Bumi Datar Sebuah Pandangan Politis


Oleh: Achmad Murtafi Haris

Topik Bumi Datar ramai menyedot perhatian banyak orang di Indonesia. Argumen yang dibangun oleh pendukung Bumi Datar pun dipromosikan dan menarik banyak orang untuk menerima dan menjadi penganutnya. 

Salah seorang teman yang termasuk mempercayai ide itu mengajak berdiskusi tentang hal itu dan bahwa sang teman benar-benar telah ‘menganut’ faham tersebut. Dia pun coba menjelaskan kepada anaknya yang baru masuk SMA bahwa bumi itu datar dan bahwa gravitasi bumi itu tidak ada dan yang ada adalah hukum berat jenis, yakni sesuatu yang berat akan jatuh ke bawah sedangkan yang ringan seperti kapas akan mengawang oleh tiupan angin. Oleh anaknya tentu penjelasan sang ayah disangkal sebab berlawanan dengan apa yang didapat di sekolah. Sang teman pun mengajak anaknya untuk mendebat sang guru jika mengatakan bumi itu bulat. “Cuma jangan keterlaluan sebab kamu nanti bisa gak lulus ujian”, katanya. 

Menurut sang teman bumi ini berbentuk lingkaran tapi tidak bulat seperti bola. Ujung atau tepi bumi adalah kawasan yang bersalju yang sangat luas yang penghabisannya belum mampu dijangkau manusia. Tepi itu dijaga oleh tentara-tentara Amerika dan menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh mereka misteri di balik ujung bumi yang bersalju itu. Saya katakan bahwa yang paling bisa menjelaskan adalah NASA atau antariksawan yang pernah melihat bumi dari langit. Dia pun menjawab bahwa belum ada manusia yang terbang menjangkau setinggi itu menembus atmosfir dan menyebut bohong bahwa Amerika telah sampai ke bulan. Itu foto dibuat di studio bahwa Neil Amstrong menginjakkan di bulan. Satelit yang beredar di langit itu semua adalah bohong sebab kalau iya mana mungkin satelit bertahan dan tidak rusak ketika berputar mengikuti putaran galaksi bumi.

 Amerika berhasil menjual kebohongan itu sehingga meraup banyak keuntungan di mana semua satelit membeli darinya. Dunia banyak termakan oleh Barat dan ilmu pengetahuan yang mereka bangun sehingga seisi dunia tunduk dan berhutang kepadanya. 

Paparan di atas menunjukkan bahwa ide Bumi Datar mengandung dua unsur pandangan ilmiyah dan politis. Ketika menolak teori gravitasi dan yang ada adalah berat jenis, hal ini adalah pandangan ilmiyah. Tetapi ketika masuk ke penjelasan ujung bumi yang bersalju dan dijaga oleh tentara Amerika sehingga tidak ada orang yang bisa sampai ke sana, maka ia adalah pandangan politis.

Pandangan politis memang bisa membentuk pandangan ilmiyah. Artinya bahwa sebuah kebenaran tidak murni obyektif tapi ditentukan oleh kekuatan besar yang mendukung sebuah ide. Ide yang didukung oleh mayoritas akan mendapat pengakuan kebenaran yang lebih jika dibandingkan dengan yang didukung oleh minoritas. Kekuatan mayoritas dalam mempengaruhi opini publik dan keberpihakan mereka pada satu ide dan menolak yang lain adalah sesuatu yang  bersifat politis yang mampu menentukan benar dan salahnya sebuah pandangan. 

Dalam hal ini apa yang mereka perjuangkan dalam mempertahankan ide Bumi Datar adalah perlawanan terhadap dominasi Barat terhadap wacana ilmiyah yang ada dunia. Dominasi barat dalam ilmu pengetahuan harus diakhiri dan diganti dengan pandangan baru yang benar yang bersumber dari agama Islam. Pertanyaannya, apakah ilmu pengetahuan yang ada ini berasal dari Barat sehingga orang Islam harus  punya sendiri yang lain? Apa yang dicapai di Barat sejatinya bukanlah murni dari mereka.

Pandangan yang merubah dari Bumi Datar ke Bumi Bulat adalah pandangan yang ditransfer dari Aristoteles yang di kemudian hari mendapat angin di Barat. Angin yang bertiup itu sampai ke Barat melalui seorang mediator muslim yang mampu menjembatani antara peradaban Yunani Kuno dan era pencerahan Eropa. Dialah Averroes yang dikenal sebagai Bapak Kebangkitan Eropa dari seribu tahun kegelapan abad pertengahan.  Artinya bahwa kemajuan yang terjadi di Eropa yang kemudian mendominasi dunia adalah kemajuan yang dibangun pondasinya oleh Averroes yang muslim. Maka, produk ilmu pengatahuan dan teknologi yang berasal dari Barat jika ditarik ke belakang adalah produk yang bersumber dari peradaban Islam pada masa keemasannya. 

