Dakwah Kekinian Kaum Santri




Oleh: M. Najih Arromadhoni

Tinta emas sejarah mencatat eksistensi Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan akomodatif terhadap budaya lokal di bumi pertiwi, tidak lepas dari sumbangsih dakwah  kaum santri, baik pada periode prakolonial, zaman kolonial, era kemerdekaan, Orde Baru, dan reformasi. Banyak penelitian dan buku sejarah ‘merekam’ semua ini. Dan menjadi sebuah fakta sejarah bahwa aktivitas dakwah pesantren senantiasa memberikan sumbangan maha penting dan berharga bagi umat dan bangsa, utamanya dalam hal pembentukan karakter positif nan luhur bagi individu-individu muslim di nusantara.

Da'i lulusan pesantren adalah da'i yang ideal bagi masyarakat muslim Indonesia yang majemuk dan terdiri dari berbagai macam suku bangsa, adat istiadat, dan agama. Dalam sebuah wadah pendidikan pesantren yang komunal, integral, dan futuristik, para santri, sebagaimana disampaikan oleh Faried Wijdan (NU Online, 23/10), telah dididik soal: karakter (character), rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas (creativity), ilmu dakwah/komunikasi (communication), berpikir kritis (critical thinking), bekerjasama (collaboration), tanggung jawab kultural dan sosial (cultural and social responsibility), penyesuian diri (adaptibility), melek media dan digital (digital and media literacy), penyelesain masalah dan membuat keputusan (decision making and problem solving).

Komponen-komponen pengajaran tersebut telah membentuk lulusan pesantren menjadi dai ideal yang beretika luhur (strong ethic), terpercaya dan bertanggung jawab (dependability and responsibility), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), lentur (adaptibility), jujur dan berintegritas (honesty and integrity), memiliki motivasi untuk tumbuh dan belajar (motivated to grow and learn), tangguh dan percaya diri (strong self and confidence).

Mengutip KH. Yusuf Hasyim, pesantren tidak sekedar mencetak individu pendakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, melainkan pesantren sebagai lembaga itu sendirilah yang berperan sebagai pendakwah, dan bahkan telah menjadi prototipe dakwah bi al-hal bagi masyarakat.

Pada tataran operasional manhaj dakwah yang dilakukan oleh santri bisa diklasifikasikan sebagai berikut: a) Dakwah bi al-kitabah yaitu berupa buku/kitab, website, akun-akun media sosial, majalah, surat, surat kabar, spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya, b) Dakwah bi al-lisan, meliputi ceramah, seminar, symposium, diskusi, khutbah, saresehan, brain storming, obrolan, dan sebagainya, termasuk dengan merekam materi-materi tersebut dalam bentuk audio-visual, dan c) Dakwah bi al-hal, yaitu berupa akhlak yang luhur, prilaku yang sopan sesuai ajaran Islam, memelihara lingkungan, dan lain sebagainya.

 Tantangan Dakwah Santri

Munculnya dai-dai yang tidak mempunyai kedalaman ilmu dan memahami agama dengan sepenggal-sepenggal menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pesantren. Karena galibnya mereka mempraktekkan dakwah dalam bentuk yang kaku dan gemar menghujat pihak lain. Mereka yang selalu merasa benar dan tidak mendalami fiqh al-ikhtilaf ini yang disebut oleh Gus Mus telah mengambil alih hak prerogatif Allah.

Celakanya, sebagian dai yang tidak mempunyai kedalaman ilmu agama ini banyak yang telah mencapai popularitas di masyarakat, baik melalui televisi, radio, maupun media sosial. Mereka ini yang disebut dengan dai entertainer yang perannya hanya sekedar menghibur, tidak ada substansi dakwah dalam penyampaian-penyampaian mereka.

Dakwah santri juga ditantang dengan munculnya para penceramah yang provokatif dan intoleran, serta memecah belah. Mereka biasanya populer karena pandai mencitrakan diri dengan, secara masif menonjolkan kehebatan dan sering hadir di komunitas perkotaan dengan bahasa yang mengena dengan komunitas tersebut. Mereka juga piawai memanjemen media sosial. Khalid Basalamah misalnya, seorang dai Salafi-Wahabi yang mempunyai akun Youtube dengan followers mencapai 151 ribu dan akun Facebook 93 ribu. Ia juga memiliki lebih dari 650 video yang telah di-upload di berbagai chanel media sosial. Tiap videonya telah ditonton oleh puluhan ribu.

Kenapa bisa demikian? Karena kemana pun Khalid Basalamah ceramah ada tim manajemen media sosialnya yang sigap meng-online-kan video ceramahnya di Youtube. Video ceramahnya juga bisa didownload dari websitenya, begitu pula dalam bentuk MP3 yang bisa didengarkan di mobil.

Khalid Basalamah ini tentu tidak sendiri, banyak dari kelompoknya yang juga menggunakan media sosial yang kekinian dalam dakwah provokatifnya. Nampaknya mereka mengambil ceruk yang selama ini belum tergarap dengan baik oleh kaum santri, yakni kelas menengah perkotaan, yaitu mereka yang lebih senang belajar melalui Youtube dan Google daripada ngaji di pesantren.

 Menciptakan Dakwah Kreatif 

Fenomena penyimpangan dakwah di atas tentu harus dijawab dengan, secara cermat memperhitungkan dan menerapkan pola-pola dakwah kreatif dan profesional. Fardhu ‘ain bagi santri untuk ‘arifan bi zamanihi dengan melaksanakan dakwah-dakwah kekinian, tidak hanya dakwah tradisional, tapi juga virtual. Santri harus menjadi generasi langgas yang moderat dan toleran, terutama di media massa dan media sosial. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan, baik melalui media sosial maupun media massa. Karena itu santri yang disiapkan menjadi dai harus memiliki kemampuan analisis interdisipliner dan sanggup berbicara sesuai dengan retorika, tingkatan bahasa dan kemampuan masyarakat.

Selain tetap mempertahankan pola dakwah tradisional, santri juga harus membekali diri dengan literasi dakwah melalui media massa dan media sosial. Media sosial membuat daya jangkau yang lebih luas pesan dan anjuran kebaikan yang disampaikan dalam dakwah para kyai dan santri. Dengan demikian pesan dakwah itu tidak hanya berputar pada jamaah yang terbatas. Hal ini karena dakwah melalui internet dapat diakses dengan mudah oleh ribuan bahkan jutaan orang. Tentu amat disayangkan jika potensi ini tidak dibaca sebagai peluang dakwah.

Harus ada upaya meningkatkan pola dakwah tradisional ke dakwah virtual yang memiliki daya jangkau publik yang lebih luas. Dengan demikian, sekali berdakwah dapat diikuti oleh ratusan ribu bahkan jutaan followers.

Karena itu mestinya dai santri rajin menggarap dengan serius, rekaman ceramah dalam bentuk podcast yang bisa didengarkan sambil jalan dan juga menyampaikan pesan utama lewat video dengan durasi tiga menit yang bisa dengan mudah di-share ke grup-grup WhatsApp.

Pergeseran pola dakwah ini merupakan penyesuaian atas kondisi mad’u yang merupakan generasi masyarakat digital, agar dapat menghasilkan kemasan dakwah yang benar-benar mampu memperbaiki dan maningkatkan semangat dan kesadaran yang tulus dalam mengaktualisasikan nilai-nilai hakiki ajaran Islam. Wallahu waliy al-tawfiq.
________________________


*M. Najih Arromadloni, alumni PP MUS Sarang dan Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. PW LTNNU JATIM

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dakwah Kekinian Kaum Santri"

Post a Comment

close