Kesetiaan itu....


Oleh: M. Najih Arromadloni
Kesetiaan yang dalam bahasa Arab mempunyai padanan kata al-wafa’, dimaknai oleh para pakar bahasa sebagai memenuhi komitmen atau janji. Habib Quraish Shihab menerangkan, arti asal kata wafa’ adalah memenuhi atau tidak meninggalkan sesuatu. Dari akar kata yang sama, lahir kata wafat, karena yang wafat telah menyempurnakan masa hidupnya di pentas bumi ini dan tidak meninggalkan sesaat apa pun dari masa hidupnya itu. Ia menambahkan, kesetiaan adalah puncak dan kesempurnaan budi yang luhur. Alquran menyatakan pentingnya memenuhi janji dan komitmen dalam QS. al-Isra ayat 34, baik terhadap Tuhan maupun sesama manusia.
Ikrar setia hidup bersama dalam ikatan perkawinan merupakan di antara janji yang terpenting, bahkan seandainya ada syarat yang ditetapkan dalam akad nikah, maka harus pula dipenuhi.
Alquran menamakan akad pernikahan sebagai mithaqan ghaliza atau ikatan yang sangat kukuh. Melepaskan ikatan itu, walau sebabnya bisa diterima dan hukumnya halal, ia masih merupakan yang paling dibenci oleh Allah. “Bagaimana bisa janji setia itu disia-siakan padahal masing-masing telah membuka rahasianya yang terdalam kepada pasangannya yang tidak dibukanya walau terhadap kedua Orangtuanya”, demikian ditandaskan oleh Shihab menyadur QS. al-Nisa ayat 21.
Kesetiaan dicontohkan oleh Rasulullah, bukan saja selama pasangannya masih hidup, tetapi berlanjut hingga kematiannya. Ini ditunjukkan terhadap istri beliau Sayyidah Khadijah yang mendahului beliau, di antaranya dengan mengenang hari-hari bahagia yang pernah mereka alami serta berbuat baik kepada sahabat dan karibnya.
Kepada suami-istri yang telah bercerai, meski perkawinan mereka hanya berlangsung beberapa saat, Alquran berpesan agar tidak melupakan jasa dan saat-saat indah yang pernah terlewatkan bersama (baca QS. al-Baqarah ayat 237).

Kesetiaan Terhadap Sejarah
Bentuk kesetiaan lain, dikatakan oleh Shihab, adalah kesetiaan menyangkut sejarah. Ini antara lain tercermin pada penghargaan dan kesetiaan meneruskan perjuangan para pahlawan dan orang-orang berjasa yang telah mendahului kita. Ingatlah ketika seseorang pernah membantu Anda. Jangan sekali-kali menjadi seperti kacang yang melupakan kulitnya.
Setia kepada sejarah bermakna pula sebagai menjaga dan mengisi warisan kemerdekaan negara yang merupakan bumi dimana dia menghirup udaranya, meminum airnya, memakan hasil buminya, dan menempati liang tanahnya ketika nanti sudah tidak bernyawa.
Sebuah pengkhianatan yang besar ketika seseorang berlaku sebaliknya. Dengan tidak mempunyai ‘rasa terima kasih’, ada yang menyebut para pahlawan gugur masuk neraka sebab memperjuangkan nasionalisme (bukan khilafah), dengan seloroh yang merendahkan, pada sebuah video yang viral, ada yang menyebut serban Pangeran Diponegoro adalah simbol serban kaum Hindu, ada pula yang sampai menafikan eksistensi sejarah Walisongo. Saya bertanya-tanya, apakah mereka tidak pernah berfikir sedikit saja, bahwa mereka menikmati hidup dalam kemerdekaan ini di atas tulang belulang dan darah para pahlawan! Mereka sampai memeluk Islam juga karena dakwah yang merupakan rintisan Walisongo di nusantara.
Para pengingkar sejarah ini, yang terus merongrong ikatan persatuan umat dan negara, digambarkan oleh Alquran dalam posisi seorang wanita jelek lagi gila yang merombak kembali tenunannya sehelai benang demi sehelai setelah tenunan itu kuat (baca QS. al-Nahl ayat 92).
Menutup tulisan pendek ini saya mengutip perkataan Abdul Malik al-Ashma’i (740-831 M), salah seorang pakar bahasa Arab: “Kalau Anda ingin mengetahui tingkat kesetiaan seseorang, maka lihatlah kecintaan/kerinduannya terhadap tanah air dan temannya, serta kenangannya pada masa-masa lalu.”
Dari kutipan tersebut diketahui adanya korelasi antara kesetiaan seseorang dengan kecintaan terhadap tanah air, dan kemudian kita tidak pernah heran, ketika oknum pengurus partai dan ormas yang berkhianat terhadap istri dan keluarganya, dengan perbincangan mesum bersama perempuan lain, mencabuli anak di bawah umur dengan metode ‘mobil goyang, sampai yang ketahuan gemar menyimpan fustun, terbukti adalah pengurus ormas atau partai yang disinyalir tipis kesetiaannya terhadap tanah air. Astaghfirullah...
_______________________
*M. Najih Arromadloni, PW LTN NU Jawa Timur

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesetiaan itu...."

Post a Comment

close