawassith ini, menurut al-Falimbani, adalah mereka yang mempunyai hati yakni orang yang telah mencapai pertengahan jalan ilmu tarekat, yaitu orang yang telah dibukakan oleh Allah berkah suluk-nya dan memperbanyak aurad serta dzikir kepada Allah. Untuk tahap menengah ini, ada sekitar 30 kitab yang disebutkan oleh al-Falimbani. Antara lain: Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, berikut syarah kitab ini yang ditulis oleh Syekh Ahmad al-Marzuqi, Syekh Ahmad bin Ibrahim an-Naqsyabandi, dan Syekh Ahmad al-Qusyasyi al-Madani. Al-Falimbani juga menyodorkan At-Tanwir Fi Isqath At-Tadbir karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Lathaif al-Minan karya karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Fath Ar-Rahman syarh Hikam karya Syekh Zakariya al-Anshari serta Futuh al-Ghaib karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Selain judul-judul ini, ada lusinan kitab lain yang dijadikan sebagai panduan para salik tahap menengah ini, termasuk Risalah Qawanin al-Ahkam wa Al-Asyraf Ila Shufiyah Bi Jami’ al-Afaq karya Syekh Abu al-Mawahib As-Syadzili.

Adapun bagi mereka yang telah mencapai derajat tertinggi (muntahi), al-Falimbani menyebut 30 judul kitab yang mayoritas adalah kitab-kitab berbasis wahdat al-wujud. Hal ini menunjukkan apabila secara keilmuan, al-Falimbani tidak alergi apalagi anti pada kajian Tasawuf Falsafi ala Ibnu Arabi, Abdul Karim al-Jili, Muhammad Fahdlullah Burhanpuri, maupun para pegiat Tasawuf Falsafi di Sumatera, seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani.

Menutup ulasannya, Syekh al-Falimbani memberi peringatan pada halaman 184: “….syahdan, bermula segala ilmu tasawwuf yang tersebut dahulu itu dan lainnya sekalian itu yaitu ilmu yang memberi manfaat di dunia dan akhirat, tetapi ilmu tasawuf yang pada bicara ilmu hakikat yang tersebut pada martabat yang ketiga itu tiada sangat memberi manfaat ia melainkan bagi orang yang muntahi. Adapun orang yang mubtadi’, yang tiada mahir ia di dalam mengetahui tarekat, maka yaitu barangkali jadi madharat akan dia, dan barangkali jadi zindiq. Seperti kata Imam Malik dahulu, Man tashawwafa wa lam yatafaqqahu fa qad tazandaqa, artinya barangsiapa mengaji ilmu tasawuf dan ytiada ia megaji ilmu fiqh, maka sesungguhnya menjadi zindiq, yakni barangsiapa mengaji ilmu tasawuf yang pada membicara ilmu hakikat itu padahal ia tiada mengaji ilmu ushuluddin dan tiada ia mengaji ilmu thariqat dan tiada ia mengamalkan ilmu thariqat itu, niscaya jadi zindiq dan ia orang jabariyah.

Sebagai seorang yang menguasai peta pemikiran tasawuf dengan baik, al-Falimbani menyarankan agar kitab-kitab tasawuf falsafi yang rumit ini tidak dibaca oleh mereka yang masih tahap pemula. Dia menyarankan apabila sebaiknya kitab-kitab Imam al-Ghazali lah yang dijadikan rujukan standar. Kepiawaian Imam al-Ghazali dalam menyelaraskan tasawuf dengan fiqh, dan mengkompromikan pengalaman sufisme dengan syariah menjadikan corak tasawuf yang dipilih olehnya lebih leluasa diterima di berbagai dunia Islam dan memiliki pengaruh signifikan selama depan abad belakangan. Membaca susunan Ihya Ulumiddin yang ditulis secara sistematis berdasarkan tahapan-tahapan lahir batin seorang hamba, seolah melihat kecemerlangan al-Ghazali dalam memetakan perkembangan ruhaniah seorang salik. Jilid I dan II, misalnya, membahas pelaksanaan kewajiban dan syariat agama Islam. Jilid III, al-Ghazali mulai mengajak pembaca lebih dalam berselancar di samudera tasawuf dengan pembahasan mengenai tazkiyat an-nafs dan tahapan makrifat secara terperinci. Sedangkan jilid IV, pemikir besar ini membahas berbagai penyakit hati dan metode penyembuhannya.

Sistematika perjalanan seorang salik menuju tuhannya ini, yakni menjadi pecinta Allah tanpa meninggalkan aspek esensial seperti Syariah, banyak menuai respon positif di kalangan ulama Islam. Pertentangan antara syariat dan tasawuf bisa diperkecil bahkan diharmonisasikan, sehingga ulama memiliki kemampuan sebagai ahl as-Syari’ah (fuqaha’) dan ahl al-haqiqat (sufi) sekaligus. Mereka menguasai tidak hanya seluk beluk syariat, tetapi juga haqiqah (realitas ilahiah).

Dari sini, al-Ghazali pantas disebut sebagai seorang mujaddid, sang reformer, dalam bidang sufisme. Dan, dalam kacamata yang lebih detail, kita bisa melihat apabila Syekh al-Falimbani adalah ulama yang “menggelar karpet merah” menyambut dan merayakan sufisme al-Ghazali secara terbuka di Nusantara.

Wallahu A’lam Bisshawab.


Rijal Mumazziq Zionis (PC LTN NU Kota Surabaya, Kaprodi Akhwal Syakhsiyyah STAI Al-Falah Assunniyyah Kencong Jember)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kitab Sair As-Salikin dan Kurikulum Tasawuf di Nusantara"

Post a Comment

close