Lima Alasan Pondok dan Madrasah Tidak Penting


Oleh: W Eka Wahyudi


Sebagai warga Negara yang baik, menjadi keharusan untuk taat kepada pemerintah. Karena pemerintah maha mengetahui segala hal yang tidak kita pahami. Seperti halnya keputusan terbaru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak yang terhormat Muhajir Efendi, yang membuat kebijakan sebijak-bijaknya dengan menerbitkan peraturan lima hari sekolah. Sebaiknya, kaum nahdliyin tidak perlu ngotot. Karena sang Bapak menteri hanya ingin menata dan mendidik anak-anak Indonesia supaya karakternya baik, dengan dua cara. Banyak-banyakin hidup di sekolah, belajarlah lebih banyak dengan bersekolah. Hal itu akan membuat sebagian besar jatah hidup peserta didik terwadahi di sekolah. Keluarga dan masyarakat jangan terlalu banyak untuk “digauli”. Agar terhindar dari buruknya karakter. Toh, selama ini tidak ada peraturan yang memuat bahwa keluarga dan masyarakat bukan unsur penting dalam menunjang pendidikan, iya toh? Kalau memang pentingkan, bapak menteri pasti akan membuat regulasinya. Faktanya kan, tidak! Sudah, sudah, anda tak perlu marah. Anda tidak paham kebijakan secara makro.
Nah, bagaimana dengan pondok dan madrasah yang akan terancam eksistensinya jika memaksakan sekolah lima hari full? Anda kan sudah saya kasih tahu. Bapak menteri pendidikan lebih memahami, mana yang baik untuk anak Indonesia, dan mana yang tidak baik. Sini, akan saya jelaskan, kenapa pondok dan madrasah tidak penting dalam pendidikan nasional. Biar aset NU ini tak dibela mati-matian oleh warganya. Toh, hanya NU kan yang menolak? Ciee, single fighter ya? Menyangkut pendidikan saja kok ngotot sih om? tapi teman sebelah om juga ngotot kok, tapi bukan masalah pendidikan, hanya masalah politik. Yang organisasinya baru dibubarkan itu, tuuu.
Oke, singkat cerita. Akan saya jabarkan dengan detail, singkat, padat dan berisi. Agar anda makin tahu bahwa pondok pesantren dan madrasah tak perlu dibela mati-matian.
1. Dengan sekolah lima hari full, siswa akan diajari bagaimana tata bahasa arab yang baik sebagai gerbang pembuka keilmuan islam melalui kitab alfiyah, jurumiyah dan imrithy. Sehingga siswa akan terdidik dengan karakter keislaman yang jauh dari cara beragama tekstualis dan kaku. Dan hal itu tidak ada di pesantren dan madrasah diniyah.
2. Di sekolah lima hari, siswa dididik dengan karakter mandiri, bagaimana cara makan bersama satu nampan, antri ke kamar mandi, masak bareng-bareng, belajar dan diskusi, menjadi keamanan/ lurah sekolah, mencuci baju sendiri, menata buku dan baju sendiri, tidur dengan alas seadanya, budi daya lele, ikan  mujaer di depan ndalem guru atau kepala sekolah, dan yang paling vital adalah belajar menunggu teman saat ke WC. Ini butuh keterampilan yang matang dan paripurna, karena menyangkut kompetensi menahan tingkat tinggi. Dan hal ini tak anda dapatkan di pesantren dan madrasah.
3. Mau belajar kitab klasik lintas disiplin keilmuan, dengan merujuk pada kitab-kitab asli yang ditulis pengarangnya? Baik dalam bidang fiqh, tasawuf, al-Quran, hadits, sejarah dan lain sebagainya. Sekolahnya hanya di lembaga yang menerapkan lima hari full, dan lagi-lagi itu tak akan ada dapatkan di pondok pesantren dan madrasah.
4. Ingin mempunyai guru, ustadz, atau kepala sekolah yang setiap hari, setiap waktu, setiap malam membangunkanmu untuk sholat, mereview pelajaran yang siang tadi dipelajari bersama? Belajarlah di full day school. Karena tidak akan anda dapatkan di pesantren dan madrasah.
5. Apakah anak-anak anda ingin punya jiwa nasionalisme, cinta bangsa yang dilandasi semangat keagamaan yang kuat. Yang lembaganya dalam sejarah mempunyai andil dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan dengan darah dan nyawa? Maka sekolah lima hari solusinya. Pesantren dan madrasah tak punya sejarah seromantis itu.
Gimana, sudah tahu kan bedanya sekolah lima hari dengan pesantren dan madrasah? Kalau sudah tahu, tak ada alasan untuk menolak sekolah lima hari atau full day school. Tidak lama kok, hanya 8 jam sehari. Dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Setelah sekolah, anak anda bisa main sebentar sampai menjelang magrib. Setelah itu, bisa mengulang pelajaran yang tadi pagi diberikan, kemudian membaca untuk persiapan besoknya. Setelah itu bisa tidur 8 jam juga. Harus imbang antara porsi sekolah dan porsi tidur. Jangan sampai pergaulan dan sosialisasi anak anda mengganggu jam sekolah dan jam tidur ya.
________________________

W. Eka Wahyudi, PW LTNNU Jatim


Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Lima Alasan Pondok dan Madrasah Tidak Penting"

  1. Wah. Bweettul itu mas eka
    Dan keluarga para gurunya juga tidak perlu terlalu diperhatikan lah. Lebih baik perhatikan anak banyak orang

    Pengalaman di rumah. Bapak mengajar di sekolah yg sudah menerapkan fds. Dan imbasnya ke ibuk. Kalau biasa abah pulang Dr sekolah jam 12/1an bisa langsung ngajak ibuk pulang Dr pasar. Tapi semenjak Ada fds. Ibuk seeing kebingungan cari yg bisa jemput pulang. Sedangkan anak2nya tidak setiap hari bisa karena sudah berkeluarga. Akhirnya apa? Ibuk jalan kaki di siang bolong yg panas di usia beliau yg semakin sepuh.

    ReplyDelete
  2. Wah. Bweettul itu mas eka
    Dan keluarga para gurunya juga tidak perlu terlalu diperhatikan lah. Lebih baik perhatikan anak banyak orang

    Pengalaman di rumah. Bapak mengajar di sekolah yg sudah menerapkan fds. Dan imbasnya ke ibuk. Kalau biasa abah pulang Dr sekolah jam 12/1an bisa langsung ngajak ibuk pulang Dr pasar. Tapi semenjak Ada fds. Ibuk seeing kebingungan cari yg bisa jemput pulang. Sedangkan anak2nya tidak setiap hari bisa karena sudah berkeluarga. Akhirnya apa? Ibuk jalan kaki di siang bolong yg panas di usia beliau yg semakin sepuh.

    ReplyDelete
  3. Saya kurang setuju klw 5 hari sekolah.. Saya lebih setuju sekolah 3 hari pulang magrib...Wkwkwkwk

    ReplyDelete
  4. Setuju Full Year School aja dehhh...

    ReplyDelete

close