Pilih Facebook atau Reading book?!


Oleh: Ahmad Karomi

Dewasa ini, serbuan gadget atau gawai tidak bisa dipungkiri. Bahkan menjadi semacam "kebutuhan pokok" yang -hampir- menggeser posisi anak istri dan kolega dalam kehidupan nyata. Seluruh waktu tercurahkan pada benda kotak pipih  nan cerdas. Apapun kebutuhan manusia tinggal klik saja.

Kecenderungan kita di zaman serba instan serta "praktis" ini pelan-pelan "menumpulkan" sisi interaksi dengan dunia Nyata, sehingga timbul kurang peka dengan lingkungan sekitar. Segalanya seolah ada di genggaman tangan, bahkan menggenggam tangan pasangan terkalahkan oleh mendekap gawai smartphone maupun tablet yang menyimpan foto Nella Kharisma. 

Diantara beberapa kelebihan gawai adalah tersedianya medsos kondang, yaitu Facebook. Menurut perwakilan Facebook, Michael Yoon, pengguna Facebook secara keseluruhan di Dunia berjumlah 2 Milyard. Tercatat 80 kali sehari mereka "menyenamkan" jari untuk masuk Facebook. Sedangkan Facebook di Indonesia, Facebook sudah mencapai lebih 111 juta pengguna. Dapat dibayangkan, berapa Milyard pula konten-konten yang dibaca, ditonton, disebarkan oleh para pengguna. Karena siapapun bisa berkontribusi di alam maya. 

Ada poin penting yang diulang oleh Yoon, yakni Engagement atau keterlibatan dalam Facebook. Dimana, kita akan terbawa secara emosional dan terseret di dalam. Ibarat ditiup angin laut hingga berlayar mengarungi samudera akun; baik abal-abal maupun asli. Ada baik dan ada pula buruk. Mengapa disebut Facebook? Sebab di situ terpampang wajah-wajah yang beragam, seperti album foto di dalam lemari. Kita bisa membaca wajah, profil lengkap beserta statusnya. Kecuali mereka memiliki tendensi tertentu.

Menginjak laman Facebook kita  akan dihadapkan kalimat "apa yang anda pikirkan?". Ini adalah salah satu pertanyaan yang arahnya "melibatkan" pengguna Facebook menuliskan uneg-uneg terbaiknya, ide-ide penuh manfaat, kebaikan-kebaikan. Ironisnya produksi keburukan pun tak kalah gencar. Bahkan menjadi profesi yang menggiurkan. Cukup sebar hoax, dapat bayaran, sembari main game wonder woman, penuh riang gembira layaknya bertatapan langsung dengan mata indah Gal Gadot.

Bagi sebagian khalayak termasuk saya, berselancar di ranah Maya sangat mengasyikkan. Informasi apapun telah disediakan bagi mereka yang gila input ilmu pengetahuan. Pun, bagi mereka yang haus akan hiburan. Lantas apakah kehadiran Facebook menggerus kecintaan reading book (baca buku)?! 

Harus diakui bahwa minat reading book (baca buku) semakin menurun. Salah satu penyebabnya adalah minimnya ajakan untuk "menyukai buku". Mengawali ajakan yang bertumpu dari kesukaan, pelan-pelan akan berlanjut "suka membaca". Coba saja tanyakan, mereka suka Facebook atau reading book?! Pastilah jawabannya suka "reading (face)book" yang praktis tersisip dalam saku. Dan ternyata, trend pengguna Facebook saat ini banyak yang beralih ke live video-audio streaming. Bukan Abjad A B C D. Walhasil, mereka menjadi sosok pembaca yang kurang paripurna. Sebab bagaimanapun juga Facebook tidak bisa menggantikan tebalnya buku History of god karya Karen Armstrong.

Belum lagi persoalan pelik terkait transformasi buku kertas menuju buku elektronik, semisal e-book yang di anggap sebuah terobosan hebat untuk memanjakan penggemar buku, agar tetap eksis membaca dan menambah asupan protein pengetahuannya. Padahal tidak semua pencinta buku betah berlama-lama "mentelengi" gadgetnya. Memang, Era digital adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi, tapi tidak semua hal bisa di "digital" kan. Bisakah "keharuman" buku kertas di "scan" menjadi Pdf?! 

Namun saya pribadi masih optimis, belantara Facebook takkan bisa sekonyong- konyong membumi hanguskan baca buku kertas, meskipun hanya satu dari puluhan masyarakat nyaman dan merasa "keren" menenteng dan membaca buku kertas daripada mencengkram tablet dan berselancar di dalamnya. Alangkah tepat bila baca buku kertas menjadi induk atau pondasi utama dalam meningkatkan minat baca, tanpa harus menentang atau menolak mentah-mentah Facebook maupun e-book (buku digital). Sehingga perlu adanya gerakan ngaji media yang arahnya berupa sinergitas baca buku lintas Dunia; maya dan nyata.
_________________________________



    Ahmad Karomi (PW LTN NU Jatim)


















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pilih Facebook atau Reading book?!"

Post a Comment

close