Filosofi Gondrongers: Antara Rocker dan Pendekar sakti


Oleh: Ahmad Karomi


Rambut memanjang, berperawakan sangar, menjadi trend tersendiri kala tahun 1960- akhir 1999an (pasca reformasi). Berpenampilan "Macak" gondrong tersebut, seakan-akan identik mengusung suara anti-kemapanan, ketidak-adilan, kharismatik, ketegasan sikap dan bahkan dianggap "jadug".

Memasuki awal tahun 1980, era The Beatles memang telah usai seiring dengan  tewasnya John lennon, akan tetapi kekuatan para penganut faham "gondrongers" masih tetap berjaya, diera itu masih ada Led Zepplin, Deep purple, Rush, The Doors, Rolling Stone yang bisa disebut "Legenda Musik" nan tangguh mewakili "suara hati" kaum marjinal. Selanjutnya era Metallica yang identik dengan uniform hitam dan anggukan kepala mengikuti irama. Bisa dikata 1980-1998 varian musik dari black metal, speed metal, underground, grunge, hingga muncul rock progresif yang diusung Collective soul memberikan warna serta wacana akan realitas yang terjadi saat itu. Lirik-lirik lagu gerombolan gondrong ini tajam, puitis, mantap,  menusuk, mengkritik apa-apa yang tidak pro rakyat. Tidak melulu masalah asmara.

Ada semacam "persamaan" visi-misi para penganut hobi rambut sebahu (bahkan sepunggung) ini, yakni mengekpresikan realita apa adanya tanpa tedeng aling-aling, jujur, terbuka. Salah satu teman doeloe di era Orde-baru pernah bilang: "Lebih baik gondrong  daripada berambut cepak, sebab gondrong cermin apa adanya, tanpa pura-pura, tanpa memoles penampilan. Sedangkan berambut cepak cermin pejabat yang suka ngutil duit rakyat". Entah faktor apa yang melatar belakanginya, sehingga terlontar sebuah "statement" itu.

Kesamaan visi-misi diatas, bila dipandang dari sudut pandang sosial yang ada, menjelaskan bahwa ada "ketidak adilan, ketimpangan, kekerasan, kelicikan" yang menguasai negeri ini. Sehingga rata-rata pemuda era itu cara protesnya adalah dengan diwakili "panjang rambut". Banyak dari kalangan tokoh pesantren  yang pernah nggondrong rambut, di antaranya Cak Nun, Gus Miek, Gus Mus (ketika di Lirboyo), Gus Maksum. Beliau-beliau gondrong memiliki jiwa pendekar sakti, pembela yang lemah layaknya Bu Kek Siansu dalam cersil Kho ping hoo. Mengapa sebagian pemuda Pesantren ikut-ikut gondrong?!. Seperti yang telah disinggung diatas, pemuda pesantren memiliki kepedulian pula akan tegaknya keadilan dan menentang penindasan. Hanya saja caranya mirip dengan Para pendekar cersil, yakni: Suka belajar dan suka bergaul dengan siapa saja. Suka beladiri, suka sastra dan suka membaca. Tak pelak produk pesantren melahirkan sederet tokoh ampuh: Budayawan, seniman, pendekar, politisi, bahkan Presiden.

Rocker gondrong mencoba mendobrak batas yang membelenggu kreatifitas anak muda dengan aliran musik yang dibawakannya. Sedangkan Santri gondrongers mencoba melawan ketidak-adilan dengan belajar apa saja; baik bela diri, ngaji, baca buku dan lain-lainnya. Dari kedua cara "dakwah" ini,  jika ditelisik lebih dalam lagi ternyata memiliki pesan bahwa "Ekspresi diri terbentuk sebab keadaan". Para pelaku gondrongers memiliki filosofi tersendiri bahwa " Gondrong adalah salah satu tips melatih kesabaran dan telaten menjawab tantangan zaman". Sabar di cap "urakan", telaten merawat "rambut" yang seringkali dihinggapi kutu-kutu zaman.

Akhir-Akhir ini banyak pelaku gondrongers hijrah ke "macak" cepak. Sebab pasca reformasi (tumbangnya Orba) terjadi transformasi menuju pencerahan meskipun masih banyak kekeruhan. Tiada lagi gondrongers berjiwa ksatria bak pendekar, penyuara hati rakyat. Seiring waktu bukan tidak mungkin menjadi kisah dongeng belaka.

Mengapa terjadi fenomena seperti itu? Apakah gondrong sudah tidak memiliki "pesona" lagi?! Siapapun akan menjawab singkat "wes gak usum" (tidak ngetrend). Bila dilihat dari trend, memang kita memiliki budaya "ngikut" kata sono. Padahal tiap daerah masing-masing memiliki corak tersendiri. Gondrong itu pilihan, bukan ikut-ikutan. Bahkan sejak zaman Nabi. Konon, Nabi Muhammad berambut sebahu dan tertata rapi. Tengok pula, banyak pemikir handal di ilustrasikan berambut gondrong.

Walhasil, torehan prestasi gondrongers dalam membentuk peradaban tidak bisa dilupakan begitu saja. Bilamana ada prilaku negatif dari mereka, itu wajar. Sebab itulah proses yang musti dilalui. Ambil sisi baik dari semangat positifnya, tinggalkan sisi negatifnya. Di zaman yang katanya "sangat modern" ini masih perlu adanya eksplorasi diri agar semakin terbentuk karakter yang mandiri. Gondrong atau cepak adalah simbol dan cermin diri. Alangkah tepatnya bila lahir berkesesuaian dengan batin (dzahir yadullu alal batin). Gondrong ataupun cepak, tetaplah berkarya, bermanfaat dan berguna bagi masyarakat sekitarnya.
________________________

Ahmad Karomi (Penikmat musik, buku dan kopi)





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Filosofi Gondrongers: Antara Rocker dan Pendekar sakti"

Post a Comment

close