Pilih Santrinisasi Atau "Kebangkitan Islam"?!


Oleh: W. Eka Wahyudi

Tercatat sejak era 1990-an, gelombang islamisasi atau re-islamisasi di tanah air menemukan momentumnya. Fenomena ini, dibuktikan misalnya, dengan semakin menggeliatnya spirit penyematan nomenklatur “islam”. Antara lain, berdirinya lembaga atau organisasi yang menyuarakan aspirasi “umat islam” seperti Front Pembela Islam (1998), Majlis Mujahidin Indonesia (2000), Jamaah Anshorut Tauhid (2008), Forum Umat Islam (2005), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1990), Asuransi Islam (asuransi tafakul), Bank Syariah –dipelopori oleh Bank Mu’amalat-, atau lembaga-lembaga filantopri yang menjadikan islam sebagai basis gerakannya, misalnya Dompet Dhu’afa, Rumah Zakat, LazizNU (Nahdlatul Ulama), LazizMU (Muhammadiyah), Dewan Dakwah Infaq Club, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), sampai pada ranah fashion style semacam fenomena hijabers serta sederet busana syar’i lainnya.

Gegap gempita islamisasi di atas, di sambut bak perayaan yang menarik animo masyarakat islam, namun di sisi lain juga menyisakan ironi. Karena, tak sedikit kelompok yang apripori terhadap festival gerakan islam yang kian menjamur di Indonesia ini. Apa sebab? Karena tak jarang, gerakan ini ditunggangi oleh ideologi trans-nasional yang cenderung kurang simpatik terhadap karakter pribumi yang eksis sebelum “karnaval” ini berlangsung. Sehingga, perlu pemetaan yang jelas, mana gerakan santrinisasi dan seperti apa konstruksi yang membangun faham kebangkitan islam di Indonesia? Usaha ini penting dilakukan, agar lebih paham apakah bersifat politis atau kultural.

Terdapat satu titik temu antara santrinisasi dan kebangkitan islam –walaupun para peneliti luar negeri menyebut kedua istilah ini sama (Azra, 2014: 78)- , yaitu sebuah upaya untuk melaksanakan syariat islam (Islamic law enforcement). Namun, yang membedakan terletak pada spectrum gerakannya.

Misalnya, terminologi santri sampai saat ini masih menjadi trademark Nahdlatul Ulama (NU), sehingga menelusuri gerakan santrinisasi tak bisa dilepaskan dari strategi kelompok NU untuk membendung kolonialisme modernitas dan hegemoni budaya asing (baca: Barat dan Timur). Hal ini terbukti beberapa tahun terakhir, tepatnya sebelum moment Muktamar NU ke 33 di Jombang hingga saat ini, geliat eskavasi inteletual dengan menguak kembali kiprah dan karya ulama Nusantara oleh akademi NU menjadi gerakan yang penting. Tersebut nama anatara lain Ahmad Baso melalui buku-bukunya Pesantren Studies, Agama NU untuk NKRI, Islam Nusantara, dan Islam Pasca Kolonial telah berhasil menjadi nutrisi akademik yang sangat berarti dalam sejarah perjuangan santri di masa lampau. Adapun Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, sekaligus Masterpiece islam Nusantara-nya Zainul Milal Bizawie saat ini menjadi asupan intelektual penting dalam diskursus antara islam dan kebangsaan sekaligus bukti transmisi keilmuan antara kiai dan para ulama Timur Tengah. Belum lagi menyebutkan Mahakarya Ulama Nusantara-nya A Ginanjar Sya’ban,  Mastuki HS dengan Kebangkitan Santri Cendikia-nya, Munawir Aziz dengan karyanya Pahlawan Santri, serta spesialis profil ulama Nusantara Amirul Ulum dengan karya-karyanya semisal Syaikh Nawawi al-Bantani: Penghulu Ulama Hijaz, KH Muhammad Saleh Darat al-Samarani: Maha Guru Ulama Nusantara, Ulama Kharismatik Nusantara, Muassis NU dan Ulama-Ulama Nusantara yang Berpengaruh di Hijaz.
Dunia literasi, terutama perbukuan dan percetakan di Indonesia menjadi kian semarak saat kiprah para santri dan kiai turut di tulis untuk membuka mata sejarah. Santrinisasi dengan mengambil segmentasi publikasi ini, merupakan strategi cerdas untuk mendulang opini positif bahwa memori kolektif bangsa Indonesia perlu dijaga agar tidak keluar dari rel keislaman cum kebangsaan.