Penolakan terhadap produk Barat oleh sebagian umat Islam karena bukan bersandar dari Islam dengan demikian sebenarnya tidak memahami bahwa yang ditolak itu sebenarnya adalah produk Islam bukan produk Barat murni. Dalam kasus Bumi Datar yang kemudian dianulir menjadi Bumi Bulat dan oleh sebagian umat Islam sekarang mau dikembalikan lagi ke Bumi Datar, sebenarnya Bumi Datar adalah faham yang dianut Gereja dan telah menjadi bagian dari doktrin agama sehingga mereka yang menolaknya dianggap sesat dan layak dihukum mati. Peradaban Islamlah yang memperkenalkan kepada Eropa bahwa bumi itu bulat. Jadi sentimen anti dominasi Barat yang ikut melatarbelakangi penyebaran ide Bumi Datar adalah ahistoris.  

Averroes yang terkenal dengan sebutan ‘the Commentator’ karena telah memberikan penjelasan yang detil tentang filsafat  Aristoteles sehingga sang filsuf Yunani itu menjadi terkenal di Eropa. Pandangan aristoteles bahwa kebenaran itu bersifat realis bukan idealis seperti pendapat Plato adalah pandangan filsafat yang melatarbelakangi lahir-kembangnya Ilmu Alam yang berpengaruh besar dalam pola pikir manusia di segala bidang. Pandangan realisme yang melihat sesuatu dengan apa adanya bukan mengingkari yang nampak untuk mencari makna hakiki di balik itu, adalah pandangan yang kemudian mampu menjelaskan gejala-gejala alam, merekamnya, membandingkan antara satu gejala dengan gejala lainnya dan menyimpulkannya.

Pandangan ini, yang apa adanya ini, adalah dasar dari empirisme yang menjadi acuan kerja penelitian sains. Inilah dasar yang menghasilkan data empiris yang distatistikkan setelah melakukan pengelompokan  data untuk membaca gejala alam pada obyek tertentu. 

Selain empirisme, rasionalisme juga merupakan sumber kebenaran yang melahirkan pengetahuan. Rasionalisme meyakini bahwa kebenaran telah ada dan tidak melalui proses eksperimen empiris. Hal ini ada dalam logika, matematika, etika dan metafisika. Logika yang berbicara tentang berfikir benar dan salah diasah lewat matematika untuk mendapatkan kebenaran yang dihasilkan dari koherensi dan konsistensi sebab akibat. 

Hukum kausalitas menjadi dasar dalam rasionalisme dan itu bisa dicapai tanpa harus melakukan uji faktual. Sebut saja peribahasa: “Rajin pangkal Kaya, Malas pangkal Miskin”; peribahasa ini diterima oleh semua orang karena secara rasional. Orang tidak perlu mengadakan survey untuk membuktikan kebenaran peribahasa ini.

Biarpun ada orang yang rajin tapi miskin dan malas tapi kaya, sampel ini tidak menganulir peribahasa tersebut. Orang bahkan akan dengan yakin mengatakan bahwa itu tidak mungkin: “orang dia rajin saja miskin apalagi malas” dan fakta empiris yang berlawanan dengan peribahasa itu pun disalahkan oleh rasio begitu saja. 

Konsistensi terhadap hukum kausalitas inilah sumbangsih yang terbesar dari Averroes terhadap peradaban Eropa. Eropa yang saat itu pada abad ke-12 hidup dalam abad kegelapan yang dipenuhi dengan takhayyul dan khurafat amatlah jauh dari faham kausalitas. Ketundukan mereka bukan pada kausalitas tapi pada kekuasaan Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu dan menentukan hasil usaha manusia. 

Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan termasuk hukum kausalitas. Kausalitas tidak menentukan hasil tapi Tuhanlah yang menentukan hasil. Api bisa menjadi dingin dan mayat bisa hidup kembali atas kehendak Allah. Kepercayaan terhadap mukjizat yang terjadi berlawanan dengan kausalitas begitu dominan pada saat itu dan mengalahkan kepercayaan pada hukum kausalitas.  

Melalui terjemahan Averroes, Eropa menjadi kenal hukum alam dan itu membuka jalan bagi lahirnya era pencerahan di Eropa. Bumi Datar yang dianulir oleh Bumi Bulat termasuk materi yang diperkenalkan oleh Averroes kepada Eropa yang merujuk pada Aristoteles. Sebagai seorang ahli hukum Islam dengan karya besarnya Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid tentunya apa yang dilakukan Averrores sudah pasti menggunakan pertimbangan hukum Islam. Meski pandangan ortodoks Islam saat itu juga menganut faham Bumi Datar tapi apa yang dianut oleh Averroes bisa dipastikan berdasarkan premis-premis naqli atau dalil-dalil al-Qur`an dan hadits. 

Seorang jurist atau ahli fikih tidak berani melanggar dalil kalau tidak merupakan materi yang debatable. Maka perkara bentuk bumi datar atau bulat adalah perkara ijtihadiyah dan apa yang dianut oleh Averroes dan menyebar ke Eropa dan dunia bukanlah menunjukkan dominasi Eropa atas dunia tapi dominasi empirisme Averroes ke peradaban sains dunia. Sebuah dominasi yang bersumber dari pandangan Aristoteles dan Islam dan peradaban-peradaban dunia lainnya. 




Daftar bacaan:
Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar. 
Edward Grant, God and Reason in the Middle Ages (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 152.
Usamah Hasan, the Triumph of Traditionalism. Lihat https://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2009/nov/27/islam-science-ghazali

_________________________________

Achmad Murtafi Haris, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bumi Datar Sebuah Pandangan Politis"

Post a Comment

close