Di sisi lain, gerakan santrinisasi juga nampak dari inisiasi gerakan nasional Ayo Mondok oleh pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), semacam konsorsium pondok pesantren di bawah naungan NU. Gerakan ini, mengkampanyekan pentingnya belajar islam di pondok pesantren dengan gaya masa kini, seiring dengan kecenderungan pembelajaran islam via online yang berakibat dangkalnya pemahaman keagamaan. Pada posisi ini, santrinisasi mengambil segmentasi di dunia pendidikan.

Adapun di dunia virtual, saat ini jamak ditemukan jejak-jejak santri di dunia digital. Misalnya, Akun Instagram Santri (AIS) Nusantara, AlaNU, SantriOnline, KiaiKu, Santri Desain Community (SDC), NUtizen, dan lain sebagainya turut tampil untuk mengkampanyekan islam yang compatible dengan karakteristik Indonesia. Kesemuanya belum termasuk website-website yang dioperasikan oleh jebolan pondok pesantren.
Karakter santrinisasi ini, jika ditelusuri pola gerakannya lebih mengarah pada gerakan intelektual, tidak frontal, apresiatif terhadap tradisi dan kebudayaan. Sehingga, bisa dikategorikan bahwa gerakan ini lebih bersifat kultural.

Di lain pihak, upaya kebangkitan islam dewasa ini juga tak kalah gempitanya dalam menarik animo warga. Apa sebab? Tak lain karena ada yang mereka “jual”, yaitu isu. Permainan dan pemilihan kata yang mereka gunakan, telah sukses mendongkrak simpati publik untuk mendukung gerakannya. Penegakkan syariat islam, umat islam di tindas, umat islam jangan mau dibodohi, jihad konstitusi, NKRI bersyariah, pembela ulama merupakan frase yang berhasil membuat kalangan islam yang simpatik merasa dipersatukan dalam satu perjuangan. Yaitu menegakkan islam. Dan, jika dicermati, kalimat-kalimat pemantik perjuangan mereka, jamak bernuansa dan bermuatan politis. Sehingga, bukan hal yang mengherankan jika momentum pilkada yang salah satunya diikuti oleh non-muslim langsung mendapat tekanan yang hebat. Lalu, bagaimana dengan pemimpin muslim yang telah bertugas, isu kebangkitan PKI-pun dihembuskan jika lawan politik pemimpin berkuasa turut merangkul gerakan ini.

Gerakan ini, walapun terkategorikan sebagai gerakan politik, ia tetap merepresentasikan kebangkitan islam dengan pertimbangan kemampuan mereka memobilisasi massa melalui isu-isu sensitive yang memancing masyarakat islam sebagai satu saudara (ukhuwah islamiyah) tercederai. Namun, jika ditelisik lebih jauh, baik dari orasi, ceramah, buku dan artikel-artikel kelompok ini yang bertebaran di dunia maya selalu mengkritisi pemerintah dan kecenderunganya membenturkan dengan hukum-hukum islam. Hasilnya, kebangkitan yang mereka kobarkan tak lain adalah kebangkitan (politik) islam melalui bumbu-bumbu romantisme kejayaan masa lalu yang pada faktanya masih bersifat kontroversial bahkan inkonstitusional jika dipandang dalam perspektif kebangsaan.

Walhasil, gerakan islam merupakan usaha yang sangat baik untuk menjadikan agama Allah ini tetap bestari dan jaya. Namun, jika cita-cita penegakkan agama mengenyampingkan pilar-pilar kebangsaan bahkan kemanusiaan, maka ia ibarat membangun kerajaan di akhirat dengan mendirikan neraka di bumi. Islam melalui kalam-Nya yang bersifat qodim, jika ditransformasikan di dunia yang bersifat mukhdas (baru), pilihan paling rasionalnya harus menggunakan media. Dan media itu tak lain adalah kebudayaan dan tradisi.

___________________


W. Eka Wahyudi 
(Dosen Universitas Islam Lamongan, PW LTN NU Jatim dan Mahasiswa Penerima Program Beasiswa 5000 Doktor Kemenag RI bidang Pendidikan Islam Multikultural)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pilih Santrinisasi Atau "Kebangkitan Islam"?!"

Post a Comment

close